LINTASJATIM.com, Trenggalek – Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Trenggalek sukses menyelenggarakan Latihan Kader Lanjutan (LKL) bagi perempuan muda Nahdliyin.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari di Gedung NU Trenggalek tersebut memfokuskan pada pendalaman materi serta penguatan jejaring antaranggota.
Ketua PC Fatayat NU Trenggalek, Ning Idamatul Khoiriyah, menjelaskan bahwa kegiatan ini mengusung tema ‘Nyala Cita Perempuan, Harmoni Khidmah Perjuangan’. Ia menyebutkan bahwa tema tersebut dipilih sebagai representasi semangat perempuan Trenggalek untuk maju dan bersinar secara kolektif.
“Harapannya, kita ingin maju dan menguat bersama. Bagaimana perempuan muda NU Trenggalek ini bisa menyala atau bersinar tanpa meredupkan orang lain,” ujar Ning Idamatul saat ditemui di lokasi kegiatan, Senin (26/01/2026).
Berbeda dengan rekrutmen biasa, LKL kali ini merupakan tahapan penguatan kader yang dilakukan secara selektif. Dari total hampir 60 pendaftar, panitia hanya meloloskan 40 peserta melalui proses skrining yang ketat.
Ning Idamatul memaparkan para peserta diwajibkan membuat esai mengenai Fatayat NU sebagai syarat administrasi sebelum menghadapi tahapan wawancara. Meskipun terdapat pendaftar dari luar daerah seperti Jawa Barat, Sidoarjo, dan Madiun, pihak panitia memutuskan untuk memprioritaskan kader lokal.
“Karena kuota kami sudah penuh, maka kami mengutamakan peserta dari Kabupaten Trenggalek,” tambahnya.
Output Kader Abad Kedua NU
Melalui pelatihan intensif ini, Fatayat NU Trenggalek menargetkan lahirnya kader yang memiliki kematangan ideologis serta ketangguhan dalam kepemimpinan. Hal ini dianggap krusial untuk memastikan keberlanjutan perjuangan organisasi di masa depan.
“Menyiapkan perempuan pemudi NU yang memiliki kematangan secara ideologis. Lalu memiliki ketangguhan dalam kepemimpinan dan siap melanjutkan khidmah NU di abad kedua,” ulasnya.
Ia menegaskan bahwa output yang diinginkan dari LKL ini adalah menyiapkan kader perempuan muda NU yang siap melanjutkan khidmah organisasi, khususnya dalam memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama.
Menurutnya, proses ini ibarat mendaki bersama untuk menggapai cita-cita organisasi tanpa meninggalkan satu sama lain.
“Mendaki tetapi menguat bersama maju bersama untuk menggapai cita-cita bersama,” tandasnya. (jaz/red)





