LINTASJATIM.com, Tulungagung – Menjaga hati dan anggota tubuh dari perbuatan dosa menjadi salah satu kunci penting bagi seorang Muslim dalam menjalani kehidupan.
Hal itu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Darunnajah, Suruhankidul, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung, KH Syafi’ Mukarrom, dalam pengajian rutin malam Ahad Pon, Sabtu (12/9/2026) malam.
Kiai muda yang juga sebagai Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCNU Tulungagung periode 2024-2029 mengingatkan pentingnya menjaga keselarasan antara kondisi hati dan amal perbuatan lahiriah.
Menurutnya, keselamatan seorang Muslim hingga memperoleh surga Allah SWT tidak hanya ditentukan oleh penampilan lahiriah, tetapi juga kebersihan hati dan baiknya amal perbuatan.
“Untuk bisa selamat dan sampai ke surga Allah SWT, ada dua hal utama yang harus kita perbaiki: yang pertama adalah hati kita, dan yang kedua adalah amal perbuatan kita,” ujar Kiai Syafi’.
Ia mengingatkan umat Islam agar tidak terjebak dalam kondisi ketika penampilan luar terlihat baik, tetapi kondisi batin justru menyimpan berbagai penyakit hati.
Kiai Syafi’ kemudian mengutip sebuah kaidah mengenai pentingnya seorang mukmin melakukan muraqabah atau pengawasan terhadap diri sendiri.
إِنَّ مِنْ أَهَمِّ الْمُهِمَّاتِ عَلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ مُرَاقَبَةَ قَلْبِهِ وَجَوَارِحِهِ
“Inna min ahammil muhimmat ‘ala kulli mu’minin muraqabatu qolbihi wa jawarihihi.”
Menurutnya, perkara penting yang harus diperhatikan setiap mukmin ialah menjaga hati sekaligus seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang dilarang agama.
Beliau menyebut sejumlah penyakit hati yang perlu dihindari, seperti sombong, dengki, iri, kebencian, hingga dendam.
Selain itu, mata, telinga, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya juga harus dijaga agar tidak digunakan untuk melakukan perbuatan tercela.
Secara khusus, Kiai Syafi’ mengingatkan para santri untuk menjaga lisan dan tangan.
“Jagalah tanganmu, jangan sampai mengambil barang atau hak orang lain. Apa pun yang kita ucapkan dan lakukan di dunia ini, semuanya pasti ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT,” tegasnya.
Dalam momen itu, Kiai Syafi’ juga menyampaikan rencana inovasi pengelolaan keuangan di lingkungan PP Darunnajah.
Rencana tersebut merupakan hasil musyawarah bersama jajaran pengurus pondok pesantren.
Salah satu tujuannya ialah meminimalkan potensi pelanggaran kecil, termasuk kemungkinan hilangnya uang tunai di lingkungan santri.
Ke depan, pesantren berencana menerapkan sistem keuangan berbasis digital atau nontunai (cashless).
Setiap santri nantinya akan dibekali kartu khusus yang dirancang menyerupai kartu e-toll. Kartu tersebut akan terintegrasi dengan kartu tanda santri dan dilengkapi kode sandi pribadi.
Selain menjadi inovasi dalam sistem transaksi, penerapan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari pendidikan kedisiplinan bagi para santri sekaligus memperkecil celah terjadinya perbuatan tercela.
Kiai Syafi’ juga mengajak jemaah merenungkan besarnya nikmat kesehatan yang diberikan Allah SWT.
Ia menyampaikan kisah seorang pengusaha sukses yang telah berusia lanjut dan harus menjalani perawatan serta operasi di rumah sakit bertaraf VIP.
Dalam kisah tersebut, biaya perawatan sang pengusaha mencapai Rp80 juta. Setelah menjalani perawatan, seluruh biaya pengobatan dilunasi oleh anaknya.
Namun, sang ayah justru menangis di hadapan dokter.
Ketika ditanya alasan menangis meski seluruh biaya pengobatan telah dibayarkan, ia mengaku tersentuh karena menyadari besarnya nikmat kesehatan yang selama ini diberikan Allah SWT tanpa meminta imbalan.
“Aku menangis bukan karena persoalan uangnya. Aku menangis karena menyadari, dokter ini baru melancarkan pencernaan atau ambeyenku sekali saja biayanya sudah mencapai 80 juta rupiah,” bebernya.
Lantas, beliau menerangkan betapa luar biasanya Allah SWT yang telah melancarkan fungsi tubuhku, menyehatkan mataku, telingaku, dan organku selama puluhan tahun secara gratis tanpa pernah meminta bayaran sedikit.
Melalui kisah tersebut, Kiai Syafi’ mengingatkan jemaah bahwa seluruh anggota tubuh merupakan nikmat besar dari Allah SWT. Karena itu, nikmat tersebut harus digunakan untuk menjalankan kebaikan dan beribadah.
Kiai Syafi’ juga mengingatkan bahwa anggota tubuh manusia kelak akan menjadi saksi atas seluruh perbuatan yang dilakukan selama hidup di dunia.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an ‘Al-yawma nakhtimu ‘ala afwahihim wa tuklamuna aidihim wa tasyhadu arjuluhum bima kanu yaksibun’.
Ayat tersebut mengingatkan bahwa pada hari kiamat manusia akan dibungkam, sedangkan tangan dan kaki akan menjadi saksi atas apa yang telah diperbuat.
Karena itu, Kiai Syafi’ berpesan agar para santri dan jemaah menjaga pandangan, pendengaran, ingatan, serta setiap langkah agar senantiasa berada dalam hal-hal yang diridai Allah SWT.
Ia juga mengingatkan umat Islam untuk menjauhi penyakit ragu atau rayb serta dendam yang tersimpan di dalam hati.
Menurutnya, rasa syukur atas nikmat Allah SWT tidak cukup hanya diucapkan, tetapi juga diwujudkan dengan mengoptimalkan seluruh anggota tubuh dan potensi diri untuk beribadah.
“Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun,” ujarnya mengingatkan tujuan penciptaan jin dan manusia untuk beribadah kepada Allah SWT.
Pengajian malam Ahad Pon tersebut kemudian ditutup dengan doa bersama dan lantunan shalawat. Suasana khidmat menyelimuti Masjid PP Darunnajah hingga rangkaian pengajian berakhir.





