Aksi IWD di Grahadi Bawa 23 Tuntutan

Aksi peringatan IWD di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya. Sumber foto: www.detik.com
Aksi peringatan IWD di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya. Sumber foto: www.detik.com

LINTASJATIM.com, Surabaya – Peringatan Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day (IWD) di Surabaya diwarnai aksi demonstrasi di depan Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Senin (9/3/2026).

Dikutip dari detikJatim,com, puluhan peserta aksi menyuarakan berbagai tuntutan yang berkaitan dengan isu perempuan, hak asasi manusia hingga lingkungan.

Bacaan Lainnya

Aksi yang melibatkan mahasiswa, buruh, organisasi perempuan, pegiat lingkungan, komunitas, hingga lembaga bantuan hukum itu mulai berlangsung sekitar pukul 14.30 WIB. Sebelum berkumpul di depan Grahadi, massa terlebih dahulu melakukan long march dari kawasan Jalan Basuki Rahmat.

Para demonstran membawa spanduk serta poster berisi berbagai pesan, di antaranya penolakan terhadap pembunuhan perempuan atau femisida. Orasi juga dilakukan secara bergantian dari atas mobil komando.

Koordinator lapangan aksi, Syska La Veggie, mengatakan total terdapat 23 tuntutan yang disampaikan dalam aksi tersebut. Tuntutan itu merupakan hasil kesepakatan berbagai kelompok yang terlibat dalam peringatan IWD di Surabaya.

“23 tuntutan tadi sudah dibacakan, dan ini sebuah kesepakatan bersama dalam rangkaian Hari Perempuan Internasional di Surabaya,” ujar Syska.

Ia menjelaskan tuntutan yang disampaikan berangkat dari berbagai persoalan yang dihadapi kelompok masyarakat berbeda, mulai dari mahasiswa hingga pekerja.

“Misalnya tuntutan mendesak reformasi satgas anti kekerasan atau kekerasan seksual di perguruan tinggi, mulai dari pencegahan, penanganan kasus hingga pemulihan bagi korban secara tuntas sehingga dapat memberikan perlindungan bagi korban kekerasan,” jelasnya.

Selain itu, massa juga menuntut pengesahan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT) serta mendorong kesetaraan upah bagi pekerja perempuan.

Syska berharap aspirasi yang disampaikan dapat menjadi perhatian pemerintah dan pihak terkait.

“Harapannya dari tuntutan ini paling enggak ada yang terpenuhi. Karena ini bukan hanya soal kami teriak-teriak saja turun ke jalan tetapi memang benar-benar didengarkan,” ungkapnya.

Dalam aksi tersebut, massa juga menyampaikan solidaritas bagi perempuan yang menjadi korban konflik di Timur Tengah. Menurutnya, penderitaan perempuan di berbagai wilayah dunia menjadi keprihatinan bersama.

“Keresahan perempuan dimanapun adalah keresahan kami bersama. Jadi kami turut berdukacita terhadap apa yang terjadi oleh kawan-kawan kita yang ada di sana,” tuturnya.

Sementara itu, aksi di depan Grahadi sempat menyebabkan kepadatan lalu lintas di Jalan Gubernur Suryo. Petugas kepolisian terlihat berjaga sekaligus mengatur arus kendaraan agar tetap berjalan lancar. Meski sempat diguyur hujan rintik, massa aksi tetap bertahan hingga kegiatan berakhir.

Pos terkait