LINTASJATIM.com, Surabaya – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Prof. Dr. H. Abdul Halim Soebahar, M.A., menyampaikan ucapan selamat Hari Radio Republik Indonesia (RRI) ke-81 Tahun 2026.
Prof. Halim menilai perjalanan 81 tahun RRI merupakan catatan panjang tentang perjuangan, eksistensi, dan pengabdian bagi Indonesia.
Menurutnya, usia 81 tahun bukan sekadar angka bagi sebuah lembaga penyiaran. Perjalanan tersebut menunjukkan proses panjang RRI dalam mempertahankan eksistensi sekaligus menjalankan pengabdian kepada masyarakat.
“Angka 81 bukan angka biasa, tetapi angka yang menunjukkan perjalanan panjang sebuah perjuangan, eksistensi dan sebuah pengabdian untuk Indonesia,” ujar Prof. Halim.
Ia berharap RRI mampu terus mempertahankan eksistensinya di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan perubahan pola masyarakat dalam memperoleh informasi.
Prof. Halim mengatakan media penyiaran publik tetap memiliki peran penting dalam menyediakan informasi yang dibutuhkan masyarakat. Karena itu, inovasi perlu terus dilakukan agar RRI dapat mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan fungsi pengabdiannya.
“Mudah-mudahan Radio Republik Indonesia selalu eksis dan selalu inovatif dalam rangka memberikan informasi, edukasi bagi masyarakat Indonesia,” harapnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran RRI dalam menghadirkan informasi dan edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Di tengah arus informasi yang semakin cepat, media yang mampu menyajikan informasi secara bertanggung jawab dinilai tetap dibutuhkan.
Bagi Prof. Halim, perjalanan panjang RRI membuktikan bahwa radio memiliki daya tahan sekaligus kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Eksistensi tersebut menjadi bagian dari pengabdian RRI kepada bangsa dan masyarakat.
Ucapan tersebut disampaikan Prof. Halim pada 11 September 2026 sebagai bentuk apresiasi atas perjalanan panjang RRI yang kini memasuki usia ke-81 tahun.
Ia berharap semangat pengabdian tersebut terus dipertahankan dan diwujudkan melalui berbagai inovasi di dunia penyiaran.
“Sekali mengudara, tetap mengudara untuk Indonesia,” pungkas Prof. Halim.





