LINTASJATIM.com, Situbondo – Badan Pekerja Konferensi Cabang (Konfercab) PMII Situbondo telah terbentuk. Momentum demokrasi organisasi tersebut pun segera bergulir.
Namun, sebelum perdebatan tentang siapa yang layak memimpin, ada pertanyaan yang lebih penting untuk dijawab: apa yang sebenarnya sedang diperebutkan dalam Konfercab?
Jika yang dipertaruhkan adalah masa depan organisasi, maka gagasan seharusnya menjadi hal utama yang ditawarkan para kandidat. Sebaliknya, jika proses lebih banyak diwarnai kalkulasi dukungan, manuver politik, dan perebutan suara, demokrasi organisasi berisiko kehilangan substansinya.
PMII bukan organisasi yang miskin sejarah maupun kader. Organisasi ini tumbuh dari tradisi pemikiran, pergerakan, dan pergulatan gagasan. Karena itu, momentum Konfercab semestinya menjadi ruang bagi kader untuk menguji siapa yang paling siap membawa PMII Situbondo menuju arah yang lebih baik.
Konfercab bukan sekadar arena mencari dukungan. Konfercab seharusnya menjadi ruang adu gagasan.
Para kandidat perlu diuji dengan pertanyaan-pertanyaan substantif. Apa yang ditawarkan untuk memperbaiki sistem kaderisasi? Bagaimana menghidupkan kembali tradisi intelektual organisasi? Apa sikap terhadap persoalan sosial di Situbondo? Bagaimana arah PMII Situbondo menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks?
Kandidat tidak cukup hanya membawa nama besar, barisan pendukung, atau kedekatan dengan kelompok tertentu. Mereka harus datang dengan gagasan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sebab, organisasi tidak bergerak hanya karena jumlah pendukung. Organisasi membutuhkan arah, sedangkan arah lahir dari pemikiran yang matang, keberanian mengambil sikap, dan program yang mampu menjawab kebutuhan kader serta masyarakat.
Karena itu, kader PMII Situbondo perlu mengambil peran aktif dalam proses demokrasi organisasinya. Jangan memilih hanya karena ajakan. Jangan memberikan dukungan semata-mata karena kedekatan. Pilihan semestinya lahir setelah mengetahui dan menguji gagasan yang ditawarkan setiap kandidat.
Tanyakan gagasannya. Uji programnya. Kritik visinya.
Kader yang baik bukanlah kader yang mudah diarahkan, melainkan mereka yang mampu berpikir kritis dan menentukan sikap secara mandiri.
Konfercab kali ini juga harus menjadi momentum evaluasi. Jangan sampai demokrasi hanya ramai ketika pemilihan berlangsung, tetapi sepi ketika membahas gagasan. Jangan sampai pergantian kepemimpinan hanya mengubah figur, sementara persoalan organisasi terus diwariskan dari satu periode ke periode berikutnya.
Adu gagasan, bukan adu kekuatan.
Adu visi, bukan adu barisan.
Adu program, bukan adu kepentingan.
Demokrasi tidak semestinya hanya menjadi alat untuk memenangkan satu nama tanpa menguji kapasitas dan gagasannya. Jika demikian, yang dirayakan bukan lagi substansi demokrasi, melainkan sekadar kemenangan dalam sebuah kontestasi.
Kemenangan tanpa gagasan tidak akan membawa organisasi menuju perubahan yang berarti.
Menjelang Konfercab PMII Situbondo, demokrasi organisasi perlu dikembalikan pada substansinya. Berikan ruang kepada setiap kandidat untuk menyampaikan gagasan, lalu biarkan kader menguji kapasitas, visi, dan program yang ditawarkan.
Jangan jual demokrasi kalau takut adu gagasan.
PMII Situbondo tidak hanya membutuhkan seseorang yang mampu memenangkan Konfercab. Lebih dari itu, PMII Situbondo membutuhkan pemimpin yang mampu membawa organisasi memenangkan masa depannya.






