Makam Warna-Warni yang Hilang Arti

  • Whatsapp
Chusnatul Jannah

Oleh
Chusnatul Jannah*

Jika kita melewati kuburan Cina merasa biasa saja. Tapi akan berbeda rasa manakala berziarah atau sekadar lewat di kuburan muslim. Apa yang terbayang? Seram, menakutkan, bulu kuduk pun langsung merinding. Namun, pemandangan berbeda nampak di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Nguwot di Kelurahan Tawangrejo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun.

Bacaan Lainnya

Nisan di TPU tersebut berwarna-warni. Sangat jauh dari kesan seram dan angker. Foto TPU itu pun akhirnya viral di media sosial. Bahkan dijadikan ajang berswa foto bersama kawan dan kerabat yang berziarah. Lebih mirip taman kota dibanding makam.

Dilansir dari Tribunnews, warga di sekitar TPU tersebut baru saja mengikuti lomba kebersihan makam yang digelar Dinas Pertamanan dan Kawasan Permukiman Kota Madiun. TPU Nguwot dinobatkan menjadi juara pertama di ajang tersebut.

“Kami bersama-sama mengecat makam ini untuk menghilangkan kesan seram, sekaligus untuk dilombakan dalam lomba kebersihan makam, sehingga kami berinisiatif untuk menghias makam ini,” kata pengurus Makam Nguwot, Gunawan, saat ditemui di lokasi, Sabtu (27/6/2020) pagi.

Asyik, menarik, unik, atau justru miris? Makam yang semestinya menjadi tempat mengingat kematian justru bisa bergeser fungsinya menjadi ajang bersenda gurau. Meski memang tak lagi terlihat menyeramkan dan angker, semestinya tempat makam tidaklah tepat dibuat demikian. Akan hilang nilai ruhiyahnya jika diwarna-warni layaknya taman ria. Bila sekadar bersih tak masalah. Tapi bila  nisan ikutan diiwarna-warni, apa urgensinya?

Menurut Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Safruddin Syarif,  makam yang dicat warna-warni seperti itu akan menghilangkan tujuan dan esensi ziarah kubur. “Makam itu adalah tempat kita mengingat kepada kematian. Makanya Kanjeng Nabi menganjurkan ziarah kubur. Jadi ziarah kuburlah kamu untuk mengingat mati. Kan kita akan mati juga,” katanya.

“Jangan lah. Karena itu bisa menyebabkan tujuan untuk mengingat mati hilang. Orang ke sana malah maksiat. Mojok, berpacaran, berciuman, selfie. Nah, itu jangan. Wong ini ke sana tujuannya untuk ingat mati kok malah selfie,” sambungnya, seperti dilansir detik.com, 30/6/2020.

Hawa seram dan angker tatkala kita melihat makam kaum muslim tidak terlepas dari pengaruh tontonan horor yang bertebaran di layar kaca. Masih teringat pula bagaimana tayangan horor mensugesti para penonton. Seperti judul “Beranak dalam kubur”, “Jenazah dikerubung Belatung”, dan film berseri yang cukup terkenal di masa lalu, Suzanna.

Dirupakanlah setan dalam film tersebut berwujud kuntilanak, sundel bolong, tuyul, jelangkung, gerandong, atau berwujud mak lampir yang bangkit kembali setelah mati. Mau tidak mau, penanaman rupa setan dalam wujud demikian pada akhirnya mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Tak ayal, kuburan diidentikkan dengan hal seram, menakutkan, angker, dan suram.

Hal ini tak lepas dari hal-hal mistis yang menyubur di kehidupan sekuler. Manusia lebih takut setan daripada kematian. Manusia lebih seram ketemu setan dibandingkan berjumpa Allah Subhanahu wa Ta’ala saat hari penghisaban amal.

Mewarna nisan dengan beragam warna adalah perbuatan yang tidak ada tuntunannya. Tak ada urgensinya. Malah menghilangkan esensi  usia manusia itu tak abadi. Berpotensi menjadi lahan baru kemaksiatan. Kebersihan makam sangat dianjurkan. Tapi mewarnainya juga tidak dituntunkan.

Makam adalah pengingat diri. Kelak kita semua mati. Dunia tak abadi. Itulah pesan tersirat dari makam. Rasulullah ajarkan kita mengambil hikmah dari ziarah kubur. Bukan mengubur nilai ruhiyah didalamnya.

Disebutkan dalam hadist Rasulullah SAW sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah, ia berkata : “Rasulullah SAW ziarah ke makam ibunya, beliau menangis, membuat orang-orang di sekelilingnya ikut menangis.”

Rasulullah SAW berkata : “Aku memohon izin kepada Tuhanku agar aku memohonkan ampun untuknya, Ia tidak memberikan izin untukku. Aku memohon izin agar aku ziarah ke makamnya, Ia memberi izin kepadaku. Maka ziarahlah kamu ke kubur, karena ziarah kubur itu mengingatkan kepada kematian”.

Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad shahih: “Dulu aku melarang kamu ziarah kubur. Ziarahlah kamu ke kubur, karena sesungguhnya ziarah kubur itu membuat zuhud di dunia dan mengingatkan kepada akhirat”.

Identitas Penulis
*Penulis adalah Pengajar serta Anggota Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

_____________________

**Kolom merupakan Rubrik Opini LINTASJATIM.com terbuka untuk umum. Panjang naskah minimal 400 kata dan maksimal 2500 kata. Sertakan riwayat singkat dan foto diri terpisah dari naskah (tidak dimasukan Ms. Word).
**Naskah dikirim ke alamat e-mail: redaksilintasjatim@gmail.com
**Redaksi berhak menyeleksi tulisan serta mempublikasi atau tidak mempublikasi tulisan.

Pos terkait