Viral! Video Dua Kelompok Pengamen Tawuran, 13 Orang Diamankan

  • Whatsapp
Tangkap Layah Video Emak-emak Pengamen yang Berkelahi
Tangkap Layah Video Emak-emak Pengamen yang Berkelahi

LINTASJATIM.com, Mojokerto – Video perkelahian emak-emak pengamen di simpang 4 Sekarsari, Kota Mojokerto viral di media sosial. Usai pertengkaran tersebut, 13 pengamen diamankan Satpol PP.

Video perkelahian emak-emak pengamen ini diunggah akun Sepultura Imin di salah satu grup Facebook Mojokerto. Dalam video ini, pertengkaran awalnya melibatkan seorang perempuan memakai topi hitam, kaus motif garis dan celana jeans biru dengan perempuan memakai daster biru.

Bacaan Lainnya

Sembari membawa kemoceng di tangan kirinya, emak-emak bertopi itu menjambak rambut perempuan berdaster biru. Sehingga perempuan yang tubuhnya lebih kecil itu nyaris terjungkal.

Tak terima temannya diserang, dua perempuan pengamen lainnya berusaha membalas perempuan bertopi hitam. Sejurus kemudian beberapa pemuda melerai mereka.

Namun, perempuan bertopi hitam menghampiri seorang nenek yang memakai topi rimba, rok hitam dan kemeja lengan panjang yang akan menyerangnya. Wanita bertubuh gemuk itu dua kali memukul kepala nenek tersebut.

Kericuhan ini akhirnya reda setelah sejumlah pemuda melerai mereka. Selain emak-emak dan sejumlah pemuda, terdapat anak-anak mereka di lokasi kejadian. Perkelahian antar emak-emak pengamen ini terjadi di simpang 4 Sekarsari, Jalan Residen Pamudji, Kota Mojokerto. Tepatnya di sebelah toko busana dan toko kue balok Parikesit. Saat kericuhan terjadi, lalu lintas persimpangan tersebut sedang ramai.

“Kejadiannya kemarin sekitar jam empat sore (pukul 16.00 WIB). Mereka pengamen,” kata Iqbal (20), karyawan toko kue balok Parikesit di lokasi kejadian, Rabu (5/8/2020).

Kepala Satpol PP Kota Mojokerto Heryana Dodik Murtono membenarkan video yang viral terjadi di simpang 4 Sekarsari pada Selasa (4/8) sore. Menurut dia, emak-emak yang berkelahi biasa mengemis dan mengamen di dua lokasi. Yaitu di simpang 4 Sekarsari dan simpang 4 Pemuda.

“Kemarin memang kami melihat ada viral di medsos terkait perkelahian antarpengamen. Setelah ada laporan, kami langsung ke lokasi. Dari perempatan itu (simpang 4 Sekarsari) kami amankan 13 orang yang mengamen dan mengemis,” terangnya.

Ironisnya, lanjut Dodik, 7 dari 13 pengamen dan pengemis yang diamankan masih berusia anak-anak. Usia mereka 5-15 tahun.

Ia menjelaskan, perkelahian dalam video yang viral melibatkan dua kelompok pengamen dan pengemis warga Kota Mojokerto. Para pengamen dan pengemis itu berulang kali ditertibkan. Namun mereka masih saja beroperasi di simpang 4 Sekarsari dan simpang 4 Pemuda.

Dua kelompok pengamen dan pengemis itu saling bertetangga. Dodik menegaskan, perkelahian mereka di simpang 4 Sekarsari tidak dipicu perebutan wilayah.

“Mereka sudah ada konflik di tempat tinggalnya. Saling gosip antarperempuan. Kebetulan bertemu di jalan, lalu cekcok dan berkelahi,” kata Dodik.

Menurutnya, diperlukan penanganan terpadu yang komprehensif agar tidak ada lagi pengamen dan pengemis di jalan-jalan Kota Mojokerto. Karena berulang kali ditertibkan, mereka tetap saja kembali turun ke jalan. Terlebih, mereka melibatkan anak-anak untuk mengamen dan mengemis.

“Kami berupaya mengubah mental mereka agar tidak lagi mengamen dan mengemis,” terang Dodik.

Untuk itu, pihaknya menggelar rapat koordinasi lintas dinas. Yaitu melibatkan Satpol PP, Dinas Sosial, Dinas Tenaga Kerja, Disperindag, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB (DP3AKB) Kota Mojokerto.

“Orang tua mereka kami beri pelatihan keterampilan, bantuan modal dari Disperindag. Kami lakukan pengawasan supaya anak-anak tidak dipekerjakan. Karena mempekerjakan anak ada unsur pidananya,” pungkas Dodik.

Source: detik.com

Pos terkait