SMKN 3 Bondowoso Kembangkan Motor BBG, Klaim Tembus 245 KM

SMKN 3 Bondowoso Tawarkan “Hijrah” ke BBG.
SMKN 3 Bondowoso Tawarkan “Hijrah” ke BBG.

LINTASJATIM.com, Bondowoso – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah Bondowoso mendorong munculnya berbagai gagasan alternatif. Salah satunya datang dari SMKN 3 Bondowoso melalui inovasi konverter bahan bakar gas (BBG) yang dikembangkan siswa Jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM).

Inovasi tersebut ditawarkan sebagai alternatif bagi masyarakat di tengah kesulitan mendapatkan BBM. Kepala SMKN 3 Bondowoso, Daris Wibisono Setiawan, mengajak masyarakat melihat peluang penggunaan BBG sebagai bahan bakar yang dinilai lebih efisien.

Bacaan Lainnya

Menurut Daris, siswa TSM SMKN 3 Bondowoso telah mampu merancang sepeda motor hybrid yang dapat menggunakan dua jenis bahan bakar, yakni BBM dan BBG. Kendaraan tersebut dapat beralih dari BBM ke BBG sesuai kebutuhan.

“Peserta didik kami dari jurusan Teknik Sepeda Motor bisa merancang sepeda motor hybrid, bisa menggunakan BBM dan bisa menggunakan BBG yang sangat irit. Jadi jarak tempuh sepeda motor yang menggunakan BBG bisa mencapai 245 kilometer, sehingga sangat efektif dan efisien,” ujar Daris dalam konferensi pers, Selasa (8/9/2026).

Daris mengatakan, inovasi tersebut lahir dari upaya sekolah menghadirkan pembelajaran yang tidak berhenti di ruang kelas. Kompetensi siswa melalui pendidikan vokasi diarahkan untuk menjawab persoalan yang ditemukan di lingkungan masyarakat.

Menurutnya, kelangkaan BBM tidak semestinya hanya dipandang sebagai persoalan, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk mendorong pemanfaatan teknologi alternatif hasil karya siswa sekolah kejuruan.

“Masyarakat saatnya beralih menggunakan BBG karya siswa SMKN 3 Bondowoso yang terbukti sangat hemat dan ramah lingkungan,” tegas Daris.

Konverter yang dikembangkan siswa menggunakan tabung LPG 3 kilogram sebagai sumber BBG. Sistem tersebut dirancang dengan konsep double fuel, sehingga kendaraan masih dapat menggunakan BBM sekaligus BBG.

Daris menjelaskan, pemasangan perangkat dilakukan tanpa mengubah struktur utama mesin kendaraan. Proses instalasi juga disebut relatif mudah sehingga kendaraan dapat dioperasikan menggunakan BBG maupun BBM.

“Sepeda ini super hemat, jarak tempuh tembus 245 kilometer, ramah lingkungan, dan instalasinya sangat mudah,” imbuhnya.

Dari sisi biaya, pihak sekolah menyebut pemasangan konverter membutuhkan anggaran sekitar Rp1,1 juta. Biaya tersebut mencakup perangkat konversi, box untuk menempatkan tabung, serta tabung LPG.

Sekolah juga membuka ruang konsultasi dan pendampingan teknis bagi masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai teknologi tersebut.

Inovasi itu mendapat respons dari masyarakat yang telah mencoba penggunaan BBG pada kendaraan. Salah satunya Eni Febrianti yang mengaku tertarik menggunakan BBG sebagai alternatif di tengah kondisi pasokan BBM.

“Kelangkaan BBM saat ini harus kita sikapi secara kreatif dan cerdas. Maka saya beralih ke BBG sebagai solusi cerdas jangka panjang,” ujar Eni.

Pengalaman serupa disampaikan Ervan Pandu, guru Teknik Body Kendaraan Ringan (TBKR) SMKN 3 Bondowoso. Ia menyebut penggunaan BBG pada kendaraannya memberikan efisiensi untuk aktivitas sehari-hari.

“Saya sudah pakai lama. Perjalanan setiap hari dari Jember ke SMKN 3 Bondowoso terbukti sangat irit dan murah, seminggu sekali baru ganti BBG,” ungkap Ervan.

Meski demikian, inovasi tersebut tidak hanya diarahkan menjadi solusi sementara saat BBM langka. SMKN 3 Bondowoso melihat teknologi konverter sebagai bagian dari pembelajaran vokasi yang berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat.

Melalui karya tersebut, siswa tidak hanya mempelajari mesin dan sistem pembakaran, tetapi juga ditantang menghasilkan teknologi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Daris menilai kemampuan siswa menghasilkan inovasi menjadi bukti bahwa pendidikan kejuruan memiliki peran strategis dalam menjawab persoalan masyarakat.

Sekolah, kata dia, tidak hanya menjadi tempat memperoleh ijazah, tetapi juga ruang lahirnya teknologi tepat guna yang berangkat dari persoalan di lingkungan sekitar.

Di tengah kebutuhan masyarakat terhadap kepastian energi untuk menunjang mobilitas, alternatif BBG yang dikembangkan siswa SMKN 3 Bondowoso menawarkan perspektif berbeda. Kreativitas dan kompetensi siswa dapat menjadi bagian dari solusi ketika pasokan energi menghadapi persoalan.

Meski klaim efisiensi hingga 245 kilometer sekali isi menjadi daya tarik utama inovasi tersebut, penerapan teknologi konversi bahan bakar tetap membutuhkan perhatian terhadap keselamatan, standar teknis, kelayakan kendaraan, serta ketentuan penggunaan LPG untuk kendaraan.

Karena itu, pengembangan inovasi tidak cukup hanya dengan kemampuan membuat perangkat. Pengujian, pendampingan teknis, dan penerapan standar keselamatan juga diperlukan sebelum teknologi digunakan secara lebih luas.

SMKN 3 Bondowoso terus mendorong agar karya siswa tidak berhenti sebagai proyek pembelajaran, tetapi dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Inovasi konverter BBG tersebut menunjukkan bagaimana sekolah kejuruan dapat mengambil peran ketika masyarakat menghadapi persoalan konkret.

Di tengah kelangkaan BBM, SMKN 3 Bondowoso mengajak masyarakat melihat peluang, bukan sekadar menunggu pasokan kembali normal, tetapi mulai mempertimbangkan alternatif energi melalui karya siswa SMK.

Bagi sekolah, inilah salah satu bentuk pendidikan vokasi: belajar dari persoalan, mengubahnya menjadi inovasi, kemudian menguji sejauh mana karya tersebut mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. (Rif)

Pos terkait