Gus Lilur Siapkan Ekspansi Besar Industri Rokok, Bangun Gudang Tembakau di 3 Provinsi

LINTASJATIM.com, Surabaya – Pengusaha rokok asal Jawa Timur, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, menyelesaikan tahap awal pembangunan usaha rokok yang dirintis melalui Bandar Rokok Nusantara Global Grup (BARONG Grup). Tahap awal mencakup pembentukan dan legalitas berbagai perusahaan di bidang rokok, tembakau, hingga distribusi.

Gus Lilur menjelaskan telah menyiapkan enam induk perusahaan rokok dengan lima di antaranya telah selesai proses legalitas, sementara satu perusahaan masih dalam proses pengurusan. Dari lima perusahaan yang telah memiliki legalitas lengkap, satu perusahaan bahkan sudah memiliki pabrik rokok dengan seluruh perlengkapannya.

Bacaan Lainnya

Enam perusahaan rokok yang didirikan adalah Rokok Bintang Sembilan (RBS), Bandar Rokok Nusantara (BARON), Joko Tole Nusantara (JOLENTARA), Madura Tembakau Nusantara (MADANTARA), Bandar Rokok Nusantara Global (BARONG), serta Madura Indonesia Tembakau (MASAKU).

Selain itu, ia juga membangun dua induk perusahaan tembakau yaitu Nusantara Global Tobacco (NGO) dan Bandar Tembakau Indonesia (BAKAU Indonesia). Untuk memperkuat logistik dan distribusi, didirikan pula Angkut Barang Seluruh Nusantara (ABANG SETARA).

Dalam rencana ekspansi, Gus Lilur akan membangun gudang tembakau besar di tiga provinsi: Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Tengah. Di Jawa Timur, gudang akan dibangun di Sumenep, Pamekasan, Situbondo, Probolinggo, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi. Di NTB berlokasi di Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Mataram. Di Jawa Tengah di Temanggung, Wonosobo, Demak, Kudus, Pati, Magelang, dan Jepara.

Ia juga merancang pembangunan sembilan belas pabrik rokok besar di sembilan belas kabupaten di tiga provinsi tersebut. Tujuh belas pabrik akan berdiri di daerah yang juga memiliki gudang tembakau, sedangkan dua lainnya di Sidoarjo dan Malang.

Konsep bisnis yang dibangun tidak hanya berorientasi pada industri besar. Di tujuh belas kabupaten yang memiliki gudang tembakau, ia berencana mendirikan ratusan perusahaan rokok UMKM yang masing-masing hanya mempekerjakan sekitar dua puluh karyawan.

“PR UMKM ini hanya akan mempekerjakan dua puluh karyawan per PR. Namun jika saya membangun, membina, dan membiayai dua ribu PR UMKM di tujuh belas kabupaten di tiga provinsi, maka artinya saya akan memiliki empat puluh ribu karyawan,” ujarnya.

Perusahaan rokok UMKM akan menjalankan sistem produksi manufacturing dengan fokus pada enam jenis rokok kretek yang menggunakan enam jenis tembakau berbeda dari berbagai daerah: Virginia Blend (tembakau Lombok), Oriental Blend (Madura), Burley Blend (Jember/Banyuwangi), Besuki Blend (Situbondo), Lumajang Blend, dan Srintil Blend (Temanggung).

Integrasi antara sembilan belas pabrik besar dengan dua ribu perusahaan rokok UMKM diharapkan mampu melahirkan kekuatan industri rokok nasional yang berdaya saing global. “Maka dari Republik Indonesia akan lahir pengusaha rokok raksasa yang akan mampu menjadi kaisar rokok dunia,” katanya.

Gagasan ini tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan bisnis, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan petani tembakau dan membuka lapangan kerja. Gus Lilur merampungkan konsep bisnis tersebut saat berada di Manila, Filipina.

“Semoga berfaedah dan menginspirasi Indonesia agar tidak ada lagi warga negara Indonesia yang tidak bangga menjadi warga negara Indonesia. Saatnya petani tembakau Indonesia kaya, saatnya rokok Indonesia berjaya, saatnya Republik Indonesia jaya raya,” pungkasnya.

Pos terkait