Atasi Pencemaran Sampah, Pemuda Banyuwangi Bentuk Organisasi Penggiat Maggot

  • Whatsapp
Komunitas Penggita Maggot Banyuwangi [Lintas Jatim]
Komunitas Penggita Maggot Banyuwangi [Lintas Jatim]

LINTASJATIM.com, Banyuwangi Komunitas penggiat Maggot seluruh wilayah Kabupaten Banyuwangi hari ini Minggu, (5/4/2021) menyepakati akan dibentuknya organisasi Penggiat Maggot Banyuwangi. Komunitas tersebut terdiri dari Plampangrejo, Genteng, Giri, Karangan, Banyuwangi Kota, Srono, Sempu dan sekitarnya.

Tujuan dari diadakannya pertemuan ini yaitu menyepakati akan dibentuknya organisasi Penggiat Maggot Banyuwangi, organisasi yang akan dibentuk diharapkan bisa mengurangi bahkan menanggulangi permasalahan pencemaran sampah organik di Banyuwangi secara masif.

“Kita menyepakati dari yang sebelumnya kita hanya komunitas kecil-kecil, akan bersatu dalam satu payung organisasi yang berbadan hukum. Sehingga pergerakan dalam bidang penanggulangan pencemaran sampah organik di Banyuwangi semakin tersistem dengan baik,” kata Choirul Anwar penggiat maggot Banyuwangi di balai desa Siliragung, Minggu (4/4/2021).

Perlu diketahui, maggot adalah larva atau belatung lalat tentara hitam Black Soldier Fly (BSF). Kebanyakan orang menganggap hewan ini menjijikkan. Bahkan, binatang ini dianggap sebagai hama serta membawa penyakit. Namun, ulat yang satu ini ternyata ulat yang unik, berbeda dengan ulat atau belatung umumnya.

Belatung ini bukanlah belatung biasa, melainkan larva dari Black Soldier Fly (BSF). Dalam tubuh BSF mengandung zat antibiotik alami sehingga tidak membawa agen penyakit. Meski dikelompokkan sebagai lalat, BSF tidak hinggap di sampah dan tidak membawa penyakit.

Larva BSF yang disebut maggot juga berbeda dengan belatung lalat hijau dan lalat hitam yang menyebarkan penyakit. Maggot tidak menimbulkan bau busuk dan bukan pembawa sumber penyakit. Karena sangat aman, anak kecil pun berani bermain-main dengan cara memegangnya.

Maggot BSF merupakan inovasi yang menggembirakan dan menguntungkan bagi para peternak, petani, dan masyarakat secara luas. Maggot BSF bisa dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan ternak unggas.

Penggunaan maggot sebagai pakan ikan bisa semakin menggairahkan budidaya ikan konsumsi karena harganya yang relatif murah. Untuk pakan ternak, maggot bisa mempercepat kenaikan bobot ternak.

Maggot BSF ini juga bisa membantu permasalahan sampah organik yang menggunung. Sekitar 750 kg maggot BSF mampu mengurai sekitar 2 ton sampah organik hanya dalam kurun waktu 2-3 minggu.

Ini menjadikan usaha budidaya maggot sebagai alternatif usaha yang menjanjikan. Apalagi masa panennya relatif cepat, sekitar 15 hari. Jadi budidaya maggot BSF perlu dicoba oleh siapa saja, terutama para petani dan peternak.

Membudidayakan maggot BSF cukup mudah dikerjakan. Tidak memerlukan teknik khusus, jadi siapa saja bisa melakukan. Budidaya maggot BSF juga tidak menyita waktu karena tidak perlu sering dikontrol.

Untuk bahan ternak yaitu sampah organik bisa diambil dari sampah rumah tangga, seperti sampah sayuran dan sisa-sisa makanan.

Lahannya juga tidak harus luas, bisa menyesuaikan. Tidak ada syarat minimal area lahan yang dibutuhkan budidaya maggot. Ruang terbatas pun bisa menghasilkan ternak maggot yang menguntungkan secara finansial.

“Disini kita bersinergi menyatukan energi, mengubah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat, selama ini kegiatan yang berhubungan dengan sampah seringkali kurang diminati dan dipandang sebelah mata,”Pungkas Dirga salah satu anggota PEGA Indonesia.

Pos terkait