LINTASJATIM.com, Bawean – Kapal Layar Motor (KLM) Bintang Samudra tenggelam di perairan Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Kamis (6/8/2026) sekitar pukul 12.15 WIB setelah diterjang gelombang tinggi. Seluruh awak kapal, terdiri atas nahkoda dan tiga anak buah kapal (ABK), berhasil diselamatkan dalam kondisi selamat.
Kapal pengangkut barang milik PT Sinar Ahza Bahari itu sebelumnya berlayar dari Dermaga Sedayu Lawas pada Rabu (5/8/2026) menuju Pulau Bawean dengan membawa muatan sembako, material bangunan, serta 26 tabung oksigen medis.
Berdasarkan keterangan awak kapal, kondisi cuaca memburuk saat pelayaran berlangsung. Gelombang tinggi menghantam kapal, sementara pompa air mengalami kerusakan sehingga air laut yang masuk ke lambung kapal tidak dapat dikeluarkan.
Akibatnya, kapal perlahan kehilangan keseimbangan. Air yang terus menggenangi ruang muat menyebabkan kapal akhirnya tenggelam di perairan sekitar delapan mil dari Pelabuhan Bawean.
Dalam situasi darurat, salah seorang ABK berhasil menghubungi H. Abdurrahman melalui telepon seluler untuk meminta bantuan. Setelah menerima informasi tersebut, H. Abdurrahman bersama tim segera menuju lokasi kejadian dan melakukan proses penyelamatan.
Seluruh awak kapal berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat. Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam insiden tersebut.
Meski demikian, seluruh muatan kapal berupa bahan kebutuhan pokok, material bangunan, dan puluhan tabung oksigen medis ikut tenggelam bersama kapal. Hingga kini, nilai kerugian material masih dalam proses pendataan.
Ketua Umum Persaudaraan Bawean Nusantara (PBN) Bondowoso, Glory Bastian, S.Sy., S.H., M.Kn., mewakili keluarga almarhum Abdul Aziz selaku pemilik kapal, menyampaikan apresiasi kepada tim penyelamat yang bergerak cepat mengevakuasi para awak kapal.
“Atas nama keluarga besar almarhum Abdul Aziz selaku pemilik KLM Bintang Samudra, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak H. Abdurrahman beserta tim yang bergerak cepat sehingga seluruh awak kapal berhasil diselamatkan. Kami juga mengimbau para pemilik kapal, nahkoda, dan nelayan agar tidak memaksakan berlayar saat cuaca ekstrem karena keselamatan harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Glory berharap peristiwa tersebut menjadi pelajaran bagi seluruh pelaku pelayaran untuk lebih mengutamakan aspek keselamatan, termasuk memastikan kondisi kapal laik berlayar dan selalu memperhatikan informasi cuaca yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Insiden tenggelamnya KLM Bintang Samudra kembali menjadi pengingat tingginya risiko pelayaran menuju Pulau Bawean saat cuaca buruk. Karena itu, kewaspadaan serta kepatuhan terhadap peringatan cuaca dinilai penting untuk mencegah terulangnya kecelakaan serupa. (Rif)





