LINTASJATIM.com, Bondowoso – Presiden Mahasiswa Universitas At-Taqwa Bondowoso, Fionaldo Alfindani, menegaskan kampus bukan hanya tempat mengejar prestasi akademik, tetapi juga ruang mahasiswa mengasah keberanian, kepedulian sosial, dan kepemimpinan.
Hal itu disampaikan dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PK2MB) Universitas At-Taqwa Bondowoso 2026. Fionaldo mengajak mahasiswa baru aktif berorganisasi dan berani mengambil peran dalam berbagai persoalan masyarakat.
Penegasan tersebut sejalan dengan pernyataan Rektor Universitas At-Taqwa Bondowoso, Dr. Agus Fawaid, M.Pd.I, yang menyebut organisasi mahasiswa, baik intra maupun ekstra kampus, sebagai bagian penting dalam proses pengembangan kemampuan mahasiswa.
“Proses ketika Anda ada di kampus ini, pertama, ikuti perkuliahan dengan baik dan benar. Yang kedua, Anda perlu di situ membangun kemampuan diri melalui bergabung dengan kegiatan-kegiatan organisasi, baik itu intra ataupun ekstra,” ujar Agus Fawaid.
Saat menjelaskan organisasi ekstra kampus, Agus secara khusus menyebut Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai organisasi yang menjadi bagian dari proses mahasiswa di Universitas At-Taqwa Bondowoso.
“Ketika berbicara ekstra, Yayasan At-Taqwa Bondowoso beberapa kali saya mendengarkan itu dan saya menyaksikan itu, yang diridai di Universitas At-Taqwa Bondowoso, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Ini adalah bagian-bagian dari proses,” ungkapnya.
Agus mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya datang ke kampus untuk mengikuti perkuliahan kemudian pulang. Menurutnya, mahasiswa perlu memanfaatkan masa kuliah untuk mengembangkan kapasitas melalui organisasi.
“Jangan Anda kemudian menjadi mahasiswa kupu-kupu, datang kampus pulang selesai. Tidak demikian. Tapi asah kemampuan Anda melalui organisasi intra ataupun ekstra,” tegasnya.
Ajakan tersebut mendapat penegasan dari Fionaldo yang juga merupakan kader PMII Rayon Rabi’ah Al-Adawiyah Komisariat RBA Universitas At-Taqwa Bondowoso.
Menurut Fionaldo, mahasiswa harus memandang masa perkuliahan sebagai proses pembentukan diri. Gelar akademik, kata dia, bukan satu-satunya tujuan yang harus dicapai selama menjadi mahasiswa.
“Menjadi mahasiswa bukan hanya rajin kuliah, tapi juga berani bersuara, berani menegakkan keadilan, ikut andil dalam setiap isu kemasyarakatan, harus sakit hati ketika melihat ketimpangan,” ujar Fionaldo.
Ia menilai mahasiswa harus mampu memberikan dampak bagi masyarakat, terutama ketika berhadapan dengan persoalan ketidakadilan dan ketimpangan sosial.
“Harus selalu siap sedia menyambung lidah rakyat, berpihak kepada masyarakat yang tertindas. Kampus At-Taqwa ini kampus pergerakan,” tegasnya.
Fionaldo merupakan mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah Angkatan I asal Kabupaten Pamekasan, Madura. Ia dipercaya menjadi Presiden Mahasiswa Universitas At-Taqwa Bondowoso dengan latar belakang proses kaderisasi di PMII.
Baginya, organisasi ekstra kampus menjadi ruang untuk memperluas pengalaman dan mengasah kemampuan di luar bangku perkuliahan. Semangat pergerakan, menurutnya, juga diwujudkan melalui keberanian membaca serta merespons persoalan masyarakat.
Sementara itu, Agus menekankan pentingnya keseimbangan antara aktivitas organisasi dan kewajiban akademik. Keaktifan berorganisasi tidak boleh menjadi alasan mahasiswa mengabaikan perkuliahan.
Ia juga mengingatkan mahasiswa baru agar memiliki niat yang tepat ketika menempuh pendidikan tinggi. Kuliah tidak semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus, tetapi juga menjadi proses mengembangkan diri dan membangun semangat pengabdian.
“Hari ini yang dibutuhkan di Indonesia adalah bukan hanya sekadar orang yang cerdas secara logika, tapi orang yang gemar mengabdi,” ujarnya.
Agus juga mengungkapkan bahwa dirinya memiliki pengalaman sebagai kader PMII. Ia pernah berproses di PMII Komisariat At-Taqwa ketika institusi tersebut masih bernama STAI At-Taqwa.
Dalam video yang beredar pada 6 September 2026, Agus bahkan mengajak mahasiswa baru bergabung dengan PMII.
“Saya selaku Rektor Universitas At-Taqwa Bondowoso mengajak kepada seluruh mahasiswa baru Universitas At-Taqwa Bondowoso untuk bergabung bersama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Jika kalian ingin hebat, ingin sukses, ingin keren, bergabunglah bersama PMII. Insya Allah PMII akan mengantarkanmu sehebat mimpimu. Salam pergerakan,” ucapnya.
Bagi Fionaldo, semangat pergerakan harus diterjemahkan melalui keberanian berkarya dan mengambil sikap terhadap persoalan sosial. Mahasiswa juga didorong tidak takut memiliki mimpi besar maupun berbeda dalam gagasan.
“Sekali bendera dikibarkan pantang untuk diturunkan, hentikan ratapan dan tangisan. Mundur satu langkah adalah bentuk suatu pengkhianatan,” tegas Fionaldo.
Rangkaian PK2MB Universitas At-Taqwa Bondowoso 2026 yang berlangsung 4–6 September menjadi momentum pengenalan kehidupan akademik sekaligus kultur kemahasiswaan yang ingin dibangun.
Melalui pembekalan tersebut, mahasiswa baru didorong tidak berhenti menjadi pembelajar di ruang kelas. Mereka diharapkan aktif berorganisasi, meningkatkan kapasitas, peduli terhadap masyarakat, dan berani mengambil peran.
Penegasan rektor mengenai PMII serta pesan Presiden Mahasiswa tentang identitas kampus pergerakan menunjukkan organisasi menjadi salah satu ruang penting dalam pembentukan karakter dan kepemimpinan mahasiswa Universitas At-Taqwa Bondowoso.
Kampus pergerakan pada akhirnya bukan sekadar label, melainkan tuntutan agar mahasiswa mampu menyeimbangkan intelektualitas, organisasi, pengabdian, keberanian bersuara, dan tanggung jawab sosial.





