Siapkah Jawa Timur New Normal Life?

  • Whatsapp
Rut Sri Wahyuningsih
Rut Sri Wahyuningsih

Oleh
Rut Sri Wahyuningsih*

Sejak 26 Juli 2020, kasus positiv Covid-19 telah menjadi yang terbanyak di Indonesia,  menggantikan DKI Jakarta. Per 4 Juli 2020, dengan 13.460 kasus, setara dengan 21, 66. % total kasus Nasional.

Bacaan Lainnya

Angka ini ternyata tak menyurutkan Jawa Timur untuk menjalani New Normal Life sesuai arahan pemerintah pusat. Bisa dikatakan , keadaan masih berdarah-darah namun mengapa ngotot, ada apa?

Hal ini terjawab ketika presiden melakukan agenda kerja kepala negara di Banyuwangi, “Harapan, Bapak Presiden di sana masyarakat bisa produktif untuk mengeksploitasi wisata yang ada di Banyuwangi sehingga kita tidak terbelenggu dengan kondisi PSBB, tidak terbelenggu dengan kondisi Covid-19,” ucap Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono.

Kemudian Kabaharkam (Kepala Badan Pemelihara Keamanan) Polri Komjen Pol. Agus Andrianto yang mengungkapkan bahwa  saat ini kondisi wilayah Jawa Timur menjadi perhatian pemerintah pusat.

“Kami hadir di Jawa Timur melaksanakan perintah bapak Kapolri, tentunya didasari oleh Jawa Timur ini kan posisinya sangat strategis, merupakan penopang ekonomi wilayah timur Indonesia,” ujar Agus, Jumat (malangtimes.com, 29/5/2020).

Hingga triwulan III 2019, produk domestik regional bruto (PDRB) Jatim yang mampu memberikan kontribusi 14,92 persen terhadap PDB Nasional. Dalam masa pandemi Covid-19, Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat perekonomian Jawa Timur pada triwulan I 2020 masih tumbuh sebesar 3,04 persen.

Sebab alasan inilah maka mau tak mau Jawa Timur harus New Normal Life. Dan ini adalah keputusan yang zalim. Sangat terlihat ketika pandemi Covid-19 diatasi dengan cara ekonomi maka pada saat itu bisa dipastikan, negara kita tak pernah menganggap rakyat itu penting. Dan posisi negara bukan pelayan umat, jika pelayan maka tak akan mendapatkan profit manteri. Tapi negara berdiri sebagai pengelola, pengusaha, pelegalisir UU eksplorasi dan lain-lain.

Ekonomi menjadi pijakan pengambil kebijakan penangan Pandemi Covid-19 ( ekonomi-politik) dan itu sangat bertentangan dengan ayat berikut: Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: “… Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya…”( QS Al-Maidah : 32).

Sebagai negara dengan mayoritas muslim,Jawa Timurpun bukan hanya lumbung padi namun juga ulama, akankah berdiam diri jika ada upaya pemojokkan terhadap syariat Islam? Pemisahan agama dari kehidupan, padahal kita tahu seorang muslim wajib melaksanakan Islam secara Kaffah agar nyawa kita tak jadi taruhannya. Wallahu a’ lam bish showab

Identitas Penulis
*Penulis adalah Anggota Institut Literasi dan Peradaban

_____________________

**Kolom merupakan Rubrik Opini LINTASJATIM.com terbuka untuk umum. Panjang naskah minimal 400 kata dan maksimal 2500 kata. Sertakan riwayat singkat dan foto diri terpisah dari naskah (tidak dimasukan Ms. Word).
**Naskah dikirim ke alamat e-mail: redaksilintasjatim@gmail.com
**Redaksi berhak menyeleksi tulisan serta mempublikasi atau tidak mempublikasi tulisan.
 

Pos terkait