LINTASJATIM.com, Tulungagung – Banyak cara yang bisa dilakukan memperingati Tasyakkur Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HMPS PAI) STAI Diponegoro Tulungagung menggelar kegiatan Megengan Kubro dan Ngaos Kitab.
Bertempat di Aula Kampus STAI Diponegoro Tulungagung, kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB ini mengangkat tema ‘Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia, Merawat Tradisi Menyambut Bulan Suci’.
Tema tersebut merefleksikan komitmen Program Studi dan mahasiswa PAI dalam menjaga nilai-nilai keislaman Ahlussunnah wal Jama’ah sekaligus memperkuat peran strategis generasi muda dalam membangun peradaban bangsa.
Acara ini dihadiri oleh dosen, mahasiswa, serta civitas akademika STAI Diponegoro Tulungagung. Momentum satu abad NU menjadi refleksi historis atas kontribusi besar Nahdlatul Ulama dalam perjuangan kemerdekaan, menjaga keutuhan NKRI, serta merawat tradisi keilmuan dan keagamaan di tengah dinamika zaman.
Sebagai inti kegiatan, dilaksanakan ngaos kitab Ma Dza Fi Sya‘ban karya Sayyid Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Abbas al-Māliki. Kajian ini menghadirkan Dr. M. Kholid Thohiri, M.Pd.I sebagai pemateri.
Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya memahami keutamaan bulan Sya’ban sebagai jembatan spiritual menuju Ramadan, sekaligus momentum memperkuat kualitas ibadah, akhlak, dan kepedulian sosial.
“Tradisi megengan bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk kearifan lokal yang sarat makna spiritual dan sosial. Ini adalah warisan ulama Nusantara yang harus terus dirawat,” beber Dr M. Kholid Tohiri, diterima penulis Senin (9/2/2026).
Kegiatan Megengan Kubro ini juga menjadi simbol sinergi antara nilai tradisi pesantren dan semangat akademik kampus. Melalui forum ini, mahasiswa diajak tidak hanya memahami teks keagamaan secara literal, tetapi juga menangkap pesan moral dan relevansinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan terselenggaranya acara ini, diharapkan semangat 1 Abad NU semakin menguatkan komitmen mahasiswa PAI sebagai generasi penerus yang moderat, berilmu, dan berkarakter.
Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata kontribusi kampus dalam menjaga tradisi keilmuan Islam yang rahmatan lil ‘alamin di tengah tantangan era disrupsi.
Selain menjadi ajang refleksi spiritual, kegiatan ini juga diisi dengan pembacaan doa bersama dan tradisi berbagi sebagai bentuk implementasi nilai sosial dalam megengan.
Suasana kekhidmatan tampak sejak awal hingga akhir acara. Para peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh antusias, terlebih saat sesi pengajian kitab yang dikemas secara dialogis dan kontekstual.
Beliau menjelaskan peringatan 1 Abad NU tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah. Menurutnya, satu abad perjalanan NU adalah bukti konsistensi jam’iyah dalam menjaga keseimbangan antara fikrah (pemikiran), harakah (gerakan), dan amaliyah (tradisi).
“NU telah membuktikan bahwa menjaga tradisi bukan berarti menolak perubahan. Justru dengan tradisi yang kuat, kita memiliki fondasi untuk menghadapi tantangan zaman secara arif dan bijaksana,” tegasnya.
Dikatakannya, tak lupa mengajak mahasiswa untuk menjadikan bulan Sya’ban sebagai momentum muhasabah diri dan penguatan spiritualitas, sekaligus memperkuat komitmen kebangsaan.
Sebab, menurut Kholid, karakter santri unggul tidak hanya ditandai oleh kedalaman ilmu, tetapi juga integritas moral dan tanggung jawab sosial. Momentum ini semakin relevan di tengah arus disrupsi digital yang seringkali membawa perubahan nilai dan pola interaksi sosial.
“Lewat Megengan Kubro dan Ngaos Kitab, mudah-mudahan mahasiswa mampu memadukan kedalaman tradisi pesantren dengan kecakapan akademik. Sehingga tetap kokoh dalam prinsip namun adaptif terhadap perkembangan zaman,” ungkapnya.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan peran strategis perguruan tinggi berbasis keislaman dalam merawat sanad keilmuan dan tradisi Aswaja an-Nahdliyah.
Di lingkungan kampus, tradisi mengaji kitab turats menjadi bagian penting dalam membentuk karakter intelektual yang tidak tercerabut dari akar historis dan kulturalnya.
Dengan semangat Tasyakkur 1 Abad NU, HMPS PAI STAI Diponegoro Tulungagung berharap kegiatan ini menjadi
“Pun sebagai penguat identitas ke-NU-an di kalangan mahasiswa serta menjadi inspirasi untuk terus menghadirkan Islam yang ramah, moderat, dan solutif bagi bangsa dan negara,” tandasnya. (jaz/red)





