Tujuh Sesar Aktif Bayangi Jawa Timur

Sesar aktif di Jatim. Sumber foto: www.detik.com
Sesar aktif di Jatim. Sumber foto: www.detik.com

LINTASJATIM.com, Surabaya – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Jawa Timur akan potensi gempa bumi yang bersumber dari aktivitas sesar aktif di wilayah tersebut.

Selain berada di jalur subduksi selatan Pulau Jawa, provinsi ini juga dilintasi sejumlah patahan yang masih aktif dan berisiko memicu guncangan tektonik.

Bacaan Lainnya

Dikutip dari detikJatim.com, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyebut terdapat tujuh sesar aktif yang teridentifikasi di Jawa Timur, yakni Sesar Naik Pati, Kendeng, Pasuruan, Probolinggo, Wongsorejo, RMKS (Rembang–Madura–Kangean–Sakala), serta Bawean.

“Salah satu yang cukup panjang adalah Sesar Kendeng, yang terbagi dalam beberapa segmen seperti Cepu, Blumbang, Waru, Surabaya, hingga Purwodadi,” kata Daryono, Jumat (30/1/2026).

Berdasarkan kajian Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen), beberapa segmen Sesar Kendeng memiliki potensi kekuatan gempa yang patut diwaspadai. Segmen Cepu, dengan panjang sekitar 100 kilometer, diperkirakan mampu memicu gempa hingga magnitudo 6,5.

Sementara segmen Blumbang berpotensi menghasilkan gempa hingga 6,6 M, dan segmen Waru dengan panjang 64 kilometer diperkirakan mencapai 6,5 M.

Tak hanya itu, Sesar Surabaya yang juga termasuk bagian dari Sesar Kendeng memiliki panjang sekitar 25 kilometer dengan potensi gempa maksimum 6,5 M. Sesar Pasuruan, Probolinggo, dan Wongsorejo turut masuk dalam daftar patahan aktif yang perlu mendapat perhatian khusus.

Meski demikian, Daryono menegaskan potensi tersebut merupakan skenario terburuk. Dalam kondisi normal, gempa yang ditimbulkan aktivitas sesar di Jawa Timur cenderung berkekuatan kecil hingga menengah.

“Secara umum tidak ada yang dominan. Rata-rata gempa dari sesar-sesar ini magnitudonya di bawah 5,” jelasnya.

BMKG menilai gempa dari sesar aktif biasanya bersifat dangkal sehingga dapat menimbulkan guncangan cukup kuat di sekitar pusat gempa. Oleh karena itu, masyarakat di wilayah rawan diimbau meningkatkan kesiapsiagaan dan pemahaman mitigasi bencana.

“Yang terpenting adalah mengetahui cara menyelamatkan diri saat gempa terjadi,” pungkas Daryono, seraya mengingatkan pentingnya bangunan tahan gempa dan kesiapan jalur evakuasi.

Pos terkait