Oleh:

Imam Fadlli
(Alumni IPNU & Anggota DPRD Kab. Lamongan Fraksi Gerindra)

Hari ini, 24 Februari 2020, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) genap berusia 66 tahun, suatu usia yang sudah sangat matang bagi organisasi yang berbasis pelajar, santri dan mahasiswa Nahdlatul Ulama ini. Diusia ke-66 ini berarti IPNU telah melampaui berbagai zamannya, dari zaman orde baru, orde lama, sampai orde reformasi.

Dalam perjalan panjangnya, IPNU tidak pernah absen memberikan kontribusi untuk pengembangan sumberdaya manusia pelajar di Indonesia, program-program di semua tingkatan dari Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Cabang, Pimpinan Anak Cabang, Pimpinan Ranting hingga Pimpinan Komisariat diarahkan sesuai dengan tujuan IPNU yakni terbentuknya pelajar bangsa yang bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, berakhlak mulia dan berwawasan kebangsaan serta bertanggungjawab atas tegak dan terlaksananya ajaran islam menurut faham Ahlussunnah  wal jamaah yang beradasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Sesuai dengan mandat dan tujuannya, IPNU yang beranggotakan pelajar dengan rentang usia 12 sampai 27 tahun punya tugas yang berat karena pada usia tersebut merupakan usia yang sangat penting dalam tahapan pembentukan karakter seseorang. Pada usia 13 tahun ke atas adalah tahapann membentuk sikap bermasyarakat. Tahapan ini melatih kesiapan bergaul di masyarakat berbekal pada pengalaman sebelumnya. Bila mampu dilaksanakan dengan baik, maka pada usia yang selanjutnya hanya diperlukan penyempurnaan dan pengembangan secukupnya. (Miya Nur Andina dalam Chacha.blog: 2013

Pendek kata, anggota IPNU merupakan generasi millenial, dalam catatan para pakar demografi, Generasi Millenial adalah mereka yang lahir pada rentang tahun 1980 hingga tahun 2000. Artinya bisa dikatakan bahwa Generasi Millenial ialah generasi muda yang saat berusia 15-40 tahun. Di Indonesia, proporsi generasi millenial sekitar 34,45 persen, lebih dari sepertiga jumlah penduduk negeri ini.

Dari kajian beberapa peneliti, generasi millenial cenderung unik dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Keunikannya terletak pada penggunaan teknologi dan budaya. Karenanya, millenial seakan tidak bisa lepas dari internet, hiburan (entertainment), serta traveling. Millenial yang sangat kreatif dan percaya diri, lebih suka bekerja keras dalam bidang usaha yang digeluti, untuk kemudian dinikmati dengan perjalanan panjang dan pengalaman.

Dalam kecenderungam beragama juga demkian, millenial lebih suka belajar agama dari internet dari pada berguru kepada ustadz atau guru di madrasah dan pondok pesantren. selama ini kalangan generasi muda lebih ’nyaman’ mencari pembelajaraan keagamaan melalui media daring dan model pendidikan di luar kelas. Bahkan, sebagian kalangan muda lebih mengidolakan atau mempercayai soal keagamaan yang dilontarkan dari seorang ustaz “artis” saat melakukan tausiyah.

Hasil survei Alvara Research Center yang dipublikasikan pada Oktober 2018 mengungkap sebanyak 40,9 persen responden generasi milenial muslim Indonesia berorientasi nasionalis-religius. Sedangkan yang berorientasi nasionalis sebesar 35,8 persen. Sementara milenial muslim yang berorientasi religius berjumlah 23,3 persen.

Alvara juga sebelumnya menyurvei milenial muslim Indonesia pada Juli 2018. Hasilnya, melalui analisis K-Mean Clustering dan Discriminant, mereka mengungkap orientasi milenial muslim Indonesia ke dalam tiga pola: nasionalis, nasionalis-religius, serta religius.

"Nasionalis" adalah muslim yang menganggap tidak boleh ada ada ideologi selain Pancasila di Indonesia. Mereka juga berpandangan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan syariat Islam dan dalam bermasyarakat harus memperhatikan norma dan adat yang berlaku. Kemudian mereka yang tergolong "nasionalis-religius oriented" memandang agama dan negara bisa saling melengkapi. Menurut mereka, Islam adalah agama yang cinta damai dan inklusif, namun penerapan perda syariah di Indonesia juga perlu didukung.

Sementara itu  para muslim yang "religius" memiliki kecenderungan untuk mendirikan negara Islam di Indonesia. Mereka berpandangan seharusnya seorang pemimpin dari berbagai tingkatan harus dari kalangan islam. Bahkan, mereka menolerir penggunaan kekerasan dalam menegakkan amar makruf nahi mungkar.

Dari survei tersebut, ada 23,3 persen yang mempunyai orientasi dan kecendurangan kepada negara berdasarkan agama masih tergolong sangat tinggi, sehingga inilah tugas IPNU, bersama seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama agar generasi millenial tidak menjadi generasi yang “kagetan” dan “gumunan” dalam beragama. Lebih lagi generasi millenial tidak menjadi generasi yang berada di “garis keras” dalam memahami serta berperilaku keagaaman dalam kehifupan sehari-hari baik dalam bermasyarakat maupun berbangsa dan bermegara.

Kegaiatan-kegiatan keagamaan di sekolah-sekolah dan kampus harus menjadi kawah candradimuka penyemaian bibit-bibit unggul bangsa dengan mengorientasikan semangat islam moderat, toleran, rahmatan lil alamin, dan semangat Hubbul Wathon Minal Iman.

Kader-kader IPNU yang “kebanyakan” berasal dari madrasah dan pesantrren juga harus masuk ke sekolah-sekolah negeri untuk menjadi mentor bagi kegiatan-kegiatan rohis di sekolah-sekolah. Tentunya dengan kemasan yang menarik dan tidak kaku. Dengan modal sumberdaya manusia millenial yang banyak dari jebolan pesantren, IPNU bisa menjadi garda depan dalam gerakan millenial moderat yang nasionalis dan religius.

Jadi bukan kemudian secara struktur di sekolah-sekolah negeri itu harus ada Komisariat sekolahnya, tapi bagaimana agar nilai-nilai yang di syi’arkan IPNU selama ini bisa diterima oleh mereka melalui kegiatan-kegiatan keagamaan, pengembangan skil, dan lain sebagianya.

Semoga diusia ke 66 ini, IPNU semakin jaya, dan bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara. Amin...

Lintasjatim.com, Nganjuk - Kegiatan Parliamentary School merupakan program sekolah parlemen, pendidikan politik, dan analisa kebijakan publik. Target peserta adalah terbatas pengurus IPNU di masing-masing Pimpinan Cabang IPNU se Jawa Timur. Menjadi yang perdana, PC IPNU Nganjuk sebagai tuan rumah Korda Kediri untuk gelaran kali ini.  

Pembukaan kegiatan pada Senin (27/01) sore, pukul 16.00 WIB. Hadir langsung ketua PW IPNU Jatim, dan peserta dari berbagai daerah. Kegiatan semacam ini selanjutnya akan dilaksanakan pada setiap Korda se-Jawa Timur.

Ketua PW IPNU Jawa Timur, Khoirul Mubtadiin menjelaskan bahwa Parliamentary School merupakan program kerja Departemen Sospol PW IPNU Jatim, berdasarkan rapat pengurus harian dan Rakerwil 2018 di Malang, yang menjadi eksekusi perdana di korda Kediri.

“Ini perdana, karena tidak banyak yang berani mengambil langkah ini, kami berharap peserta dapat mengikuti dengan hikmat sesuai target.”, terangnya.

Selanjutnya, Rekan Di’in sapaan akrabnya, berharap IPNU akan banyak diskusi, dan terlibat langsung dalam kegiatan advokasi pada pemerintahan, sehingga hubungan baik antara IPNU dan pemerintah akan memberikan sumbangsih pemikiran, serta menyalurkan aspirasi dari rakyat, pada khususnya kalangan santri dan pelajar.

Materi pelatihan diantaranya adalah analisis laporan keuangan, filosofi dan prinsip anggaran, kebijakan publik, sistem penganggaran di daerah, sistem perencanaan, dan disertai praktik teknik advokasi.

H. Bashori M.Si, selaku instruktur merupakan politisi dan praktisi yang memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman tentang parlemen. Pria yang telah lima periode menjadi legisator di DPRD Kabupaten Nganjuk ini mengaku, terinspirasi apa yang dilakukan seniornya, KH. M. Jaelani Ishaq, sehingga merasa berkewajiban melanjutkan perjuangannya dalam memberdayakan pemuda NU.

“Saya kerap melakukan pelatihan sejak menjadi DPR periode kedua, saya melakukan ini karena merasa sebagai kewajiban. Banyak hal masih belum tergarap di NU yang perlu kita tau, banyak selama ini masih belum ada yang memikirkan dan mengerjakan itu.”, ungkapnya.

Selama 3 hari para peserta mengikuti kegiatan dengan antusias, banyak ilmu dan berbagi pengalaman baru mereka dapatkan, pengakuan dari salah satu peserta yaitu Joko Saiful delegasi dari PC IPNU Tulungagung, menyatakan siap menjalankan di daerahnya.

“Ilmu baru, meskipun PC selama ini sering mengadakan pelatihan namun tidak banyak berani menyentuh ranah pelatihan politik dan parlemen, selanjutnya kita berusaha mempraktekkan ilmu itu.”, kata Joko.

Pelaksanaan kegiatan berjalan lancar, hingga penutupan pada Rabu (29/01) pukul 09.00 WIB. Rencana tidak lanjut terdapat tiga poin, yakni advokasi, audiensi dengan pemerintah kabupaten dan kota, serta sekolah parlemen sebagai upaya menularkan ilmu serta materi yang diperoleh selama mengikuti parliamentary school.(tuh/im)

 

Redaktur/ : Moh. Maftuhul Khoir

Editor : Imam Samsul A

 

Nganjuk, lintasjatim.com - Agenda nasional lima tahunan yang akan diadakan Nahdlatul Ulama (NU) pada 2020 begitu istimewa. Pasalnya semangat gotong royong mensukseskan Muktamar NU ke 34 nanti, seluruh kepengurusan melakukan kirab koin muktamar, termasuk Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Nganjuk. 

Melalui kirab koin Muktamar ini kerjasama PC LP Maarif NU dan PC Lazisnu dengan melibatkan MWCNU se-Kabupaten Nganjuk. Termasuk menyisir lembaga pendidikan di bawah naungan LP Maarif NU. Dalam hal ini salah satu lembaga pendidikan yang ikut andil adalah MIN Ngudikan Kecamatan Wilangan Kabupaten Nganjuk, Selasa (14/1/2020).

Kirab Koin Muktamar NU Kabupaten  Nganjuk  tiba di Kecamatan Wilangan  Selasa Siang, yang sebelumnya telah melewati beberapa Kecamatan, yakni kecamatan Ngetos dan Kecamatan Sawahan.

kegiatan tersebut sendiri dimulai dari Desa Sudimoroharjo singgah di MTS Ki Ageng Ngaliman dilanjutkan singgah di Yayasan Roudlotul Muta’alimin  Dusun Mangarejo Desa Mancon, lalu diteruskan di  MIN Ngudikan Dusun Gaeng Desa Ngudikan sekaligus sebagai lokasi Cerimonial dan Peristirahatan Tim dari PC Laziznu Nganjuk.

Ketua MWC Wilangan KH. SUTOPO, M.Pd.I
Ketua MWC Wilangan KH. SUTOPO, M.Pd.I

Turut serta dalam kegiatan tersebut, Ketua MWC NU Wilangan Kh. Sutopo, Fatayat, Muslimat, Isnu, Ansor, Banser, Ipnu, Ippnu Kecamatan Wilangn serta keluarga besar MIN Ngudikan.

Ketua PC Laziznu Nganjuk Subhan Shofwan menuturkan, tujuan melatih siswa atau santri untuk mengenal NU lebih dini.

“Tujuan pelaksanaan kirab koin muktamar di Nganjuk ini bukan koinnya, tapi proses pendidikannya terhadap kader NU sejak dini.” Tutur Subhan.

 

Antusias Santriwan-Santriwati MIN Ngudikan
Antusias Santriwan-Santriwati MIN Ngudikan

 

Kepala Sekolah MIN Ngudikan Drs. Ali Faisol menambahkan semoga dengan adanya program koin mukhtamar NU ini bisa mengajarkan siswa atau santri untuk giat beramal sholih.

“ya mudah-mudahan kegiatan koin muhktanmar ini bisa mengajarkan kepada mereka untuk senantiasa bersedekah dan ber infaq”. ungkap Drs. Ali Faisol.

 

Kepala Sekolah MIN Ngudikan Drs. Ali Faisol Saat Memmberikan Sambutan
Kepala Sekolah MIN Ngudikan Drs. Ali Faisol Saat Memmberikan Sambutan

 

Program Koin NU, terbukti telah menghasilkan capaian yang cukup signifikan, baik dari sisi manajerial, penghimpunan, program hingga pelaporan.

Gerakan Koin Muktamar, yang diputar untuk menggalang partisipasi Nahdliyin dalam helatan lima tahunan organisasi. tentu saja memacu Nahdliyin untuk membangun kemandirian jam'iyyah dan jama'ah dalam agenda muktamar, yang mengusung tema NU Mandiri, Indonesia Bermartabat.

 

Foto Tim Koin NU Nganjuk bersama MWC Wilangan
Foto Tim Koin NU Nganjuk bersama MWC Wilangan

 

Bapak Subhan berharapan Semoga kegiatan koin NU ini dapat terlaksananya sekarang dan seterusnya, serta mudah-mudahan program-program NU lebih banyak lagi yang bisa diwujudkan, dan NU semakin dirasakan manfaatnya dalam bentuk konkret. Sehingga NU akan  terus didukung dan dicintai oleh warganya.(im)

 

Kontributor : (Imam Samsul Arifin)

Lintasjatim.com, Surabaya - Majlis Alumni IPNU ( MA IPNU) Jawa Timur mengelar Halal Bi Halal di Gedung balai diklat Kemenag pada Sabtu (06/07/2019). Halal Bi Halal ini diikuti oleh puluhan alumni Lintas generasi dan pengurus PW IPNU Jatim.

Menyambut satu abad NU yang akan jatuh pada 2024, Ketua Majlis Alumni IPNU Jawa Timur Muzammil Syafi'i meminta kader IPNU untuk menyiapakan diri mengisi pos-pos stetagis di Segala bidang, baik di dunia pendidikan, pemerintahan, ekonomi dan juga politik.

Masa depan NU dan Negara kedapan akan berada ditangan Anak Muda NU yang saat ini menjadk aktivis IPNU.

"Tahun 2024 adalah era emas NU, dimna NU memasuki usia yang ke 100 tahun, tantangan didepan semakin nyata. Kader NU harus memiliki peran nyata Ujar Muzammil

Muzammil yang juga anggota DPRD Jatim ini menyatakan, saat ini banyak kader IPNU yang meniti karir di politik dan tersebar lintas partai. Saat pilpres yang lalu pasti terjadi perbedaan pandangan dan pilihan. Untuk itu pasca Pilpres 2019 harus kembali membangun rekonsiliasi dalam keluarga besar NU.

"Alhamdulillah banyak Kader IPNU yang terpilih menjadi anggota Dpr baik ditingkatan Daerah, Provinsi Maupun Pusat. Saatnya bersatu kembali tidak ada lagi 01 atau 02 semua bersaudara dan kembali dalam ukhwah Annahdliyah," Tutupnya.

Lintasjatim.com, Trenggalek - Ratusan Kader IPNU se-Jawa Timur antusias dalam kegiatan Rapat Koordinasi Wilayah (RAKORWIL) IPNU Jatim (06/07) malam.

Agenda yang digelar oleh Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Timur tersebut salah satu sesinya diisi dengan Upgrading Kaderisasi yang dimoderatori oleh Iqbal Hamdan Habibi.

Narasumber upgrading Saman Hudi, S.Ag., M.Si. menyatakan bahwa pembuatan pedoman pengkaderan dan merekonstruksinya butuh 3 pemahaman.

"Dalam membuat sebuah pedoman pengkaderan apalagi merekonstruksi, butuh lebih dari satu ilmu/pemahaman. Yakni ilmu sosial, psikologi dan filsafat," tutur Bapak Saman Hudi

"Mengapa demikian, karena proses pendidikan IPNU itu tidak di Jawa Timur saja, tidak di Kalimantan saja. Tapi, di seluruh Indonesia," kata pria perumus Buku Pengkaderan IPNU tahun 2004 itu

"Maka dari itu, aspek sosial, aspek psikis dan filsafat adalah penting untuk diterapkan. Karena karakter setiap daerah itu berbeda-beda," ungkapnya

Lebih lanjut, Bapak Saman Hudi menekankan bahwa inti dari rekontruksi kurikulum adalah untuk membuat kader IPNU menjadi militan.

"Setelah melihat dari tujuan rekontruksi kurikulum, yaitu militansi kader IPNU dalam arti tawasuth, tawazun, tasamuh dan i'tidal (kembali di awal prinsip Nahdlatul Ulama)," papar Saman Hudi

Acara yang dihelat di PP. Hidayatut Thullab Durenan, Kabupaten Trenggalek tersebut diakhiri dengan Forum Group Discussion (FGD) guna merumuskan formulasi baru tentang kurikulum kaderisasi IPNU. (Awang)

Lintasjatim.com, Trenggalek - Dalam upaya mendorong spirit juang kaderisasi di organisasi IPNU, Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Timur menggelar Rapat Koordinasi Wilayah (RAKORWIL) Kaderisasi PP. Hidayatut Thullab Durenan Trenggalek, Jawa Timur (06-07/07).

Wakil Ketua Bidang Kaderisasi PW IPNU Jawa Timur, Ahmad Ainun Najib mengungkapkan bahwa rasa bangkit dalam kaderisasi wajib ada di organisasi.

"Semangat nahdlah (bangkit) proses kaderisasi harus ditanamkan sejak dini, ketika awal mengenal IPNU," ungkap Rekan Najib, sapaan akrabnya.

"Maka dari itu, melalui Rakorwil ini, formula-formula kaderisasi akan dirumuskan dan hasilnya segera akan direkomendasikan ke forum Rapat Kerja Nasional (Rakernas) mendatang," katanya

"Yang terpenting dalam kaderisasi adalag istiqomah berjuang di IPNU," tambahnya

Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Trenggalek Drs. H. Mukholis, MM menyampaikan tentang pentingnya pendirian IPNU di sekolah/madrasah.

"Pendirian IPNU di sekolah-sekolah sangat begitu penting adanya. Karena apa ?, dengan proses kaderisasi IPNU mulai dini akan menjadi kader-kader militan dan paham organisasi nantinya," tutur Bapak Kholis

"Program kaderisasi awal, seperti Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA) bisa dijadikan program wajib bagi sekolah," katanya

"Bila perlu, dijadikan wajib program tahunan. Entah di awal masuk sekolah atau di akhir kegiatan belajar mengajar," tambahnya

Kegiatan yang dihadiri oleh Pimpinan Cabang IPNU se-Jawa Timur tersebut dilakukan pula launching Modul Pendirian Komisariat yang dipimpin langsung oleh Wakil Sekretaris Jaringan Sekolah PW IPNU Jawa Timur Ahmad Nur Wahid.

Lintasjatim.com, Pasuruan – Ramadhan tahun ini Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Jawa Timur masa khidmat 2018-2021 mengadakan Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) II. Acara yang dihadiri oleh ketua Pimpinan Cabang IPNU se-Jawa Timur ini berlangsung di Pondok Pesantren Terpadu Al- Yasini Kabupaten Pasuruan, Sabtu (11/05/2019).

Rapimwil sekaligus buka bersama kali ini mengangkat tema "Transformasi Pelajar Menyongsong Era Society 5.0". Dalam sambutannya, Choirul Mubtadi'in ketua PW IPNU Jatim mengatakan pentingnya persiapan pelajar dalam menghadapi era society 5.0, dimana suatu masa yang mengalami perubahan perilaku sosial akibat perkembangan teknologi.

"Pelajar saat ini tidak boleh ketinggalan isue era society 5.0. dimana sebuah era yang mengedepankan integrasi antara dunia maya dengan ruang fisik. Sebelum ada internet kita bisa melihat tingkah laku lingkungan secara langsung dan nampak. Tapi sebaliknya, dengan berkembangnya dunia maya pasti perilaku-perilaku tersebut berubah, bisa mengarah ke positif dan negatif khususnya lingkungan para pelajar.” jelasanya.

Baca Juga
Bekali Banom Dengan Wawasan, PCNU Kabupaten Blitar Turba
Hanura Gugat Keputusan Pleno Penetapan Caleg DPRD Jember ke PTUN
Diduga Sopir Ngantuk, Truk Gandeng Tabrak Tiang Listik Hingga Ringsek

Senada dengan Aswandi, Ketua Pimpinan Pusat IPNU, menegaskan perlu adanya penguatan-penguatan internal untuk menghadapi era society 5.0.

"IPNU harus bisa meningkatkan Sumber Daya Manusia sebagai cara untuk menyongsong era society 5.0, salah satunya adalah dalam ranah pendidikan.” Jelasnya.

Selain itu, K.H Misbahul Munir selaku perwakilan dari pengurus wilayah NU Jawa Timur mensupport spirit dan ide gagasan Rapimwil II PW IPNU Jatim. Menurutnya, IPNU adalah organisasi pengkaderan yang harus memiliki karakter kuat sehingga mampu menghadapi perubahan dan menyesuaikan dengan kebutuhan lingkungan.

"Pelajar NU saat ini adalah pelajar yang akan menggantikan posisi kita (Red. Nahdlatul Ulama) baik di jajaran Pengurus Cabang, Pengurus Wilayah maupun Pengurus Besar Nahdlatul ulama." Pungkasnya.

Dalam acara yang dihadiri 42 Pimpinan Cabang tersebut di hadiri oleh Ketua Umum PP IPNU, Aswandi dan Sekretrais Umum, Mufarihul Hazin. Selain itu juga hadir perwakilan PWNU Jawa Timur dan jajaran pemerintah Kabupaten Pasuruan termasuk Wakil Bupati Pasuruan yang sekaligus menjadi tuan rumah atau pengasuh pondok pesantren terpadu Al-Yasini Pasuruan. (mkh)

Lintas Jatim merupakan portal berita yang menyajikan berbagai informasi aktual seputar peristiwa atau kegiatan yang ada di Jawa Timur.

14063398
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
5050
18511
23561
13810953
655978
666086
14063398
Your IP: 3.235.75.196
2020-03-30 06:39