LINTASJATIM.com, Bondowoso – Semangat para pelajar untuk berani bermimpi dan menembus batas mewarnai hari kedua Pameran dan Festival Literasi Bondowoso 2026 melalui kegiatan bedah buku Breaking the Ceiling karya dr. Celline Wijaya, MMSc., Selasa (28/7/2026). Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Bondowoso itu diikuti ratusan pelajar, mahasiswa, guru, dan pegiat literasi.
Acara yang berlangsung pukul 09.00–11.30 WIB mendapat sambutan antusias. Bahkan sejak pukul 08.00 WIB, peserta telah memadati meja registrasi untuk mendapatkan 100 eksemplar buku Breaking the Ceiling yang dibagikan secara gratis oleh panitia.
Buku terbitan Gagas Media tahun 2026 tersebut mengisahkan perjalanan hidup penulisnya, dr. Celline Wijaya, seorang dokter asal Jember yang kini menetap di Surabaya. Melalui buku itu, ia mengajak pembaca untuk berani melampaui keterbatasan dan terus mengejar cita-cita.
Bedah buku dipandu Mohammad Hairul, M.Pd., Instruktur Nasional Literasi Baca-Tulis sekaligus Kepala SMPN 1 Curahdami. Ia membuka acara dengan mengutip kalimat inspiratif dari Pramoedya Ananta Toer yang disambut tepuk tangan para peserta.
“Tahukah kau mengapa ku cintai kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu tak hilang ditelan angin. Akan abadi sampai jauh, jauh ke masa yang akan datang,” ujar Hairul.
Dalam paparannya, dr. Celline mengaku memiliki kedekatan emosional dengan Bondowoso sehingga merasa pesan dalam bukunya relevan bagi para pelajar yang hadir.
“Saya percaya setiap anak memiliki kesempatan untuk menembus batasnya masing-masing. Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi selama kita mau belajar, berusaha, dan tidak mudah menyerah,” ujarnya.
Ia kemudian membagikan kisah perjalanannya yang berhasil masuk Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada usia 15 tahun melalui program akselerasi, hingga melanjutkan pendidikan magister di Harvard University.
“Saat masih sekolah, saya pernah memenangkan lomba debat bahasa Inggris di Surabaya dan mendapat kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke Australia. Dari pengalaman itu saya belajar bahwa keberanian mencoba akan membuka banyak pintu kesempatan,” katanya.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, Taufan Restuanto, S.Pd., M.Si., yang hadir sebagai penanggap pertama, menilai buku Breaking the Ceiling menyampaikan pesan kuat agar generasi muda tidak takut menetapkan cita-cita setinggi mungkin.
“Ceiling atau langit-langit adalah simbol batas yang sering kita ciptakan sendiri. Tugas kalian adalah berani menembus batas itu dengan belajar, bekerja keras, dan tidak mudah menyerah,” ungkap Taufan.
Sementara itu, penanggap kedua, Dr. Septiana Agustin, M.Pd., yang akrab disapa Kak Nana, mengingatkan bahwa tantangan terbesar dalam mengejar mimpi sering kali datang dari lingkungan sekitar.
“Akan selalu ada orang yang meragukan kemampuan kita. Jangan biarkan keraguan itu menghentikan langkah. Jadikan setiap tantangan sebagai alasan untuk terus bertumbuh,” tegasnya.
Suasana semakin hidup saat sesi tanya jawab dibuka. Peserta tampak antusias berdiskusi langsung dengan penulis. Panitia juga menyiapkan berbagai hadiah, mulai dari buku bertanda tangan, bingkisan dari Gramedia, hingga kesempatan berfoto bersama.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bondowoso, Dra. Nunung Setianingsih, M.M., mengapresiasi tingginya antusiasme peserta dalam kegiatan tersebut.
“Kami sangat bersyukur bedah buku hari ini berlangsung luar biasa. Breaking the Ceiling sangat tepat dibedah di hadapan para pelajar karena isinya penuh inspirasi untuk membangun mimpi, semangat belajar, dan keberanian menghadapi tantangan. Semoga kegiatan seperti ini semakin menumbuhkan budaya literasi di Bondowoso,” pungkasnya. (Rif)





