Di Persimpangan Jalan, Mati Sebab Corona atau Mati Kelaparan?

  • Whatsapp
Gambar Ilsutrasi

Oleh
Achmad Murtafi Haris*

Sulitnya penerapan PSBB secara konsisten, terbukti dengan banyaknya pelanggaran, adalah karena natur manusia yang mobile dan tuntutan ekonomi. Manusia bukan burung yang bisa bertahan dalam sangkar meski sebenarnya mungkin burung juga tidak betah. Hanya karena tidak bisa ngomong dan tidak berdaya, manusia menyangkanya betah. Terkait tuntutan ekonomi, ada yang mengatakan, kalau terus-terusan di rumah dan tidak bekerja, kita selamat dari Corona tapi mati kelaparan.  

Bacaan Lainnya

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau Lockdown versi Indonesia hingga kini telah memunculkan masalah baru, seperti bertambahnya tunawisman di Jakarta. Seorang penjual kopi keliling sambil menenteng termos karena sepinya pembeli, akhirnya dia keluar dari kos dan memilih jadi gelandangan tidur beralaskan karton.

Mirisnya lagi, dia adalah seorang perempuan jomblo alias Jomblowati. Ketika ditanya oleh Bilqis Manisang dari TvOne, mengapa bertahan tidak pulang saja? “Saya pingin melunasi hutang dulu, tidak enak pulang ada tanggungan”. Sungguh jawaban yang mulia, disaat banyak orang mencari uang dengan ngemplang, dia yang miskin tetap bertanggung jawab membayar hutang.

Kebijakan melarang mudik disaat dunia kerja pada off mengakibatkan banyaknya orang terkatung-katung di ibu kota. Mengapa tidak justru mereka yang difasilitasi pemerintah untuk pulang kampung seperti halnya tenaga kerja Indonesia di luar negeri? Bukankah lebih murah membiayai transport pemulangan daripada pemberian bantuan langsung tunai. Sekaligus menghidupkan ekonomi pedesaan lewat pertanian yang selama ini ditinggalkan karena mengejar gula-gula ibu kota.

Jikalau selama ini urbanisasi menjadi masalah sosial, maka sekarang saatnya membuat arus balik ke kampung halaman dan menghidupkan desa dan dirancang pembangunan perekonomian baru berbasis desa. Mereka yang difasilitasi pulang kampung terlebih dahulu harus melewati screening kesehatan untuk menjamin tidak membawa virus saat sampai kampung.

Segala upaya mesti dicurahkan untuk mencari solusi selain PSBB atau Lockdown versi Indonesia ini. Di sana mesti ada cara lain yang lebih solutif dan proporsional. Bukan dengan menimbulkan masalah baru seperti lolos dari Korona tapi mati kaliren (kelaparan), kata orang Surabaya. Janganlah demi memburu tikus satu lumbung padi dibakar atau membunuh nyamuk dengan bom.

Dr. John Ioannadis dari Stanford University menulis di Sunday Times UK, bahwa bahaya Covid-19 tidak sebesar yang dibayangkan. Tingkat kematian Covid-19 berdasarkan World Health Organization (WHO) adalah 3,4% dari penderita. Modelling, Imperial College London mengeluarkan rilis berdasarkan data yang kurang akurat, bahwa 500.000 warga Inggris terancam kematian akibat Covid-19 jika tidak diambil langkah drastis dalam mengatasi wabah tersebut.

Semenjak itulah dunia menjadi sedemikan heboh hingga menerapkan kebijakan Lockdown. Kenyataannya, menurut Dr. Ioannadis, jumlah yang terpapar Covid-19 jauh lebih banyak dari data resmi. Artinya bahwa kebanyakan cukup kebal dalam mengatasi virus tersebut. Di Robbio Italia Utara yang terinfeksi adalah 11% dari penduduk dan di Gangelt Jerman Barat 14%, prosentase yang jauh lebih tinggi dari data resmi. Tes anti-body di New York Amerika pada akhir April menunjukkan bahwa 25% dari warganya terinfeksi sementara data resmi yang hanya 1,7%.

Temuan selanjutnya adalah bahwa covid-19 tidak seganas yang dibayangkan semula. Untuk anak kecil ia tidak lebih berbahaya dari flu biasa. Ia tampak mematikan bagi yang terinfeksi usia 65 tahun ke atas yang tingkat kematiannya 90-95%. Ia juga banyak merebak di lingkungan rumah sakit seperti yang terjadi di Eropa, Bergamo Italia dan Queens New York yang separuh penularan terjadi karena kontak dengan pasien dan tenaga medis.

Melihat kenyataan ini, bahwa ia lebih berbahaya bagi kelompok rentan dan kecenderungan penularan pada lingkungan terbatas, maka perlu ditinjau ulang kebijakan lockdown yang nyata-nyata mematikan sendi-sendi perekonomian masyarakat meski tetap waspada (mass surveillance). Rapid test harus terus digalakkan meski ia hanya bisa menjangkau sebagian kecil populasi.

Dedi Mulyadi, anggota DPR RI fraksi Golkar dan mantan bupati Purwakarta seperti dikutip dari CNN Indonesia, coba menyampaikan gagasan selain PSBB. Dia mengatakan bahwa PSBB tidak lagi efektif dengan dibukanya sektor transportasi yang menimbulkan kerumunan. Masih adanya toko yang buka sementara yang lain tutup menimbulkan kerumunan di toko tersebut. Juga masalah distribusi bantuan masyarakat yang kurang tepat sasaran dan kurangnya akurasi data, menjadikan PSBB tidak efektif. Untuk itu Dedi menawarkan gagasan Karantina Komunal berbasis RW atau desa yang menurutnya lebih bisa berjalan.

Masyarakat pedesaan telah terbiasa menyelenggarakan kebutuhan bersama secara mandiri. Mereka dengan dibantu pemerintah pasti bisa menjalankan program pencegahan penyebaran Covid-19. Ide ini sejalan dengan tren mengangkat ke permukaan kearifan lokal dimana dalam diri masyarakat sebenarnya terdapat banyak potensi yang mampu mengatasi sendiri masalah yang dihadapi. Sebuah potensi yang tenggelam oleh kebijakan top down yang struktural yang mematikan kreatifitas warga.

Walhasil, harus dicari alternatif yang efektif yang tidak mengorbankan banyak hal. Sepertinya sederhana, orang disuruh menetap di rumah selama dua minggu untuk memutus mata rantai penularan. Tapi penerapannya tidaklah sesederhana itu. Dalam Logika diajarkan tentang kesalahan dalam berfikir atau Fallacy.

Jalaluddin Rahmat dalam Rekayasa Sosial: Reformasi atau Revolusi? mengatakan, bahwa salah satu penyebab kesalahan berfikir adalah tatkala mengira bahwa apa yang sukses di tempat lain akan sukses diterapkan di tempat sendiri. Kebijakan Lockdown yang sukses diterapkan di China akan sukses diterapkan di Indonesia. Padahal ada perbedaan komposisi satu sama lain yang membuatnya tidak bisa ditiru.

Atau yang disebut dengan Fallacy of Composition. Perhitungan yang tepat dan pilihan untuk tidak menabrak normalitas secara berlebihan seperti sebisa mungkin tidak menghalangi mobilitas manusia, adalah kunci solusi yang efektif dalam menaklukkan Covid-19. Otherwise, sulit efektif dan akan banyak ruginya dari untungnya.

Identitas Penulis
*Penulis adalah Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

_____________________

**Kolom merupakan Rubrik Opini LINTASJATIM.com terbuka untuk umum. Panjang naskah minimal 400 kata dan maksimal 2500 kata. Sertakan riwayat singkat dan foto diri terpisah dari naskah (tidak dimasukan Ms. Word).
**Naskah dikirim ke alamat e-mail: redaksilintasjatim@gmail.com
**Redaksi berhak menyeleksi tulisan serta mempublikasi atau tidak mempublikasi tulisan.

Pos terkait