Guru Besar Minim, Riset Belum Kompetitif, LPTNU Jatim Rumuskan Agenda Besar Transformasi PTNU 2045

LINTASJATIM.com, Malang – Lembaga Pendidikan Tinggi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LPT PWNU) Jawa Timur bekerja sama dengan Universitas Islam Malang (Unisma) menggelar Sarasehan dan Focus Group Discussion (FGD) Pra Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang diikuti para pimpinan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) se-Jawa Timur pada hari Rabu (12/8).

Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk merumuskan rekomendasi dan arah kebijakan pengembangan PTNU dalam menyongsong Indonesia Emas 2045 sekaligus sebagai bahan masukan bagi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Mengusung tema “Transformasi PTNU 2045: Membangun Ekosistem Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama yang Unggul, Mandiri, Berdampak dan Mendunia,” forum menghadirkan dua narasumber nasional, yakni Prof. Dr. Mukhammad Najib, M.M., Direktur Kelembagaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, serta Dr. rer.pol. M. Faishal Aminuddin, M.Si., Sekretaris LPT PBNU.

Kegiatan ini membahas berbagai isu strategis yang menjadi tantangan sekaligus peluang pengembangan PTNU di masa depan. Para peserta secara aktif mendiskusikan enam agenda besar transformasi PTNU yang dinilai mendesak untuk ditata secara sistematis dan terintegrasi pada level nasional.

Isu pertama menyoroti penguatan kelembagaan dan badan hukum penyelenggara, yang menekankan pentingnya penataan struktur organisasi, penguatan Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi (BPP), pengembangan otonomi kampus, serta penguatan hubungan sinergis antara LPTNU dan pimpinan PTNU.

Pada aspek tata kelola, regulasi, dan penjaminan mutu, peserta mendorong harmonisasi statuta, penyusunan standar operasional prosedur akademik dan administrasi yang lebih adaptif, penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), serta integrasi nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dalam instrumen tata kelola perguruan tinggi.

Sementara itu, isu pengembangan sumber daya manusia dan kaderisasi akademik menitikberatkan pada strategi percepatan jabatan akademik dosen menuju Lektor Kepala dan Guru Besar, peningkatan kualifikasi dosen, penguatan kompetensi tenaga kependidikan, serta pembangunan sistem rekrutmen dan pembinaan talenta unggul di lingkungan PTNU.

Dalam bidang riset, publikasi, dan inovasi kolaboratif, forum menegaskan perlunya penguatan mutu penelitian, peningkatan produktivitas publikasi ilmiah bereputasi, hilirisasi produk inovasi, serta pengembangan kolaborasi riset antarkampus PTNU dan dunia industri untuk menghasilkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

Adapun pada isu pemeringkatan, reputasi, dan internasionalisasi, para peserta membahas strategi peningkatan posisi PTNU dalam klasterisasi Kemendiktisaintek, penguatan kinerja SINTA dan Webometrics, peningkatan sitasi publikasi ilmiah, serta pembentukan jejaring kemitraan internasional yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Forum juga memberikan perhatian khusus terhadap tata kelola kemahasiswaan, beasiswa, dan jejaring alumni, yang meliputi penguatan prestasi mahasiswa, pengembangan soft skills, perluasan akses beasiswa, kaderisasi mahasiswa berbasis nilai-nilai ke-NU-an, serta penguatan peran alumni sebagai mitra strategis pengembangan perguruan tinggi.

Direktur Kelembagaan Kemendiktisaintek RI, Prof. Dr. Mukhammad Najib, M.M., dalam paparannya menegaskan bahwa transformasi perguruan tinggi saat ini tidak cukup hanya berfokus pada aspek administratif dan akademik, tetapi juga harus mampu membangun ekosistem yang sehat, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak.

Menurutnya, penguatan tata kelola, mutu, serta daya saing menjadi kunci bagi PTNU untuk mengambil peran yang lebih besar dalam pembangunan bangsa.

Sementara itu, Sekretaris LPT PBNU, Dr. rer.pol. M. Faishal Aminuddin, M.Si., menekankan pentingnya membangun sinergi nasional antar-PTNU agar tidak berjalan sendiri-sendiri. Menurutnya, PTNU perlu bergerak sebagai satu ekosistem yang saling menguatkan dalam bidang kelembagaan, sumber daya manusia, riset, maupun internasionalisasi.

Ketua LPT PWNU Jawa Timur, Prof. Dr. Junaidi Mistar, Ph.D., dalam sambutannya menegaskan bahwa momentum Pra Muktamar harus dimanfaatkan untuk menyusun arah baru pengembangan PTNU yang lebih terintegrasi dan berdaya saing global.

PTNU tidak boleh lagi berkembang secara parsial dan sektoral. Kita membutuhkan desain besar ekosistem PTNU nasional yang mampu menghubungkan kekuatan kelembagaan, sumber daya manusia, riset, inovasi, kemahasiswaan, hingga jejaring internasional dalam satu arsitektur pengembangan yang terintegrasi. Dengan cara itulah PTNU dapat tumbuh menjadi kekuatan pendidikan tinggi yang unggul, mandiri, berdampak, dan mendunia,” tegas Prof. Junaidi.

Ia menambahkan bahwa Jawa Timur sebagai provinsi dengan jumlah PTNU terbesar di Indonesia memiliki tanggung jawab strategis untuk memberikan gagasan dan rekomendasi konstruktif bagi PBNU dalam merumuskan kebijakan pendidikan tinggi NU pada masa mendatang.

Melalui sarasehan dan FGD ini, LPT PWNU Jawa Timur bersama para pimpinan PTNU se-Jawa Timur berhasil menghimpun berbagai rekomendasi strategis yang akan disampaikan kepada PBNU sebagai bahan pertimbangan dalam agenda Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Rekomendasi tersebut diharapkan menjadi fondasi dalam membangun ekosistem PTNU nasional yang lebih kuat, terintegrasi, dan mampu menjawab tantangan global menuju tahun 2045.

Pos terkait