LINTASJATIM.com, Banyuwangi – Aktivitas pelayaran di perairan Selat Bali diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul potensi gelombang tinggi yang diperkirakan berlangsung hingga awal pekan depan.
Dikutip dari detikJatim.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi mencatat tinggi gelombang berpeluang mencapai empat meter dan dapat berdampak pada keselamatan pelayaran.
Peringatan dini tersebut disampaikan BMKG sebagai langkah antisipasi cuaca ekstrem yang berpotensi mengganggu aktivitas laut, terutama bagi nelayan dan kapal penyeberangan di lintasan Ketapang–Gilimanuk.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas III Banyuwangi, Umar Haidar Al Faruq, menjelaskan bahwa kondisi angin menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko di laut.
“Berisiko terhadap keselamatan pelayaran apabila kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter,” ujarnya, Sabtu (10/1/2026).
Menurut Umar, perahu nelayan menjadi kelompok paling rentan terdampak gelombang tinggi. Selain itu, kapal tongkang juga berpotensi mengalami gangguan operasional apabila cuaca memburuk.
“Kapal tongkang juga berisiko apabila kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1,5 meter,” tambahnya.
BMKG turut menyoroti operasional kapal ferry yang melayani penyeberangan Selat Bali. Kapal jenis ini diminta meningkatkan kewaspadaan saat tinggi gelombang mencapai 2,5 meter, terutama jika kecepatan angin melampaui 21 knot.
Seiring potensi cuaca ekstrem tersebut, BMKG mengimbau seluruh pengguna jasa laut untuk rutin memantau informasi cuaca terkini dan mengutamakan keselamatan selama beraktivitas di perairan Selat Bali hingga kondisi kembali normal.






