Harga Tinggi, Petani Jember Panen Cabai Lebih Cepat

Petani cabai di Jember pilih panen awal karena harga sedang tinggi. Sumber foto: www.detik.com
Petani cabai di Jember pilih panen awal karena harga sedang tinggi. Sumber foto: www.detik.com

LINTASJATIM.com, Jember – Petani cabai di wilayah Jember Selatan memanfaatkan lonjakan harga cabai merah dengan melakukan panen lebih awal dari jadwal normal.

Kenaikan harga yang tajam dinilai menjadi peluang terbaik bagi petani untuk menekan risiko kerugian di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.

Bacaan Lainnya

Dikutip dari detikJatim.com, di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wuluhan, harga cabai merah jenis sret di tingkat petani kini mencapai Rp45.000 per kilogram. Angka tersebut melonjak drastis dibandingkan awal Januari 2026 yang masih berada di kisaran Rp15.000 per kilogram.

Salah seorang petani, Puji Rahayu Ningsih, mengatakan keputusan memanen lebih cepat diambil agar petani tidak kehilangan momentum saat harga sedang tinggi. Meski usia tanaman belum ideal, ia memilih memetik cabai yang sudah layak jual.

“Daripada menunggu terlalu lama dan harga turun, lebih baik dipanen sekarang. Mumpung harganya sedang mahal,” ujar Puji saat ditemui di lahan pertaniannya, Minggu (1/2/2026).

Puji menuturkan, secara teknis tanaman cabai miliknya baru berusia sekitar dua bulan, lebih muda dari masa panen normal. Namun, kondisi cuaca ekstrem membuat risiko gagal panen semakin besar.

“Curah hujan tinggi membuat bunga mudah rontok. Kalau dibiarkan terlalu lama, hasilnya justru bisa berkurang,” katanya.

Kondisi tersebut juga diakui anggota Kelompok Tani Manunggal Tresno II, Hadi Suroso. Menurutnya, mahalnya harga cabai saat ini dipicu oleh berkurangnya pasokan akibat banyak petani enggan menanam cabai di musim penghujan.

“Sekarang lahan cabai di sini tinggal sekitar tiga hektare. Pasokan sedikit, sementara permintaan tetap ada, akhirnya harga naik,” jelas Hadi.

Ia menambahkan, sebagian besar petani di wilayahnya memilih beralih ke tanaman padi yang dinilai lebih aman dan minim risiko dibandingkan cabai.

“Cabai butuh perawatan ekstra dan biaya besar, terutama obat dan pupuk. Di musim hujan seperti ini, risikonya juga tinggi,” pungkasnya.

Pos terkait