Ikon Desa Jadi Mesin Ekonomi Baru di Balongjeruk

Patung macan putih mirip kudanil di Kediri. Sumber foto: www.detik.com
Patung macan putih mirip kudanil di Kediri. Sumber foto: www.detik.com

LINTASJATIM.com, Kediri – Viralitas Patung Macan Putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, membawa dampak ekonomi tak terduga bagi warga setempat.

Dari sekadar ikon desa, keberadaan patung tersebut kini menjelma menjadi penggerak usaha mikro dan pusat aktivitas jual beli cendera mata.

Bacaan Lainnya

Dikutip dari detikJatim.com, deretan pedagang menawarkan berbagai produk bertema macan putih dengan desain unik. Mulai dari kaus bergambar macan putih berwajah lucu, stiker, balon, hingga aksesori kendaraan roda dua dan roda empat, menjadi buruan pengunjung yang datang untuk berfoto.

Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, mengungkapkan bahwa geliat ekonomi ini muncul secara alami seiring meningkatnya kunjungan wisatawan. Menurutnya, patung tersebut awalnya tidak dirancang sebagai destinasi wisata.

“Awalnya patung ini hanya kami buat sebagai identitas desa. Tapi kami bersyukur karena ternyata bisa menjadi sumber penghidupan baru bagi pelaku UMKM di Balongjeruk dan sekitarnya,” ujar Safi’i, Sabtu (3/1/2026).

Ia menjelaskan, kreativitas warga terlihat dari ragam merchandise yang terus berkembang. Salah satu produk yang paling diminati adalah kaus bertema macan putih dengan tambahan tulisan I Love Balongjeruk.

“Jenis merchandise yang dijual cukup beragam, dari kaus, stiker, balon, sampai aksesori motor dan mobil,” katanya.

Soal harga, Safi’i menyebutkan cendera mata tersebut dijual terjangkau sehingga ramah bagi semua kalangan.

“Untuk stiker, misalnya, harganya mulai Rp2.000 per buah,” tambahnya.

Lonjakan pengunjung juga berdampak pada jumlah pedagang yang berjualan di sekitar area patung. Jika pada awalnya hanya puluhan, kini ratusan warga memanfaatkan momen tersebut untuk membuka lapak.

“Dulu mungkin sekitar 10 pedagang, sekarang hampir setiap hari bertambah. Jumlahnya bisa lebih dari 100 pedagang di sekitar lokasi,” pungkas Safi’i.

Fenomena ini menegaskan bahwa ikon lokal, jika dikelola dan direspons kreatif oleh masyarakat, mampu menjadi pemantik pertumbuhan ekonomi desa.

Pos terkait