LINTASJATIM.com, Jember – Periode 1966–1998 menjadi salah satu fase penting sekaligus kelam dalam perjalanan sejarah Indonesia. Selama 32 tahun pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, berbagai peristiwa kekerasan, pembungkaman, dan pelanggaran kemanusiaan terjadi di tengah kuatnya kontrol kekuasaan.
Buku “Mereka Hilang Tak Kembali” karya Aristayanu Bagus, As Rimbawana, Deby Hermawan, dan Putro Warista mengajak pembaca menelusuri kembali sejumlah peristiwa tersebut melalui fakta, konteks sejarah, dan kesaksian.
Buku ini tidak sekadar menyajikan angka dan fakta mengenai kekerasan. Penulis berupaya mengungkap konteks sejarah yang melatarbelakangi berbagai peristiwa dengan menyusun pembahasan secara kronologis, lengkap dengan waktu kejadian serta kesaksian korban dan saksi mata.
Penyajian tersebut membuat pembaca tidak hanya memperoleh informasi historis, tetapi juga diajak memahami bagaimana kekerasan dan penindasan dapat berlangsung ketika kekuasaan, aparat, serta kepentingan politik berkelindan dalam situasi dengan kontrol hukum yang terbatas.
Salah satu pembahasan penting dalam buku ini berkaitan dengan peristiwa Gerakan 30 September yang dalam perkembangan narasi politik kemudian dikenal sebagai Gerakan 30 September/PKI.
Buku tersebut mengajak pembaca melihat bagaimana pelabelan itu berkelindan dengan pembentukan opini publik dan berbagai tindakan kekerasan yang terjadi setelahnya. Perspektif ini menjadi penting, terutama bagi generasi muda, agar sejarah tidak dipahami secara sederhana hanya melalui satu narasi.
Kekuatan “Mereka Hilang Tak Kembali” terletak pada keberaniannya mengangkat fakta dan kesaksian mengenai pembantaian, penindasan, penghilangan, hingga kekerasan seksual yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari sejarah Indonesia yang kontroversial dan sensitif.
Dari sisi bahasa, buku ini relatif mudah dipahami sehingga dapat menjadi bacaan bagi pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang ingin mengenal lebih jauh sejarah kelam Indonesia.
Meski demikian, sejumlah bagian menyajikan data dan uraian yang cukup padat. Kondisi tersebut membuat pembaca perlu memberikan konsentrasi lebih untuk memahami setiap pembahasan. Beberapa istilah dan informasi historis juga dapat terasa berat bagi pembaca yang baru mengenal isu tersebut.
Secara keseluruhan, “Mereka Hilang Tak Kembali” layak dibaca sebagai bahan refleksi sejarah. Buku ini mengingatkan bahwa kekerasan pernah menjadi bagian dari perjalanan bangsa sekaligus menegaskan pentingnya menjaga ingatan, memperjuangkan keadilan, dan menghormati martabat manusia.
Identitas Buku
Judul: Mereka Hilang Tak Kembali
Penulis: Aristayanu Bagus, As Rimbawana, Deby Hermawan, Putro Warista
Penerbit: Buku Mojok Group
Cetakan: V, April 2026
Tebal: 212 halaman
ISBN: 978-623-5280-23-3





