LINTASJATIM.com, Bondowoso – Ayam Sensi Agrinak menjadi salah satu komoditas unggulan yang menarik perhatian pengunjung dalam ajang Ekspo Peternakan dan Kontes Ternak (Exponak) Bondowoso 2026 di Pasar Hewan Terpadu Selolembu, Kecamatan Curahdami, Rabu (24/6/2026).
Unggas yang dipamerkan oleh Cafe Ternak Bondowoso tersebut tidak mengikuti perlombaan maupun penilaian kontes. Namun, postur tubuhnya yang lebih besar dengan bulu dominan putih membuat banyak pengunjung penasaran untuk mengetahui keunggulannya.
Alfian Dwi Nugraha, mahasiswa semester akhir Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Jember Kampus Bondowoso yang mendampingi pameran tersebut, menjelaskan bahwa Ayam Sensi Agrinak merupakan galur murni ayam pedaging lokal hasil seleksi dan pemuliaan untuk meningkatkan kualitas ayam lokal Indonesia.
“Keunikan Ayam Sensi Agrinak dibandingkan ayam lainnya adalah karena merupakan galur murni hasil seleksi. Posturnya lebih besar dan memiliki warna putih yang menjadi ciri khas tersendiri,” ujar Alfian.
Menurutnya, pengembangan Ayam Sensi Agrinak dilakukan untuk meningkatkan daya saing ayam lokal agar mampu bersaing dengan berbagai jenis ayam impor yang berkembang di Indonesia.
“Ayam lokal tidak kalah dengan ayam luar. Karena itu dilakukan proses seleksi agar memiliki performa unggul dan mampu bersaing,” katanya.
Berdasarkan informasi yang ditampilkan di stan pameran, Ayam Sensi Agrinak merupakan galur ayam lokal pedaging unggul yang telah dilepas secara nasional melalui Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 39/Kpts/PK.020/F/01/2017.
Nama Sensi merupakan singkatan dari Sentul Terseleksi, yakni hasil pemuliaan ayam Sentul yang dikembangkan untuk menghasilkan ayam lokal dengan pertumbuhan lebih cepat dan produktivitas yang lebih baik.
Data yang dipamerkan menunjukkan ayam jantan umur 10 minggu memiliki bobot rata-rata sekitar 1.066 gram per ekor, sedangkan ayam betina mencapai sekitar 745 gram per ekor. Galur ini juga dikenal memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap kondisi pemeliharaan di Indonesia.
Selain unggul sebagai ayam pedaging, Ayam Sensi Agrinak juga memiliki produktivitas telur yang cukup baik. Produksi telur puncaknya mencapai sekitar 61,98 persen dengan bobot rata-rata sekitar 40 gram per butir.
Alfian menjelaskan, ayam yang dipamerkan dalam Exponak Bondowoso 2026 berusia sekitar tujuh minggu. Meski masih tergolong muda, karakter pertumbuhannya sudah terlihat jelas.
“Untuk pemanfaatannya, sebagian besar dikembangkan sebagai ayam konsumsi atau pedaging. Produksi telurnya ada, tetapi potensinya lebih dominan sebagai ayam pedaging,” jelasnya.
Ia menambahkan, kualitas daging dan pertumbuhan ayam sangat dipengaruhi manajemen pemeliharaan serta pakan yang digunakan. Saat ini Cafe Ternak Bondowoso menggunakan pakan pabrikan karena dinilai lebih praktis dan stabil.
“Kebutuhan pakan saat masa produksi sekitar 120 gram per ekor per hari yang biasanya diberikan dua kali,” ungkapnya.
Cafe Ternak Bondowoso yang berlokasi di Desa Poncogati, Kecamatan Curahdami, aktif mengembangkan berbagai jenis ternak lokal sebagai bagian dari edukasi dan penguatan sektor peternakan daerah. Usaha tersebut didirikan oleh Dr. Ir. Nur Widodo, S.Pt., M.Sc., dosen Universitas Jember yang bergerak di bidang peternakan dan pertanian.
Melalui Exponak Bondowoso 2026, Cafe Ternak berharap Ayam Sensi Agrinak semakin dikenal masyarakat sebagai galur ayam pedaging lokal unggul yang produktif, mudah dibudidayakan, dan memiliki daya saing tinggi. Kehadirannya juga menjadi bukti bahwa inovasi pemuliaan ternak lokal terus berkembang untuk mendukung kemandirian peternakan Indonesia. (Rif)





