Nalar Filosofis dalam Pengembangan Pendidikan Vokasional

11 Dec 2019
184 times

Oleh:

Amidatus Sholihat Jamil*

Prof. Dr. Ir. Djoko Kustono, M.Pd*

Gegap gempita perkembangan teknologi berimplikasi pada lahirnya budaya kerja digital sarat teknologi namun minim interaksi. Jika dalam budaya kerja tradisional kita butuh kantor, absensi, fasilitas kerja standar, serta interaksi humanis antar personal, maka pada era digital relasi demikian sangat jauh berkurang, untuk tidak mengatakan hilang. Dengan teknologi informasi pekerjaan kini bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Dengan demikian, pendidikan kejuruan dewasa ini sedang dihadapkan pada berbagai tantangan yang makin berat dan perubahan yang teramat cepat. Karakteristik output pendidikan kejuruan diharapkan mampu memenuhi tuntutan perubahan karakteristik dunia kerja di atas, antara lain: 1) memiliki kecakapan kejuruan profesional, 2) memiliki kecakapan berpikir, berolah rasa serta komitmen pada moralitas, 3) memiliki kemampuan berinovasi dan kreatifitas, serta 4) memiliki kecepatan dan ketepatan dalam pemecahan masalah kehidupan nyata.

Problematika kehidupan yang berkembang dengan bergitu cepat, harus dituntaskan melalui penyiapan SDM yang ready to use. Maka, mereformulasi pendidikan menjadi sebuah keniscayaan. Kenapa demikian?

Pertanyaan yang mengemuka adalah, sudahkah kurikulum dan pembelajaran dalam pendidikan kejuruan saat ini relevan dan antisipatif terhadap kebutuhan tenaga kerja masa depan. Pertanyaan teoritis-spesifik lanjutan adalah: seberapa relevan desain kurikulum, bagaimana kualitas pembelajaran dalam menghasilkan SDM masa depan, dan apakah pendidikan vokasional saat ini sudah terbuka (open to all) terhadap semua lapisan masyarakat sehingga mampu meyakinkan publik bahwa lulusan yang dihasilkan sekolah kejuruan benar-benar memenuhi tuntutan tersebut?

Nalar Filosofis

Asa pendidikan dewasa ini, terletak pada pengembangan kurikulum dan pembelajaran karena memiliki peran strategis dan bahkan merupakan ujung tombak pendidikan. Namun demikian, langkah niscaya dari itu semua adalah perlunya landasan filosofis pendidikan yang dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan arah pengembangan kurikulum dan pembelajaran.

Filsafat dalam konteks ini, menyediakan petunjuk untuk implementasi, misalnya untuk pengembangan program, pemilihan kegiatan pembelajaran, tujuan kurikulum, perencanaan dan penggunaan sarana dan prasarana, dan identifikasi kebutuhan yang penting dalam pendidikan kejuruan. Dengan mengkaji berbagai aliran filsafat diharapkan pendidikan kejuruan mempunyai dasar yang kuat dan pasti menuju arah yang sesuai dengan tujuan. Dalam lingkup yang lebih kecil khususnya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kajian filsafati akan lebih memantapkan guru dalam memilih strategi pembelajaran selaras dengan tujuan dan perkembangan situasi.

Guna mengembangkan pendidikan vokasional, bisa diklasifikasikan aliran-aliran filsafat yang menurut penulis relevan dan terkait dengan pendidikan kejuruan. Secara ringkas dapat dibedakan menjadi aliran realisme, idealisme, pragmatisme dan rekonstruksionisme.

Pengembangan Pendidikan Kejuruan

Lebih lanjut, karakteristik berbagai aliran filsafat sebagaimana disebut sebelumnya, memiliki implikasi dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran dapat disajikan. Antara lain:

Filsafat realisme yang diintrodusir oleh Aristoteles, Francis Bacon, John Locke, dan Pestalozzi. Aliran ini lebih menekankan kegiatannya pada upaya pencarian kebenaran di alam semesta secara fisik. Dalam pendidikan kejuruan yang realistik, seorang peserta/siswa secara teratur dan berkesinambungan belajar ketrampilan tertentu untuk menjadi ahli dalam suatu pekerjaan. Hal ini telah berlaku lama dalam dunia pendidikan kejuruan semenjak revolusi industri. Kurikulum berbasis kompetensi merupakan salah satu aplikasi dari pemikiran filsafat ini. Siswa disiapkan dengan ketrampilan spesifik untuk mengisi lowongan pekerjaan di industri. Maka pendidikan yang tepat adalah siswa dibawa pada realitas yang ada di lapangan kerja.

Selanjutnya, Dewey yang memperkenalkan aliran pragmatisme mengemukakan bahwa pendidikan merupakan suatu proses pengumpulan pengalaman pribadi dari seseorang yang berinteraksi dengan dunia. Pembelajaran harus memberikan pengalaman kepada peserta didik yang merefleksikan situasi dan lingkungan dunia kerja yang nyata. Peserta didik dalam kegiatan belajar dianggap sebagai pribadi meskipun dalam konteks sosial. Kegiatan-kegiatan belajar dalam pendidikan pragmatik diupayakan secara ”hands on” dimana siswa mendapatkan pengalaman praktis, otentik dan kontekstual sesuai dengan pengalaman riil sesuai dengan praktik-praktik yang ada di masyarakat.

Ivan Illich merupakan tokoh-tokoh aliran reconstructionis dengan dua premis yaitu : Pertama, masyarakat perlu rekonstruksi terus menerus dengan selalu melakukan perubahan. Kedua, suatu perubahan sosial akan mengakibatkan dua hal yaitu: rekonstruksi pendidikan dan peran dari pendidikan dalam merekonstruksi masyarakat.

Tuntutan dunia kerja yang makin cepat berubah memerlukan kualitas tenaga kerja yang tidak hanya mernguasai bidang yang spesifik (realist), namun juga diperlukan kemampuan adaptif lain terkait dengan pengembangan potensi adaptif yang humanis (idealist). Dalam hal ini peran pendidikan idealis adalah mewujudkan pendidikan yang humanis dan holistik.

Pragmatisme mempunyai relevansi yang tinggi dalam pendidikan kejuruan untuk menumbuhkan kemampuan lulusan dalam berpikir kritis dan mengatasi permasalahan (problem solving) dalam kehidupannya.

Pendidikan kejuruan pada dasarnya menyiapkan peserta didik untuk hidup pada era perubahan teknologi yang cepat. Hal ini menuntut pendidikan kejuruan harus merubah orientasi pendidikannya dengan tidak hanya melatih peserta didik menguasai suatu ketrampilan, tetapi lebih dari itu harus juga menyiapkan mereka untuk memiliki daya adaptasi yang baik, berkomitmen moral yang baik, mau hidup berdampingan dengan masyarakat multikultur dsb. Dalam hal ini aplikasi filsafat rekonstruksionisme menjadi relevan untuk ditekankan.

Berdasarkan analisis filsafat (idealisme, realisme, pragmatisme dan rekonstruksionisme), prinsip-prinsip pendidikan kejuruan yang layak diterapkan saat ini adalah: kurikulum yang realis (mengacu pada kompetensi) dan idealis (humanistik), diikuti dengan proses pembelajaran pragmatis (problem based learning) dan rekonstruksionisme

*Prodi Doktoral Pendidikan Kejuruan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang

Rate this item
(0 votes)

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Lintas Jatim merupakan portal berita yang menyajikan berbagai informasi aktual seputar peristiwa atau kegiatan yang ada di Jawa Timur.

13196878
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
14034
29130
132086
12829965
455544
621835
13196878
Your IP: 3.226.122.74
2020-02-21 15:49