LINTASJATIM.com, Jember – Seorang pelajar SMA berusia 15 tahun di Kecamatan Kencong, Jember, menjadi korban pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh sekitar 10 remaja. Kasus ini mencuat setelah video penganiayaan beredar luas di grup WhatsApp.
Dikutip dari detikJatim.com, peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (28/3/2026) malam. Korban dijemput paksa dari rumahnya oleh sejumlah teman. Ibu korban, S, mengungkapkan bahwa anaknya dibawa keluar sekitar pukul 23.00 WIB.
“Anak saya ini keluar kan dibawa keluar sama teman-temannya itu jam 11 malam, saat malam Minggu kemarin. Dijemput gitu, dijemput paksa,” ujar S, Kamis (1/4/2026).
Berdasarkan keterangan korban, ia kemudian dibawa ke lokasi sepi yang dikenal sebagai Bulakan Kecik, di Desa Keting, Kecamatan Jombang. Di tempat tersebut, korban telah ditunggu oleh sekelompok remaja.
“Terus dikeroyok di sana sama teman-temannya. Itu sekitar 10 anak. Jadi dua orang itu adalah teman SMP anak saya, delapannya tidak dikenal,” kata S.
Usai mengalami kekerasan, korban ditinggalkan begitu saja di lokasi kejadian. Dalam kondisi terluka, korban berjalan kaki sejauh kurang lebih tiga kilometer untuk pulang ke rumahnya pada dini hari.
“Anak saya pulang sekitar jam 03.30 WIB pagi, jalan kaki. Habis dikeroyok ditinggal di sana,” jelasnya.
Setibanya di rumah, kondisi korban cukup memprihatinkan. Ia mengalami sejumlah luka, mulai dari lebam di tubuh, lecet, hingga luka robek di bagian kepala dan mulut.
“Kondisi anak saya lebam-lebam di tangan, terus banyak yang beset-beset. Di mulut dan di kepalanya ada yang bocor,” tambah S.
Dugaan sementara, pengeroyokan dipicu kesalahpahaman terkait penggunaan ponsel milik korban. S menjelaskan, ponsel tersebut sempat dipinjam oleh temannya untuk mengirim pesan suara yang menyinggung pihak lain.
“Penyebabnya adalah kesalahpahaman. HP anak saya itu dipakai temannya buat VN sembarangan. Temannya yang di-VN ini enggak terima, jadi ya itu nyari anak saya,” ungkapnya.
Akibat kejadian tersebut, korban mengalami trauma dan belum kembali bersekolah.
“Sampai sekarang anak saya belum mau masuk sekolah karena takut dan juga malu,” tutur S.
Kasus ini telah dilaporkan ke pihak kepolisian dan masih dalam proses penanganan.
“Besok disuruh kembali untuk diperiksa,” pungkasnya.





