LINTASJATIM.com, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyoroti tingginya pergerakan ternak sebagai faktor utama munculnya kembali ratusan kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada awal 2026.
Dikutip dari detikJatim.com, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut lonjakan mobilitas sapi, terutama menjelang momentum keagamaan, berkontribusi besar terhadap penyebaran penyakit tersebut.
Berdasarkan data Dinas Peternakan Jawa Timur, tercatat 839 kasus PMK sejak 1 Januari hingga 26 Januari 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 605 kasus masih dalam penanganan, sementara 221 ekor ternak dinyatakan sembuh. Selain itu, terdapat delapan kasus kematian dan lima ekor sapi yang harus dilakukan pemotongan bersyarat.
Emil mengungkapkan, Jawa Timur sebagai salah satu daerah dengan populasi sapi potong terbesar di Indonesia memiliki risiko tinggi terhadap penularan PMK ketika arus distribusi hewan meningkat.
“Pergerakan hewan memang sangat tinggi, apalagi menjelang Ramadan dan Idul Adha. Di Jawa Timur, populasi sapi potong ini yang paling besar,” ujar Emil usai menghadiri Rapat Kerja Wilayah IPHI Jatim di Kantor Gubernur Jawa Timur, Selasa (27/1/2026).
Meski demikian, Emil meminta para peternak tidak panik. Pemerintah provinsi, kata dia, telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mempercepat pengadaan vaksin dan obat-obatan bagi ternak yang terpapar PMK.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian terkait pengiriman vaksin, termasuk obat untuk penanganan hewan yang sakit,” tegasnya.
Pemprov Jatim berharap langkah vaksinasi dan pengawasan lalu lintas ternak dapat menekan penyebaran PMK serta menjaga stabilitas sektor peternakan di wilayah tersebut.





