Buka Puasa Jangan Kalap, Ini Pesan Ahli Gizi Unair

Ilustrasi puasa. Sumber foto: banten.tribunnews.com
Ilustrasi puasa. Sumber foto: banten.tribunnews.com

LINTASJATIM.com, Surabaya – Momentum berbuka puasa kerap dimanfaatkan untuk ‘balas dendam’ setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Namun, kebiasaan tersebut justru berisiko mengganggu kesehatan selama Ramadan.

Dikutip dari detikJatim.com, Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair), Mahmud Aditya Rifqi, mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi makanan dalam jumlah besar sekaligus saat berbuka.

Bacaan Lainnya

“Jangan sampai setelah berbuka justru makan berlebihan dalam waktu berdekatan. Tubuh bisa terbebani,” ujar Mahmud, Sabtu (21/2/2026).

Ia menegaskan, puasa bukan sekadar memindahkan jam makan pagi dan siang ke malam hari. Menurutnya, pola makan saat Ramadan tetap harus diatur agar kebutuhan gizi terpenuhi tanpa membebani sistem pencernaan.

Mahmud menyarankan pola makan yang lebih terstruktur, yakni satu kali makan utama setelah berbuka, sahur dengan porsi cukup, serta tambahan camilan sehat bila diperlukan.

Selain itu, kebutuhan cairan minimal delapan gelas per hari harus tetap dipenuhi dengan membaginya pada waktu berbuka, malam hari, dan sahur.

Untuk menjaga rasa kenyang lebih lama, ia menganjurkan konsumsi makanan tinggi serat seperti sayur dan buah. Menu berkuah juga bisa menjadi pilihan guna membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh.

“Puasa Ramadan adalah momen ibadah, tetapi juga kesempatan memperbaiki pola makan. Kuncinya ada pada pengaturan yang seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh,” jelasnya.

Mahmud juga menyoroti perbedaan puasa Ramadan dengan metode intermittent fasting (IF) yang belakangan populer. Meski sama-sama mengatur waktu makan, keduanya memiliki tujuan dan aturan yang berbeda.

Di Indonesia, durasi puasa Ramadan berlangsung sekitar 13–14 jam tanpa makan dan minum sejak sahur hingga berbuka.

Sementara intermittent fasting lebih ditujukan untuk tujuan kesehatan tertentu, seperti menurunkan berat badan atau memperbaiki metabolisme, dengan pola yang bervariasi seperti 16:8, 5:2, atau one meal a day.

“Pada intermittent fasting masih diperbolehkan minum air putih atau minuman non-kalori seperti kopi tanpa gula. Sedangkan puasa Ramadan tidak boleh ada asupan makanan ataupun minuman selama waktu berpuasa,” terangnya.

Dari sisi manfaat, keduanya dinilai dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan mengontrol gula darah. Namun Mahmud mengingatkan agar asupan energi tidak dikurangi secara drastis.

“Pengurangan kalori sebaiknya bertahap, sekitar 300-500 kkal dari kebutuhan harian, dan tidak sampai di bawah batas minimal kebutuhan tubuh,” pungkasnya.

Pos terkait