LINTASJATIM.com, Probolinggo – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, mengakibatkan dua atap bangunan SDN Sumberkare 01 ambruk, Kamis (15/1/2026) sore. Insiden ini membuat tiga ruang kelas tidak dapat digunakan demi alasan keselamatan.
Dikutip dari detikJatim.com, peristiwa terjadi sekitar pukul 16.00 WIB, sesaat setelah aktivitas belajar mengajar selesai. Kondisi bangunan yang diduga sudah rapuh akibat kayu penyangga lapuk dimakan rayap memperparah dampak hujan yang berlangsung sejak siang hari.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut karena seluruh siswa dan guru telah meninggalkan sekolah. Namun, runtuhan atap menimpa berbagai fasilitas pendidikan, mulai dari meja, kursi, hingga perlengkapan belajar, sehingga mengalami kerusakan cukup berat.
Salah satu siswa, Syariva Zahra, mengaku kejadian itu membuat dirinya dan teman-temannya merasa takut.
“Kejadiannya sore hari setelah kami pulang. Hujannya sudah berhenti, tapi tiba-tiba atap kelas 2 dan 3 ambruk. Kami berharap cepat diperbaiki supaya sekolah aman, apalagi saat hujan besar,” ujarnya, Jumat (16/1/2026).
Untuk mengantisipasi risiko runtuhan lanjutan, petugas gabungan langsung memasang garis pembatas dan menutup area tiga ruang kelas yang terdampak agar tidak digunakan sementara waktu.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo, Heri Tjahjono, mengatakan bangunan sekolah tersebut memang sudah menunjukkan penurunan kualitas meski baru dibangun beberapa tahun lalu.
“Yang ambruk itu tiga kelas, satu di tengah dan dua di samping ikut terdampak. Kejadiannya sore, jadi tidak ada murid. Tidak ada korban, hanya kerusakan bangunan,” jelasnya.
Sebagai solusi sementara, kegiatan belajar siswa kelas 1, 2, dan 3 dialihkan ke ruang perpustakaan, ruang kepala sekolah, serta ruangan lain yang dinilai masih aman.
Heri menambahkan, pihaknya telah mengajukan revitalisasi dan relokasi gedung SDN Sumberkare 01 melalui program Kementerian Pendidikan RI.
“Tahun ini sudah kami usulkan dalam program revitalisasi pendidikan dasar dan menengah. Kami berharap bisa segera terealisasi,” katanya.
Meski tidak menelan korban, insiden tersebut meninggalkan trauma bagi para siswa. Mereka berharap pemerintah segera merealisasikan perbaikan agar proses belajar mengajar kembali berlangsung normal dan aman.






