LINTASJATIM.com, Jember – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mengajak pesantren untuk kembali meneguhkan peran khidmah keulamaan dan amanah santri dalam menjaga masa depan Nahdlatul Ulama.
Pesan tersebut disampaikan dalam acara Tasyakuran 100 Tahun Masehi Nahdlatul Ulama yang digelar di Auditorium KH Yazid Karimullah, Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Jember.
Di hadapan santri, mahasantri, dan para asatidz, Gus Yahya menekankan pentingnya menata ulang cara pandang terhadap pesantren serta tujuan pendidikan yang dijalankan. Menurutnya, NU sejak awal berdiri sebagai jam’iyah ulama, sehingga pesantren tidak boleh dipahami sebatas institusi pendidikan formal.
“Pesantren itu rahim keulamaan. Dari sanalah lahir para ulama yang memikul amanah Allah untuk melanjutkan tugas para nabi,” ujar Gus Yahya.
Ia menjelaskan, santri memiliki posisi strategis sebagai calon penjaga arah umat. Keulamaan, lanjutnya, tidak cukup diukur dari keluasan ilmu pengetahuan, tetapi juga dari kemampuan memikul amanah dan menjaga adab.
“Ulama pewaris para nabi adalah mereka yang menerima amanah untuk melanjutkan tanggung jawab kenabian. Itulah yang disebut umana Allah,” tegasnya.
Gus Yahya kemudian mengulas sejarah awal NU, ketika standar keulamaan dijaga dengan sangat ketat. Ulama ditempatkan pada posisi mulia karena dituntut matang dalam ilmu, adab, serta kualitas ruhani.
Dalam konteks tersebut, pesantren memiliki peran sentral dalam membentuk pribadi yang siap berkhidmah, bukan sekadar mencetak lulusan.
Namun, di tengah perkembangan zaman, Gus Yahya menyampaikan kegelisahannya. Dengan jumlah pesantren yang berafiliasi ke NU mencapai puluhan ribu, ia mempertanyakan sejauh mana pesantren masih berfokus pada kaderisasi ulama.
“Kita memiliki banyak pesantren, tetapi pertanyaannya harus jujur, berapa yang sungguh-sungguh menyiapkan santri untuk menjadi ulama,” katanya.
Ia menilai perubahan sosial turut memengaruhi dinamika pesantren, termasuk pergeseran relasi kiai dan santri yang dahulu sangat personal menjadi lebih formal.
Dalam konteks ini, Gus Yahya mengapresiasi pengembangan Ma’had Aly, termasuk yang ada di Pondok Pesantren Nurul Qarnain dengan takhassus Fiqh Siyasah.
“Saya terkejut sekaligus bangga. Kehadiran Ma’had Aly dengan kekhasan keilmuan seperti ini merupakan ikhtiar penting dalam menjaga mata rantai keulamaan,” ungkapnya.
Gus Yahya juga menyinggung keteladanan ulama besar, seperti KH Ihsan Jampes, penulis Sirajul Thalibin, yang dikenal luas karena keluasan ilmu dan kedalaman spiritual.
“Ilmu itu penting, tetapi tidak cukup. Tanpa kualitas ruhani, ilmu tidak akan kuat untuk irsyad dan mengayomi umat,” ujarnya.
Menutup taujihatnya, Gus Yahya berpesan agar pesantren tidak berhenti pada penguatan dirasah ilmiyah semata, tetapi juga terus merawat sunnah ruhaniyah.
“Di situlah santri ditempa, bukan hanya agar pintar, tetapi agar layak memikul amanah zaman,” pungkasnya.





