Dinkes Malang Fokus Imunisasi Massal Usai Temukan Kasus Campak

Ilustrasi penyakit campak. Sumber foto: www.halodoc.com
Ilustrasi penyakit campak. Sumber foto: www.halodoc.com

LINTASJATIM.com, Malang – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang meningkatkan kewaspadaan kesehatan masyarakat setelah menemukan kasus campak yang muncul di sejumlah wilayah permukiman.

Upaya imunisasi massal pun segera disiapkan sebagai langkah cepat menekan potensi penularan yang lebih luas.

Bacaan Lainnya

Dikutip dari detikJatim.com, berdasarkan data Dinkes Kota Malang, kasus campak terkonfirmasi terjadi di tiga kelurahan, yakni Buring dan Kedungkandang di Kecamatan Kedungkandang, serta Tanjungrejo di Kecamatan Sukun. Seluruh kasus tersebut diketahui saling berkaitan secara epidemiologis.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang, Miefta Eti Winindar, menjelaskan bahwa masing-masing wilayah mencatat lebih dari satu kasus dengan pola penularan yang saling berhubungan.

“Di Kelurahan Buring ada dua kasus positif dengan keterkaitan epidemiologi, begitu juga di Kelurahan Kedungkandang. Sementara di Kelurahan Tanjungrejo terdapat tiga kasus, dua di antaranya memiliki hubungan epidemiologi,” ujar Miefta Eti, Sabtu (31/1/2026).

Sebagai respons, Dinkes akan memusatkan pelaksanaan outbreak response immunization (ORI) campak di tiga kelurahan tersebut. Program ini bertujuan menghentikan rantai penularan sekaligus memperkuat kekebalan masyarakat dalam waktu singkat.

Menurut Miefta, ORI campak akan menyasar sebanyak 23.446 anak berusia sembilan bulan hingga kurang dari 13 tahun dan dijadwalkan mulai dilaksanakan pada awal Februari 2026.

“Imunisasi ORI ini diberikan tanpa melihat riwayat imunisasi sebelumnya, karena tujuannya untuk membentuk kekebalan dengan cepat dan mencegah penyebaran yang lebih luas,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Malang, dr. Husnul Muarif, menegaskan bahwa imunisasi massal juga menjadi strategi untuk mempercepat terbentuknya kekebalan kelompok atau herd immunity.

“Jika minimal 75 persen sasaran sudah tervaksinasi, maka risiko penularan bisa ditekan secara signifikan. Pelaksanaan imunisasi direncanakan pada 6 Februari 2026,” kata Husnul.

Ia menambahkan, penyebaran campak umumnya dipicu oleh beberapa faktor, seperti ketidaklengkapan imunisasi, kondisi gizi yang kurang optimal, serta lingkungan yang tidak sehat.

“Gejala campak biasanya diawali demam, kemudian muncul ruam khas di belakang telinga yang menyebar ke wajah hingga ke bagian punggung dan bahu, berupa bintik-bintik merah,” pungkasnya.

Pos terkait