LINTASJATIM.com, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan sejumlah langkah menghadapi kemarau panjang yang memicu kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla).
Data Pemprov Jatim mencatat luas lahan yang terbakar selama musim kemarau 2026 mencapai 3.834,35 hektare. Di sisi lain, kekeringan telah melanda 24 kabupaten/kota di wilayah Jawa Timur.
Dikutip dari detikJatim.com, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan pemerintah daerah tengah berkoordinasi untuk memungkinkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan peluang turunnya hujan.
“Jadi OMC saat musim hujan itu, kita ketemu awan lalu kita lakukan operasi modifikasi cuaca sehingga hujannya di laut, kalau awan sudah terlanjur awannya ke darat, OMC itu memecah konsentrasi awan tidak terkonsentrasi di satu titik,” ujar Khofifah dalam keterangannya, Minggu (6/9/2026).
Menurut Khofifah, rencana pelaksanaan OMC sebenarnya telah dibahas sejak Juli 2026. Namun, kondisi atmosfer dan keberadaan awan saat itu belum mendukung pelaksanaan operasi tersebut.
Memasuki awal September, peluang pelaksanaan OMC mulai terbuka. Pemerintah memperoleh informasi adanya potensi awan yang dapat dimodifikasi untuk menghasilkan hujan.
“Hari ini sebaliknya, beberapa hari lalu, kita mendapatkan informasi kemungkinan sudah ada yang bergerak, jadi bisa lakukan OMC, maka awan yang masuk ke daratan itu bisa turun menjadi hujan,” jelasnya.
Di tengah kondisi tersebut, Khofifah juga mengajak masyarakat melakukan berbagai ikhtiar untuk menghadapi kemarau. Salah satunya melalui pelaksanaan salat istisqa sebagai bentuk doa memohon turunnya hujan.
“Oleh karenanya, kalau komunitas yang memungkinkan untuk bisa menyegerakan salat istisqa’ akan menjadi sangat baik, karena salat istisqa’ adalah ibadah untuk memohon pada Allah agar segera menurunkan hujan,” tuturnya.
Selain berupaya mendatangkan hujan, Pemprov Jatim memastikan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat tetap menjadi perhatian. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim terus menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah yang terdampak kekeringan.
Khofifah menyebut distribusi air dilakukan sebagai bentuk dukungan pemerintah kepada warga yang kesulitan memperoleh pasokan air selama musim kemarau.
“Kita memberikan substitusi support supply air karena memang kekeringan yang terjadi pada musim kemarau yang cukup ekstrim dan panjang berdampak pada pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat,” katanya.
BPBD Jatim, lanjut Khofifah, telah menyiapkan sejumlah skema distribusi untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan air bersih.
“Oleh karena itu, BPBD Provinsi Jatim sudah menyiapkan berbagai format penjangkauan untuk bisa memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat,” tandas Khofifah.





