LINTASJATIM.com, Blitar – Pembelajaran adalah suatu proses yang ditata dan diatur menurut langkah-langkah tertentu agar dalam pelaksanaannya dapat mencapai hasil yang diharapkan.
Pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan secara teratur, logis, dan sistematis dari mulai kegiatan membuka, inti, dan kegiatan menutup pembelajaran.
Penerapan setiap langkah yang termasuk dalam prosedur pembelajaran tersebut, semuanya diarahkan pada upaya membelajarkan siswa, yaitu bagaimana agar dengan kegiatan membuka, kegitan inti dan kegiatan menutup pembelajaran yang dilakukan oleh guru, dapat berfungsi sebagai instrumen pembelajaran yang baik, untuk memfasilitasi kemudahan belajar bagi siswa, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
Keterampilan dasar mengajar (teaching skills) pada dasarnya adalah merupakan bentuk perilaku (kemampuan) atau keterampilan (skill) yang bersifat khusus dan mendasar (most spesific instructional behaviours) yang harus dimiliki guru sebagai modal dasar untuk melaksanakan tugas-tugas pembelajaran secara profesional.
Ketarampilan dasar mengajar bagi guru mutlak harus dikuasai, agar guru dapat mengimplementasikan berbagai strategi, pendekatan atau model pembelajaran.
Dengan dikuasainya setiap jenis keterampilan dasar mengajar maka guru akan dapat melaksanakan perannya sebagai pengelola pembelajaran dengan baik.
Mengajar adalah seni sekaligus ilmu yang memadukan kemampuan komunikasi, pengetahuan, kreativitas, dan empati.
Dalam dunia pendidikan, keterampilan mengajar bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi juga bagaimana membimbing, menginspirasi, dan memotivasi peserta didik untuk mencapai potensi terbaik mereka.
Keterampilan dasar mengajar adalah fondasi penting bagi keberhasilan proses pembelajaran. Dalam dunia pendidikan, seorang pendidik tidak hanya dituntut untuk menguasai materi yang diajarkan, tetapi juga memiliki kemampuan menyampaikan materi tersebut secara efektif dan inspiratif kepada peserta didik.
Kami diberikan kesempatan untuk melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran mata pelajaran Bahasa Jawa terhadap salah satu sekolah di tengah perkotaan Blitar, yakni tepatnya di UPT SDN 3 Sananwetan pada bulan November 2025 lalu. Lokasi sekolah sangat strategis dan ramai oleh hilir lalu Lalang kendaraan.
Meskipun terletak di tengah perkotaan, sekolah ini masih menjunjung tinggi kebudayaan lokal di tengah hiruk pikuk modernisasi. Hal ini dapat dilihat dan diketahui dari penerapaan kebijakan sekolah yang wajib berbahasa Jawa khusus pada hari Sabtu.
Penerapan ini bukan hanya ditujukan oleh semua peserta didik saja, namun oleh seluruh warga sekolah. Entah itu guru, bahkan satpam penjaga sekolah.
Bahasa Jawa memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan orang Jawa karena mengandung nilai budaya luhur orang Jawa.
Pembelajaran bahasa Jawa di sekolah dasar dan menengah merupakan sarana pendidikan karakter. Menurut kurikulum muatan lokal, mata pelajaran bahasa Jawa sekarang menjadi mata pelajaran wajib.
Sangat penting untuk mengajarkan bahasa Jawa sejak dini, karena pembelajaran bahasa Jawa digunakan untuk memelihara nilai-nilai budaya, membimbing siswa untuk berkembang di lingkungan, serta membangun dan memperkuat karakter bangsa.
Pemberian kursus bahasa Jawa di sekolah diharapkan juga tetap menjaga tradisi dan budaya Indonesia.
Menurut Sujarwadi didalam buku ‘Strategi Pembelajaran Bahasa Jawa Bagi Anak-Anak’ yang ia tulis pada tahun 2010, mengungkapkan bahwa dalam pembelajaran Bahasa Jawa, peserta didik dapat belajar mengenal adanya tata krama, yaitu suatu bentuk kesopansaantunan ketika berbicara yang disesuaikan dengan kaidah kemahiran Bahasa Jawa.
Kesopanan dalam berbahasa Jawa termasuk dalam kaidah tata krama mengajarkan penutur untuk menghormati lawan bicaranya.
Dari pemilihan kata-kata dalam bahasa lisan, dapat dilihat sopan atau tidaknya ketika menghormati lawan bicara. Perkataan tidak boleh lepas dari kesantunan, karena dalam budaya Jawa kesantunan akan tercermin dalam pengucapan dan perilaku.
Hal ini merupakan bentuk peran yang harus diajarkan di sekolah dengan menyediakan fasilitas dan suasana belajar yang menyenangkan untuk mengasah kemampuan berbahasa peserta didik.
Adanya pembelajaran Bahasa Jawa diharapkan dapat menghasilkan generasi muda Jawa yang dapat melatih keterampilan berbahasa sesuai kaidah bahasa, sekaligus menunjukkan kepribadian orang Jawa.
Dengan berbagai manfaat dan dampak positif yang ditimbulkan, maka pantaslah Bahasa Jawa juga diikutkan dan dimasukkan sebagai mata pelajaran yang dipelajari oleh peserta didik.
Masih dikesempatan yang sama, kami diperbolehkan untuk melihat dan mengamati langsung bagaimana proses belajar mengajar di SDN 3 Sananwetan, tepatnya di kelas VI.
Pada kesempatan ini kami ditemani dan dipersilakan oleh Bapak Rianto Mujiaman selaku Guru Mapel Bahasa Jawa.
Dalam pengamatan ini, kami menggunakan indikator-indikator sederhana yang kami rancang dan susun dari referensi dan sumber yang kami temukan agar mempermudah kami untuk melihat dan memastikan tujuan-tujuan pembelajaran dapat terlaksana.
Yang pertama, ketrampilan dasar mengajar yang harus dimilki seorang pendidik ialah, ketrampilan membuka dan menutup pembelajaran.
Keterampilan membuka dan menutup pembelajaran adalah kemampuan guru untuk menyiapkan mental dan perhatian siswa agar fokus pada materi yang akan dipelajari. Keterampilan ini penting untuk mencapai pembelajaran yang efektif, efisien, menarik, dan menyenangkan.
Menurut Rusman didalam buku ‘Belajar dan Pembelajaran’ yang ia tulis pada tahun 2017, menyebutkan keterampilan membuka pelajaran yaitu usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar untuk menciptakan kondisi bagi murid agar mental maupun perhatian terpusat pada apa yang akan dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang positif terhadap kegiatan belajar.
Secara prosedural setelah kegiatan membuka pembelajaran, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan inti, dan akhirnya kegiatan menutup pembelajaran atau disebut dengan istilah ‘penutupan’ (closure).
Penutupan pembelajaran adalah upaya mengakhiri dari seluruh aktivitas yang telah dilakukan dalam setiap unit pembelajaran.
Penutupan pembelajaran berarti sebagai tanda telah berkahirnya proses pembelajaran, dan dari penutupan pembelajaran ini sekaligus akan diketahui gambaran hasil yang dicapai dari proses pembelajaran yang telah dilakukan.
Bapak Rianto dalam membuka proses pembelajaran dengan mengawali salam lalu mengajak doa bersama, begitu juga dalam menutup pembelajaran. Tak lupa ia memberikan sepatah nasehat dengan melagukannya atau dalam Bahasa Jawa ‘nembang’.
Hal ini dilakukan dalam membuka pembelajaran oleh Bapak Rianto mampu mengaktifkan kesiapan dan focus peserta didik dan meningkatkan konsentrasi peserta didik.
Hal ini bisa dibuktikan dengan sebelum dibuka Pelajaran, para peserta didik masih berbicara dengan satu sama lain hingga gaduh, lalu Pak Rianto membuka dengan salam lalu mengintruksikan untuk tertib dan ‘menembangkan’ sepatah nasihat. Para peserta didik mulai satu persatu mulai terkondisikan dan tenang.
Yang kedua dalam ketrampilan dasar mengajar yakni ketrampilan menjelaskan.
Setiap kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari aspek menjelaskan, yaitu untuk membuat sesuatu menjadi jelas, dapat dimengerti dan dipahami.
Kebalikannya tidak jelas sama sekali, atau mungkin masih samar-samar antara mengerti dan belum, itu berarti belum memiliki kejelasan, sehingga masih perlu diperjelas. Upaya untuk memperjelas sesuatu yang ingin disampaikan kepada pihak yang akan menerima penjelasan, tentu tidak mudah.
Dalam setiap melakukan penjelasan senantiasa berhadapan dengan orang yang memiliki karakteristik dan tingkat kecerdasan yang bervariasi, demikian pula kondisi lingkungan turut mempengaruhi terhadap upaya memberikan penjelasan.
Menjelaskan merupakan suatu keterampilan yang sangat penting dikuasai oleh calon dan para guru. Hal ini mengingat inti dari pekerjaan guru adalah berkomunikasi dengan siswa.
Pada kenyataannya kebanyakan siswa belum terbiasa belajar secara mandiri dan mampu memahami yang dipelajarinya secara lebih baik.
Memberikan penjelasan adalah salah satu aspek yang amat penting dari seorang guru. Interaksi dalam kelas cenderung dipenuhi oleh kegiatan pembicaraan, baik oleh guru sendiri, oleh guru dan siswa, maupun antara siswa dengan siswa.
Dalam ketrampilan menjelaskan, Guru harus pandai dalam memvariasi pembelajaran agar pembelajaran tidak terkesan monoton yang membuat peserta didik mudah bosan yang mana para peserta didik mulai kabur focus dan perhatiannya terhadap pembelajaran.
Variasi tersebut bisa dengan kuis atau tanya-jawab, mengoperasikan dan memainkan media pembelajaran, atau pembelajaran dalam kelompok.
Pak Rianto dalam menemani dan membimbing para peserta didik kelas VI ini dalam mata pelajaran Bahasa Jawa dengan materi ‘Unen-unen’, ia sudah menyusun modul ajar sesuai capaian-capaian tujuan pembelajaran yang disepakati.
Hal ini menciptakan pembelajaran yang sistematis, runut, dan mudah dipahami oleh peserta didik. Dalam Menyusun modul ajar, ia mengacu materi didalam buku ajar dan menambahkan tambahan pemahaman dari buku paket.
Dalam pembelajaran Bahasa Jawa dengan materi ‘Unen-unen’, Pak Rianto menggunakan variasi pembelajaran yang beragam, diawali dengan Tanya-Jawab untuk menstimulus keinginan-tahuan peserta didik, lalu metode ceramah yang mana memaparkan defenisi ‘Paribasan’, ‘Bebasan’, dan ‘Saloka’.
Dalam memaparkan penjelasan, Pak Rianto memanfaatkan media pembelajaran dengan PPT interaktif untuk membantu kemudahan peserta didik dalam memahami materi.
Lebih jauh lagi, Pak Rianto menunjuk salah seorang peserta didik untuk membaca teks dalam buku Ajar dengan suara lantang agar melatih kepercayaan diri peserta didik dihadapan kawannya dan melatih menyimak bacaan terhadap peserta didik.
Lalu Pak Rianto memberikan intruksi untuk menanyakan kosakata yang belum dipahami. Hal ini mengajak peserta didik menganalisis dan meraba kosakata-kosakata baru.
Lalu yang terakhir dalam pembelajaran Bahasa Jawa ini, Pak Rianto mengajak untuk membuat tim kecil antar peserta didik yang mana Pak Rianto memberikan latihan soal dalam mengukur kepahaman materi yang telah dibahas.
Tujuan pembentukan tim kecil yang berisikan 2 orang ini adalah untuk membangun kekompakan dan melatih Kerjasama antar individu.
Hal ini membuat para peserta didik aktif dalam berdiskusi dengan Kawan timnya. Hal ini dapat dibuktikan dalam pengamatan kami dengan peserta didik sibuk dengan berdiskusi dan membagi pekerjaan dalam bagian timnya tersebut.
Meskipun begitu, kami melihat beberapa peserta didik terlihat kurang aktif dalam kerja kelompok tersebut, seperti kurang komunikasi terhadap Kawan timnya.
Yang terakhir dalam ketrampilan dasar mengajar yang tak kalah penting untuk harus dimiliki seorang pendidik ialah, manajemen kelas.
Yang dimaksud dengan keterampilan mengelola kelas adalah Keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, dan keterampilan untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal, apabila terjadi gangguan dalam proses belajar baik yang bersifat gangguan kecil dan sementara maupun yang bersifat gangguan yang berkelanjutan.
Menurut Widiasworo dalam buku ‘Cerdas Pengelolaan Kelas’ yang ia tulis pada tahun 2018 menyebutkan, mengelola kelas adalah suatu kegiatan yang diberikan guru dalam mengatur,merencanakan, mengarahkan, membimbing, dan mengoptimalkan proses kegiatan belajar mengajar (KBM).
Bukan hanya berkenaan secara praktik saja, namun pengelolaan kelas yang dibuat guru juga berkenaan dengan pemanfaatan sumber bahan ajar, sarana dan prasarana, serta media belajar.
Prinsip dalam pengelolaan kelas bagi seorang pendidik ialah menciptakan kehangatan dan keantusiasan terhadap peserta didik yang nantinya akan lebih mudah dalam pengkondisian kelas. Hal ini memunculkan tantangan-tantangan untuk menjaga kondusifitas kelas.
Pendidik haruslah cermat dalam memilih kata-kata tindakan, atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah siswa untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
Komponen-komponen dalam menciptakan pengkondisian dan pemeliharaan kelas diawali dengan menunjukkan sikap tanggap dengan terlibat dalam keaktifan dan kegiatan mereka. Hal ini pendidik haruslah hadir di sisi mereka, maka terciptalah kebersamaan antar pendidik dan peserta didik.
Pak Rianto dalam hal ini selalu membimbing setiap peserta didik dengan bijak. Ia hadir dalam setiap kesulitan peserta didik dalam memahami materi dan mengawasi dalam setiap yang menimbulkan gangguan dalam bentuk teguran.
Pak Rianto bijak dalam pemilihan kata dan yang harus dicermati bahwa Pak Rianto membiasakan menggunakan Bahasa Jawa dan lebih banyak menggunakan Bahasa Krama (Bahasa sopan dalam Bahasa Jawa). Hal ini memberikan contoh baik dalam kesopanan dan kesantunan.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap proses pembelajaran Bahasa Jawa di kelas VI UPT SDN 3 Sananwetan, dapat disimpulkan bahwa keterampilan dasar mengajar guru memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keaktifan belajar peserta didik.
Keterampilan membuka dan menutup pembelajaran yang dilakukan secara terstruktur, diawali dengan salam, doa, serta penyampaian nasihat melalui tembang Jawa, terbukti mampu membangun kesiapan mental, memusatkan perhatian, serta menciptakan suasana kelas yang kondusif.
Strategi ini secara langsung mendorong peserta didik menjadi lebih fokus dan responsif terhadap proses pembelajaran sejak awal hingga akhir kegiatan belajar.
Keterampilan menjelaskan yang ditunjukkan guru melalui penyusunan modul ajar yang sistematis, penggunaan variasi metode pembelajaran, serta pemanfaatan media pembelajaran interaktif berkontribusi positif terhadap pemahaman materi dan partisipasi aktif peserta didik.
Penerapan metode tanya jawab, pembacaan teks secara lisan, serta diskusi kelompok kecil mendorong peserta didik untuk berani berpendapat, bertanya, dan bekerja sama.
Meskipun masih ditemukan beberapa peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok, secara umum pembelajaran berlangsung partisipatif dan komunikatif.
Selain itu, keterampilan pengelolaan kelas yang diterapkan guru melalui sikap tanggap, pendampingan intensif, serta penggunaan bahasa yang santun—khususnya Bahasa Jawa krama—berhasil menciptakan iklim belajar yang aman, nyaman, dan berlandaskan nilai kesopanan.
Pendekatan ini tidak hanya menjaga ketertiban kelas, tetapi juga menumbuhkan kedekatan emosional antara guru dan peserta didik, sehingga peserta didik merasa lebih dihargai dan terdorong untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.
Dengan demikian, keterampilan dasar mengajar yang dikuasai dan diterapkan secara konsisten oleh guru berperan sebagai faktor kunci dalam meningkatkan keaktifan belajar peserta didik.
Keterampilan tersebut tidak hanya berdampak pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek afektif dan sosial peserta didik, khususnya dalam pembelajaran Bahasa Jawa yang sarat dengan nilai budaya dan karakter.
Temuan ini menegaskan bahwa penguasaan keterampilan dasar mengajar merupakan prasyarat penting dalam menciptakan pembelajaran yang efektif, partisipatif, dan bermakna.






