LINTASJATIM.com, Surabaya – Ancaman kekeringan di Jawa Timur (Jatim) semakin meluas. Hingga Selasa (13/10/2026), sebanyak 25 kabupaten/kota telah menetapkan status keadaan darurat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kabupaten Magetan menjadi daerah terbaru yang menetapkan status darurat tersebut. Penambahan ini menunjukkan masih besarnya tantangan penanganan bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Jatim.
Dikutip dari detikJatim.com, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jatim, Satriyo Nurseno, menyampaikan bahwa jumlah daerah berstatus darurat kini mencapai 25 kabupaten/kota.
“Terbaru Magetan, total ada 25 kabupaten kota yang telah mengeluarkan status keadaan darurat kekeringan dan karhutla,” kata Satriyo, Selasa (13/10/2026).
Berdasarkan data BPBD Jatim, wilayah yang mengalami kekeringan meliputi Kabupaten Malang, Pasuruan, Situbondo, Sumenep, Mojokerto, Lumajang, Bondowoso, Lamongan, Banyuwangi, Bangkalan, Blitar, Trenggalek, Gresik, Jember, Sampang, Tulungagung, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Jombang, Bojonegoro, Probolinggo, Pamekasan, Magetan, serta Kota Batu.
Sementara itu, daerah yang juga menetapkan status siaga atau tanggap darurat karhutla meliputi Banyuwangi, Bangkalan, Lumajang, Kabupaten Pasuruan, Trenggalek, Kabupaten Malang, Jember, Kabupaten Mojokerto, Situbondo, Pacitan, Ponorogo, Kota Batu, Jombang, Kabupaten Probolinggo, dan Magetan.
Distribusi Air Bersih Capai Puluhan Juta Liter
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota bersama sejumlah pihak telah menyalurkan puluhan juta liter air bersih.
Satriyo menyebutkan, distribusi air bersih melalui pendanaan APBD Pemerintah Provinsi Jatim, APBD pemerintah kabupaten/kota, serta dukungan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari BUMD dan pihak swasta mencapai 29.924.850 liter.
Selain itu, Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Timur menyalurkan 7.138.735 liter air bersih ke 17 kabupaten/kota. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo juga mendistribusikan 1.092.000 liter air ke delapan daerah.
Meski bantuan terus disalurkan, dampak kekeringan masih dirasakan puluhan ribu keluarga. BPBD Jatim mencatat sebanyak 35.658 kepala keluarga (KK) atau 395.438 jiwa terdampak bencana tersebut.
Besarnya jumlah warga terdampak membuat pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi salah satu prioritas penanganan kekeringan di Jawa Timur.





