Naskah Khutbah Jumat 28 Agustus 2026 Bahasa Indonesia: Detik-detik Rasulullah Memaafkan Musuh

Ilustrasi padang pasir. Sumber foto: khutbahsingkat.com
Ilustrasi padang pasir. Sumber foto: khutbahsingkat.com

Materi khutbah Jumat 28 Agustus 2026 mengangkat kisah keteladanan Rasulullah SAW dalam memaafkan musuh, meski beliau pernah mendapatkan perlakuan buruk dari mereka.

Kisah Rasulullah SAW mengajarkan bahwa memaafkan merupakan akhlak mulia yang perlu diteladani. Sikap tersebut juga menjadi jalan untuk menjaga hati dari dendam dan kebencian.

Bacaan Lainnya

Melalui materi khutbah Jumat 28 Agustus 2026, jamaah diajak memahami pentingnya kesabaran, mengendalikan amarah, serta memberikan maaf kepada orang yang pernah menyakiti.

Naskah ini cocok menjadi referensi khatib dalam menyampaikan pesan tentang kemuliaan akhlak Rasulullah SAW sekaligus mengajak jamaah memperbaiki hubungan dengan sesama.

Materi khutbah Jumat 28 Agustus 2026 tersedia dalam bentuk PDF gratis. Naskah dapat langsung digunakan melalui tablet atau ponsel sehingga tidak perlu mencetak dokumen.

Bagi pengurus masjid, khatib, dan pembaca yang membutuhkan materi khutbah, naskah ini dapat menjadi pilihan untuk menyampaikan pesan keislaman yang penuh keteladanan.

Silakan bantu share materi ini ke grup relasi agar manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak pembaca dan jamaah yang membutuhkan referensi khutbah.

Materi khutbah Jumat 28 Agustus 2026 ini merupakan konten kerja sama dengan situs khutbahsingkat.com. Penulis dan sumber tetap perlu dicantumkan saat menggunakan materi.

KHUTBAH JUMAT PERTAMA

   اَلحَمْدُ لِلّهِ الوَاحِدِ القَهَّارِ، الرَحِيْمِ الغَفَّارِ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى عَلَى فَضْلِهِ المِدْرَارِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الغِزَارِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ العَزِيْزُ الجَبَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المُصْطَفَى المُخْتَار، صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد وَعَلَى آلِهِ الطَيِّبِيْنَ الأَطْهَار، وَإِخْوَنِهِ الأَبْرَارِ، وَأَصْحَابُهُ الأَخْيَارِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا تُعَاقِبُ اللَيْلَ وَالنَّهَار، 

أما بعد، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Jamaah yang Dirahmati Allah

Mungkin ada sebagian jamaah yang bertanya, mengapa pesan takwallah yakni menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya selalu diingatkan saat khatib ada di atas mimbar? Tentu saja hal ini memberikan pesan bahwa, betapa pentingnya peringatan tersebut dalam kehidupan kita.

Bahwa terjadinya penyimpangan dan ketidak-beresan selama ini, baik di rumah tangga, tempat kerja, hingga di ruang publik, semua karena lepasnya takwallah.

Kita tidak merasa dalam pengawasan dan pantauan Allah SWT, sehingga berani melakukan dosa dan kesalahan.

Karenanya, marilah kita tingkatkan takwallah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Hadirin Jamaah yang Berbahagia

Jika umat Islam ditanya, siapa teladan utama yang wajib diikuti, maka jawaban pertama yang harus terlontar adalah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Al-Qur’an menyebut akhlak Nabi sebagai akhlak yang agung (وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ). 

Nabi Muhammad-lah pembawa risalah yang diutus untuk menyempurnakan akhlak. Sehingga ketika Aisyah, ditanya tentang akhlak Rasulullah, maka menjawab dengan tegas: Akhlak Nabi adalah Al-Qur’an.

Jamaah Rahimakumullah

Oleh karena itu, dalam momentum Maulid Nabi Muhammad SAW kali ini, mari kita mencontoh salah satu sifat beliau yaitu sifat pemaaf. 

Hal ini bisa kita lihat pada peristiwa tahun 630 hijriyah. Saat itu perjanjian Hudaibiyah dilanggar kaum musyrikin Quraisy. Dengan dirusaknya perjanjian yang berisi kesepakatan untuk gencatan senjata tersebut, secara otomatis mengizinkan kaum muslimin mengadakan pembelaan lantaran mereka didzalimi.

Singkat cerita, atas perusakan perjanjian tersebut, Rasulullah bersama sepuluh ribu pasukan Muslim bergerak dari Madinah berjalan menuju Kota Makkah.

Melihat kekuatan tersebut, Abu Sufyan, dedengkot kafir Quraisy merasa khawatir akan kalah dengan pasukan Nabi Muhammad.

Hati Abu Sufyan semakin tercabik-cabik, jika dirinya kalah dengan umat Islam. Jabatan sebagai pemimpin tertinggi dan nyawanya pun seolah tak lagi berarti melihat kenyataan ia bakal dibinasakan, oleh orang-orang yang selama ini dia aniaya.

Jamaah Jumah Rahimakumullah

Apa yang terjadi ketika sepuluh ribu pasukan memasuki kota makkah? Betapa indah sikap Rasulullah beserta para pengikutnya.

Pembantaian yang dikhawatirkan kaum musyrikin Quraisy, sama sekali tidak terjadi. Tak ada satu pun darah yang menetes. Patung-patung berhala di sekitar Ka’bah dihancurkan, atas keinginan masyarakat sendiri.

Lebih indah lagi ketika Rasulullah SAW berpidato di hadapan semua penduduk: “Wahai penduduk Makkah, barangsiapa yang masuk ke dalam Masjidil Haram, dia akan dilindungi. Barangsiapa yang masuk ke dalam rumah Abu Sufyan, dia akan dilindungi.” 

Jamaah Jumah Rahimakumullah

Subhanallah, seketika itu Hati Abu Sufyan menjerit menyaksikan keagungan akhlak musuh bebuyutannya yaitu Nabi Muhammad.

Ternyata, orang yang paling dibenci selama ini, adalah orang yang paling memahami suasana batin Abu Subyan, yang sedang diselimuti ketakutan.

Pidato Nabi tak hanya membuatnya merasa aman, tapi juga kembali terangkat derajatnya karena merasa ‘disejajarkan’ dengan Masjidil Haram.

Abu Sufyan pun masuk Islam, disusul anggota keluarganya dan para pengikutnya yang lain. Bahkan, putranya, Muawiyah bin Abu Sufyan, beberapa saat kemudian diangkat oleh Nabi sebagai salah seorang pencatat wahyu. 

Peristiwa inilah kemudian disebut dengan fathu makkah (pembebasan Kota Makkah). Kekuatan politik yang mapan, sama sekali tak menjadikan Rasulullah bertindak semena-mena.

Padahal, bila mau, dengan kekuatan militer yang ada, Rasulullah bisa membinasakan mereka dalam waktu singkat. 

Rasulullah sama sekali bukan pendendam. Justru dengan kenyataan inilah orang melihat keluhuran Islam sebagai agama yang beradab, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, selaras dengan misi Nabi Muhammad diutus, yakni rahmatan lil ‘alamin yaitu sebagai penebar cinta bagi seluruh alam semesta.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Bila di pembukaan khutbah tadi disebutkan bahwa, akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an, maka sifatnya memang mengamalkan apa yang ada dalam Al-Qur’an:

 خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Artinya: Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (QS al-A’râf:199)  

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Perlu kita pahami bahwa, memaafkan bukan tanda kelemahan atau kekalahan. Sebab, maaf hanya bisa lahir dari jiwa-jiwa yang besar.

Dengan membuka pintu maaf yang demikian luas, Nabi justru hendak menunjukkan bahwa, pembalas dendam justru tak akan memperoleh kemuliaan. Hal ini sesuai sabdanya:

 وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

Artinya: Dan tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan. (HR Muslim)

Jamaah Jumat Rahimakumullah 

Maaf memang mudah dilontarkan di lisan, tapi sangat sulit dipraktikkan. Sebagian orang mungkin berpikir, bagaimana mungkin kita bisa memaafkan orang yang pernah menghina, melecehkan, menghujat, atau bahkan melakukan kekerasan kepada kita.

Jika kita masih punya pikiran demikian, maka harus kita ingat akhlak Rasulallah SAW. Kita harus ingat apa yang diajarkan Rasulallah kepada kita semua, agar menjadi orang yang pemaaf. Karena orang pemaaf akan diganjar dengan kemuliaan.

Coba kita renungkan sejenak, untuk apa kita dendam dengan seseorang, justru itu akan menambah tabungan dosa kita. Untuk apa kita membalas kejahatan orang lain, toh Allah sudah menyiapkan neraka bagi mereka.

Jika dalam hati kita masih terselip sifat dendam, kepada siapapun itu. Maka sesungguhnya kita sendiri yang membuka pintu-pintu neraka.

Oleh karena itu, mudah-mudahan dengan menghilangkan dendam, kita meniru akhlak pemaaf Nabi Muhammad SAW, kita semua termasuk umat yang dicintai beliau, sehingga kelak kita akan mendapat Syafa’atnya. Amin ya Robbal Alamiin. 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم  

KHUTBAH JUMAT KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا 

 أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ  

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. 

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Pos terkait