LINTASJATIM.com, Jember – Dedikasi Prof. Dr. KH. Abdul Halim Soebahar, M.A. dalam bidang keulamaan, pendidikan, akademik, dan kehidupan sosial mendapat apresiasi melalui penghargaan ‘The Religious Leadership, Education, and Social Harmony Award‘ dalam ajang Radar Jember Awards 2026.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam acara yang berlangsung di Convention Hall Letkol dr. R.M. Soebandi Jember, Kamis (20/8/2026). Penghargaan menjadi bentuk apresiasi atas perjalanan panjang Prof. Halim dalam mengabdikan ilmu sekaligus mendorong terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis.
Bagi Prof. Halim, kepemimpinan keumatan tidak cukup diwujudkan melalui kemampuan menyampaikan gagasan keagamaan. Seorang ulama juga dituntut hadir di tengah masyarakat, memahami persoalan umat, serta mampu menjadi penengah ketika muncul perbedaan.
Sebagai Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur sekaligus guru besar UIN KHAS Jember, Prof. Halim berada dalam ruang pengabdian yang bersentuhan dengan masyarakat dengan latar belakang sosial, budaya, tradisi, dan pemikiran yang beragam.
Menurutnya, keberagaman tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh. Perbedaan justru dapat menjadi kekuatan apabila dikelola melalui dialog, penghormatan, dan sikap saling memahami.
Dalam konteks tersebut, kepemimpinan keumatan membutuhkan lebih dari sekadar kecakapan intelektual. Keteladanan, kedewasaan dalam bersikap, serta kemampuan mendengarkan berbagai pandangan menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.
Perjalanan Prof. Halim memperlihatkan keterhubungan antara tradisi pesantren, pendidikan tinggi, organisasi keumatan, penelitian, dan kehidupan sosial. Tradisi keilmuan pesantren dipertemukan dengan tantangan masyarakat modern.
Pendidikan, dalam perspektif tersebut, tidak hanya berfungsi mencerdaskan manusia, tetapi juga membentuk pribadi yang berakhlak dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Ilmu pun tidak semestinya berhenti sebagai pengetahuan di ruang akademik. Ilmu harus mampu memberikan manfaat dan menjadi bagian dari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
Hal serupa berlaku dalam kepemimpinan. Amanah tidak semata-mata diukur dari jabatan, tetapi dari sejauh mana seorang pemimpin mampu memberikan arah, ketenangan, dan kemaslahatan bagi masyarakat.
Nilai tersebut semakin penting di tengah perubahan kehidupan sosial. Ketika perbedaan pandangan mudah berkembang menjadi gesekan, masyarakat membutuhkan figur yang mampu menjadi jembatan, bukan memperlebar jarak.
Kerukunan bukan berarti menghilangkan perbedaan. Kerukunan adalah kemampuan menerima keberagaman sekaligus membangun ruang bersama dengan tetap menjunjung sikap saling menghormati.
Karena itu, The Religious Leadership, Education, and Social Harmony Award dapat dimaknai lebih dari sekadar penghargaan personal. Pengakuan tersebut merefleksikan pentingnya kepemimpinan yang memadukan ilmu, pendidikan, pengabdian, dan harmoni sosial.
Perjalanan Prof. Halim juga menunjukkan bahwa semakin tinggi capaian seseorang dalam dunia keilmuan, semakin besar tanggung jawab sosial yang menyertainya.
Ilmu membutuhkan akhlak agar tidak berubah menjadi kesombongan. Kepemimpinan membutuhkan kerendahan hati agar tidak bergeser menjadi kekuasaan semata. Sementara keberagamaan membutuhkan kebijaksanaan agar mampu menghadirkan kedamaian.
Merawat umat pada akhirnya bukan sekadar mengajak masyarakat mengikuti sebuah gagasan. Lebih dari itu, merawat umat berarti menciptakan ruang agar setiap orang merasa dihargai, didengar, dibimbing, dan memiliki harapan.
Ilmu yang hidup adalah ilmu yang memberikan manfaat. Kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpinan yang mampu merangkul. Sementara keteladanan sejati terlihat dari kebaikan yang terus tumbuh setelah ilmu diwariskan.
Prof. Dr. KH. Abdul Halim Soebahar menapaki pengabdian tersebut dengan menjadikan ilmu sebagai pijakan, pendidikan sebagai jalan perjuangan, dan kerukunan sebagai salah satu tujuan utama.
Sebab, seorang ulama tidak hanya dikenang dari apa yang pernah disampaikan, tetapi juga dari kebaikan yang tumbuh setelah ilmunya diwariskan serta kedamaian yang lahir dari keteladanannya. (Rif)






