Masjid Kayu Berusia 201 Tahun di Situbondo dan Mimpi Besar Cicit Pendirinya: Bangun Sejuta Masjid Dunia

LINTASJATIM.com, Situbondo – Di Desa Kayuputih, Situbondo, sebuah bangunan kayu tua berdiri sebagai saksi sejarah besar Islam di ujung timur Jawa. Tepat 201 tahun lalu, pada 1825, bangunan ini merupakan masjid utama Pesantren Kyai Raden Mas Su’ud, ulama ahli tauhid dan teologi yang berperan penting dalam pengislaman Situbondo.

Hingga kini, tiga penanda sejarah masih bisa disaksikan: nisan makamnya yang bercorak khas ulama Pamekasan dan Sumenep, masjid kayu yang masih berdiri kokoh, serta garis keturunan yang terus berlanjut. Meski pesantrennya tak lagi beroperasi, masjid kayu itu menjadi saksi bisu perjalanan dua abad lebih dakwah Islam di kawasan Tapal Kuda.

Bacaan Lainnya

Menariknya, salah satu cicit Kyai Raden Mas Su’ud, HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, memilih jalan berbeda dengan mewarisi semangat dakwah leluhurnya dalam skala global. Ia mengembangkan gagasan besar bertajuk DABATUKA (Demi Allah, Bumi Aku Taklukkan untuk Kemanusiaan) dan BAKIRA (Bandar Kyai Nusantara).

“Lebih dahsyat membangun sejuta masjid di dunia daripada sekadar meneruskan satu pesantren,” ujar Gus Lilur, Senin (12/1/2026).

Bagi Gus Lilur, panggung yang ditinggalkan Kyai Mas Su’ud terlalu sempit jika hanya diterjemahkan sebagai satu pesantren di Situbondo. Tantangan zaman menuntut lompatan visi dari satu masjid menjadi sejuta masjid dunia, dari satu pesantren menjadi ribuan pesantren lintas negara.

Keyakinan ini berdiri di atas fondasi kepemilikan lebih dari 1.000 tambang berbagai jenis di Indonesia yang diyakininya dapat menjadi penopang finansial dakwah global. Perjalanan hidupnya yang lintas negara, termasuk kisah pernikahan di berbagai bangsa, menguatkan tekadnya untuk membangun pusat dakwah di negeri-negeri tersebut.

“Sejarah, baginya, bukan untuk disembah, tetapi dijadikan pijakan,” tegas Gus Lilur, yang kerap menghibur diri dengan kisah Kyai Sholeh Darat Semarang, guru para pendiri NU dan Muhammadiyah, yang pesantrennya tidak berlanjut secara struktural tetapi pemikirannya mengubah peradaban Islam Indonesia.

Pesantren Kyai Raden Mas Su’ud mungkin kini tinggal cerita faktual yang dibuktikan artefak sejarah. Namun dari masjid kayu berusia 201 tahun itu, lahir mimpi-mimpi baru yang jauh melampaui batas desa, kabupaten, bahkan negara. “Bumi terlalu luas untuk ditaklukkan oleh nostalgia,” tandas Gus Lilur menutup pernyataannya.

Warisan spiritual Kyai Raden Mas Su’ud kini menemukan ekspresi baru dalam visi global cucu cicitnya, membuktikan bahwa semangat dakwah bisa bertransformasi mengikuti zaman tanpa kehilangan ruh dan misi utamanya.

Pos terkait