LINTASJATIM.com, Sidoarjo – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menaruh perhatian serius terhadap kondisi tanggul penahan lumpur Lapindo di titik 10.D, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, yang dinilai semakin mengkhawatirkan dan berpotensi mengancam keselamatan masyarakat.
Dikutip dari detikJatim.com, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, kondisi tanggul saat ini tidak hanya berisiko terhadap permukiman warga, tetapi juga dapat berdampak pada jalur rel kereta api yang berada di sekitar kawasan tersebut apabila terjadi rembesan maupun luapan lumpur.
Menurut Emil, wilayah di sekitar tanggul juga termasuk kawasan dengan tingkat deformasi vertikal yang tinggi sehingga memiliki potensi ambles yang besar.
“Artinya kemungkinan terjadinya ambles itu sangat-sangat tinggi, dan ini sangat berbahaya,” ujar Emil, Minggu (26/7/2026).
Ia menegaskan, aspek keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama Pemprov Jatim dalam menyikapi kondisi tersebut. Pemerintah, kata dia, juga mulai mempertimbangkan berbagai solusi, termasuk kemungkinan relokasi bagi warga yang tinggal di zona berisiko.
Meski demikian, Emil mengakui relokasi bukan keputusan yang mudah karena menyangkut kehidupan masyarakat yang telah lama menetap di kawasan tersebut.
“Saya juga khawatir sama nasib warga, kita sebagai pemerintah harus punya empati. Pindah itu tidak gampang untuk warga. Ayo kita sembari nyari-nyari solusi, tapi jangan sambil nunggu masalahnya nambah, rumahnya beranak, nambah orang di sana, itu tambah susah. Jadi itu kita jaga dulu, status quo jangan sampai memburuk sembari mencari solusi,” tegasnya.
Di lapangan, kondisi tanggul tambahan di titik 10.D terlihat semakin kritis. Lebar bagian atas tanggul yang tersisa diperkirakan hanya sekitar 45 sentimeter, sementara permukaannya mulai dipenuhi retakan.
Tanggul yang dibangun menggunakan material campuran tanah dan lumpur tersebut juga berada sangat dekat dengan permukaan lumpur, dengan jarak sekitar 25 hingga 35 sentimeter. Tiga unit ekskavator telah disiagakan di lokasi sebagai langkah antisipasi, meski belum melakukan pekerjaan.
Sementara itu, aliran lumpur terus dialirkan menuju Sungai Porong melalui spillway di Desa Pejarakan, Kecamatan Jabon, sebagai upaya mengurangi volume tampungan lumpur di area tanggul.





