MUI Jatim Serukan Istisqa Hadapi Kekeringan

Ilustrasi kekeringan. Sumber foto: www.detik.com
Ilustrasi kekeringan. Sumber foto: www.detik.com

LINTASJATIM.com, Surabaya – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mendorong keterlibatan umat Islam dalam menghadapi dampak kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah.

Langkah tersebut dituangkan dalam lima seruan yang disampaikan kepada MUI di 38 kabupaten/kota. Salah satunya menggerakkan pelaksanaan Salat Istisqa sebagai ikhtiar spiritual memohon turunnya hujan.

Bacaan Lainnya

Dikutip dari detikJatim.com, Sekretaris Umum MUI Jatim Hasan Ubaidillah atau Gus Ubed mengatakan Salat Istisqa diprioritaskan di wilayah yang terdampak kekeringan.

“Sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi kekeringan, MUI menginstruksikan kepada MUI Kabupaten/Kota se-Jawa Timur untuk pertama menggerakkan dan memfasilitasi pelaksanaan Salat Istisqa’ di wilayah masing-masing khususnya daerah yang terdampak kekeringan,” kata Gus Ubed, Kamis (10/9/2026).

Seruan kedua ditujukan kepada ulama, tokoh agama, pesantren, takmir masjid, organisasi kemasyarakatan Islam, serta seluruh elemen umat Islam. Mereka diajak melaksanakan Salat Istisqa dan memperbanyak doa agar hujan segera turun.

Selain ikhtiar melalui doa, MUI Jatim juga mendorong masyarakat mengambil langkah yang bersifat sosial dan praktis. Masyarakat diminta memperbanyak istighfar, doa dan sedekah sekaligus bijak menggunakan air.

“Ketiga mendorong masyarakat untuk memperbanyak istighfar, doa, sedekah, serta menjaga dan menghemat penggunaan air,” jelas Gus Ubed.

Seruan berikutnya berkaitan dengan penanganan warga yang terdampak. MUI kabupaten/kota diminta memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, BPBD, BAZNAS, dan lembaga terkait.

Sinergi tersebut diarahkan untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar selama kekeringan, terutama ketersediaan air bersih.

“Kelima menyesuaikan waktu dan teknis pelaksanaan dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing daerah,” tandasnya.

Kekeringan tahun ini telah berdampak terhadap 36.091 kepala keluarga (KK) di Jawa Timur. Kondisi tersebut terjadi di tengah masih berlangsungnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.

Pemprov Jatim bersama pemerintah kabupaten/kota terus melakukan penyaluran air bersih ke daerah yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air akibat kemarau.

Pos terkait