LINTASJATIM.com, Tulungagung – Pimpinan Cabang (PC) Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor Tulungagung berkomitmen mengembalikan budaya ngaji dampar (belajar di depan meja kecil khas pesantren) sebagai program kerja prioritas.
Langkah ini diambil guna membentengi intelektualitas kaum Nahdliyin dari tantangan paham di luar Ahlussunnah wal Jamaah.
Ketua PC MDS Rijalul Ansor Tulungagung, Agus M. Fahmi Arafat, mengungkapkan saat ini masyarakat cenderung lebih tertarik pada pengajian akbar yang bersifat seremonial.
Menurutnya, meski menyedot biaya besar, pengajian tersebut sering kali kurang memberikan dampak mendalam secara keilmuan. Sehingga semangat mengaji perlu digalakkan, terlebih di Bulan Ramadhan.
“Semangat kami adalah mengembalikan tradisi ngaji dampar yang telah terbukti mencetak banyak kiai besar. Secara pencapaian lebih terukur dan biayanya ekonomis, namun dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Gus Fahmi, Jumat (20/2/2026).
Beliau menjelaskan gerakan ini terinspirasi dari pesan para ulama sepuh, seperti Mbah Kiai Ali Shodiq Umman (Ngunut) dan pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, KH Abdul Karim.
“Pesan Mbah Manab (KH Abdul Karim) sangat jelas, yaitu ketika sudah pulang ke masyarakat, jangan lupa untuk ngedep dampar. Kalimat itulah yang memotivasi kami untuk menjadikan ngaji dampar sebagai pusat intelektual muslim,” tambahnya.
Tadarus Budaya dan Filosofi Keris
Selain pengajian kitab, Rijalul Ansor juga menggelar ‘Tadarus Budaya’ yang membedah filosofi keris. Gus Fahmi menilai keris bukan sekadar senjata, melainkan representasi jati diri dan doa bagi pemiliknya.
Hal ini selaras dengan prinsip tasawuf man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu (barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya).
“Di dalam keris terdapat makna mendalam yang saat ini kurang dipahami masyarakat. Melalui tadarus budaya ini, kami ingin mengembalikan roh tradisi lama sebagai wujud menjaga warisan yang baik (al-muhafazatu ala qadimis shalih),” jelasnya.
Adaptasi Digital
Meski menjaga tradisi lama, MDS Rijalul Ansor tidak menutup diri dari kemajuan zaman. Sesuai prinsip al-akhdu bil jadidil aslah (mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik), pengajian kini diadaptasi ke dalam format digital.
Gus Fahmi menegaskan substansi ngadep dampar kini tidak terbatas pada kehadiran fisik di majelis. Masyarakat dapat menyimak kajian melalui platform media sosial seperti TikTok dan Instagram.
“Secara substansi tetap ngadep dampar, namun jangkauannya lebih luas. Mengingat era digitalisasi yang pesat, kemajuan teknologi harus diambil sebagai sarana dakwah yang efektif,” tandasnya.





