Lintasjatim.com, Surabaya - Masyarakat Jawa Timur mendeklarasikan cinta Papua melalui kegiatan yang digagas Kepala Kepolisian Resor Kota Besar (Kapolrestabes) Surabaya Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Sandi Nugroho. 

Kegiatan yang berlangsung di depan Monumen Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Jalan Polisi Istimewa Surabaya, itu dihadiri perwakilan masyarakat dari seluruh daerah kabupaten/ kota se- Jawa Timur.  

"Kegiatan pada pagi hari ini juga melibatkan seluruh komunitas yang ada di Surabaya, mulai dari Bonek, pengemudi ojek 'online', Banser, pelajar, mahasiswa,  ibu rumah tangga, serta pemerintah daerah, termasuk TNI - Polri," ujar Kapolrestabes Sandi kepada wartawan di Surabaya, Minggu.

Masyarakat asal Papua tampak diberi panggung seluas-luasnya dalam kegiatan ini, di antaranya memimpin bernyanyi dari awal hingga akhir acara, serta menari yang setiap gerakannya diikuti oleh segenap komunitas dari daerah lain yang hadir. 

"Kegiatan hari ini adalah wujud nyata bahwa masyarakat Jawa Timur cinta Papua," katanya.

Sebagai provinsi paling timur Pulau Jawa, Kombes Pol Sandi mengungkapkan, Jawa Timur harus menjadi inspirasi bagi bangsa Indonesia bahwa persatuan dan kesatuan merupakan inti dari pembangunan.

"Solidaritas yang tercermin dalam kegiatan hari ini menunjukkan bahwa kita semua bersaudara," ucapnya. 

Mantan Analis Kebijakan Madya Bidang Pidana Ekonomi Khusus (Pideksus) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri ini lebih lanjut berpesan kepada masyarakat Papua di manapun berada agar turut menjaga kemananan yang kondusif, serta bersama-sama membangun bangsa dan negara Indonesia.

Source: jatim.antaranews.com

Lintasjatim.com, Malang - Beredar isu yang menyebut mahasiswa asal Papua di Malang mendapatkan perlakuan diskriminatif. Benarkah?

Simak saja pengakuan dari Nina Awendu, mahasiswi Stisospol Waskita Dharma. Ketika situasi memanas di luaran sana, Nina justru merasa adem ayem saja di Malang.

“Saya dan teman-teman malah diajak ibu-ibu ikut lomba 17-an. Lomba makan krupuk dan pecah air. Malamnya, kami diajak makan-makan,” kata Nina, kepada radarmalang.id.

Nina yang kuliah sejak 2017 itu saat ini kost bersama empat temannya di kawasan Jalan Hamid Rusdi.

Nina mengungkapkan, ketika ada kericuhan di Kayutangan, Kamis lalu (15/8) orang tuanya di Papua sempat waswas. “Dari pagi sampai malam telepon terus. Tapi kami santai saja di kosan seperti biasa,” sambung mahasiswi asal Jayapura itu.

Ia berpesan kepada seluruh mahasiswa Papua agar kembali ke niat awal di Kota Malang. Yakni menempuh pendidikan. Sehingga harapannya saat kembali, dapat bermanfaat bagi tempat asal.

“Ya kuliah aja, nanti kita kalau sudah selesai, kita pulang ke Papua kita bangun SDM-nya. Biar papua maju dan dikenal banyak orang,” imbaunya ditujukan kepada rekan-rekannya sesama mahasiswa asal papua.

Wali Kota Malang, Sutiaji saat ditemui menjamin keamanan mahasiswa Papua yang tinggal di Kota Malang. Dia pun menggaransi tak akan ada rencana untuk memulangkan mereka ke Papua.

“Mahasiswa Papua ini kan anak-anak saya juga. Kita jaga keutuhan NKRI jangan terprovokasi,” tegasnya. [ndn]

Source : radarmalang.id

Lintasjatim.com, Surabaya - Rektor Universitas Dr Soetomo Surabaya Dr Bachrul Amiq bersama pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa mengajak dialog perwakilan mahasiswa asal Papua yang kuliah di kampus tersebut guna menenangkan situasi, menyusul adanya penangkapan sejumlah mahasiswa Papua di Surabaya akhir pekan lalu.

Bachrul Amiq menyayangkan terjadinya peristiwa tersebut dan mengimbau mahasiswa Papua tidak takut, apalagi sampai terpancing isu-isu provokatif yang berkembang.

"Kami tentu menyayangkan dan prihatin kejadian seperti itu, mestinya hal tersebut tidak perlu terjadi. Ada 100 lebih mahasiswa asal Papua di Unitomo, maka dari itu kami menjamin di lingkup pendidikan Unitomo tidak akan ada perlakuan diskriminasi maupun rasisme," ujarnya saat dialog di Gedung Rektorat Unitomo Surabaya, Senin (19/8/2019).

Menurut Rektor, sebanyak 26 mahasiswa baru asal Papua rencananya menjadi mahasiswa Unitomo pada tahun ajaran 2019, sehingga pihaknya perlu melakukan koordinasi dengan perwakilan mahasiswa Papua untuk menenangkan keadaan dan memberikan rasa nyaman.

Untuk menjamin keamanan dari mahasiswa asal Papua, lanjut Bachrul, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan kepolisian guna mengamankan lingkungan setempat.

Dalam dialog tersebut, perwakilan mahasiswa asal Papua di Unitomo menyampaikan sikap mereka atas peristiwa yang terjadi di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya. Mereka menyatakan tidak terpengaruh dengan kejadian itu, namun berharap hal tersebut tidak terjadi lagi di masa mendatang.

"Secara psikologis kami terganggu, tapi kenyamanan dan keamanan mahasiswa Papua yang tinggal di sekitar Nginden, Bratang, Semolowaru dan lingkungan sekitar kampus juga aman, masyarakat juga ramah. Harapan saya hal seperti ini jangan terjadi lagi di kemudian hari, jangan terjadi rasisme dan terpecah belahnya kita," kata Faniz Pamius Wenda selaku koordinator senior mahasiswa Papua di Unitomo.

Emolita Manibuy, mahasiswa Papua lainnya dari Fakultas Pertanian Unitomo, mengaku sempat merasa takut mendengar insiden di asrama mahasiswa tersebut.

Menurut ia, masyarakat di sekitar tempatnya tinggal selama di Surabaya tidak melakukan tindakan diskriminasi terhadap dirinya dan teman-teman lainnya.

"Saya sekarang lagi menyusun skripsi, saya mau bimbingan tapi saya takut mendengar peristiwa kemarin itu. Semoga tidak terjadi seperti ini," kata mahasiswa semester 8 Unitomo itu.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera beberapa saat sebelumnya menegaskan bahwa hingga saat ini polisi tidak melakukan penahanan terhadap mahasiswa Papua. Polisi hanya mengamankan puluhan mahasiswa Papua yang ada di Surabaya agar tidak terjadi bentrok dengan organisasi masyarakat.

Pengamanan pun tidak berlangsung lama, karena pada malam hari para mahasiswa telah dipulangkan.

"Kita tegaskan tidak ada penahanan, tidak ada penangkapan, yang ada kita mengamankan 43 mahasiswa tersebut dikarenakan situasi kondisi yang mana masyarakat dan beberapa OKP, ormas akan masuk ke dalam. Kalau kita tidak amankan, akibatnya justru terjadi bentrok masyarakat dengan mahasiswa terjadi," ujar Barung kepada pers.

Source: jatim.antaranews.com

Lintasjatim.com, Surabaya - Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Luki Hermawan berharap acara cangkrukan yang digelar Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) setempat dan Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya (IKBPS) di rumah dinasnya pada Senin malam dapat meredakan kekhawatiran.

Luki menyampaikan pesan kepada warga di Papua untuk tidak perlu khawatir dengan keadaan keluarganya di Surabaya dan menyebut isu pengusiran adalah hoaks.

"Banyak telepon dari keluarga bilang diusir, ternyata memang berita yang di sana dengan apa kejadian ini sangat berbeda. Kita sama-sama dengan Ikatan Keluarga Besar Papua bisa menyampaikan supaya keluarga yang di Papua agar tahu persis apa yang terjadi di sini," ujar Luki.

Senada dengan Kapolda, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyampaikan persaudaraan harus terus dipupuk sebagai penguat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta merapat Merah Putih.

"Indonesia bisa menjadi bangsa yang bermartabat jika kita bersama-sama menjaga persaudaraan dan persatuan," kata mantan Menteri Sosial itu.

Selain itu, dalam Nawa Bhakti Satya ke-9, Khofifah ingin mewujudkan Jatim Harmoni. Yang berarti meskipun banyak suku dan rumpun, tapi harus mengedepankan persatuan.

"Kami ingin menyampaikan bahwa kami bersaudara, kami bersama membangun persaudaraan dengan hati yang bersih. Saudara kami di Papua, berada di mana saja, kebersamaan kami malam ini mudah-mudahan menjadi perekat di antara kami semua," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya (IKBPS) menitipkan masyarakat Papua yang tinggal di Surabaya dan Jatim agar tetap menjalankan aktivitas dengan damai.

"Kami ingin beraktivitas, bekerja, berkuliah dengan damai. Pelangi itu indah karena terdiri dari berbagai macam warna. Mari kita jaga perbedaan, hidup rukun sehingga Bhinneka Tunggal Ika bisa terwujud dalam aktivitas sehari-hari," ujarnya.*

Source: jatim.antaranews.com

Lintasjatim.com, Malang - Wali Kota Malang Sutiaji menjelaskan kronologi terkait peristiwa bentrokan yang terjadi pada Kamis (15/8/2019) antara sekelompok warga Kota Malang dengan mahasiswa asal Papua, di kawasan Rajabali, Kota Malang, Jawa Timur.

Sutiaji mengatakan bahwa, berdasarkan laporan yang diterima dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Malang, para mahasiswa asal Papua tersebut tengah melakukan perjalanan dari Stadion Gajayana menuju Balai Kota Malang.

Para mahasiswa Papua yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) tersebut akan melakukan aksi damai di Balai Kota Malang, mengecam penandatanganan New York Agreement antara Pemerintah Indonesia dan Belanda pada 15 Agustus 1962.

"Sekitar pukul 08.55 WIB, para mahasiswa itu tiba di simpang empat Rajabali dan bertemu sekelompok warga Kota Malang. Kemudian terjadi perselisihan atau adu mulut," kata Sutiaji, di Kota Malang, Senin malam.

Sutiaji menjelaskan, akibat perselisihan tersebut terjadi keributan antara kedua kelompok yang berujung bentrokan. Kejadian tersebut, juga membuat masyarakat yang tinggal di dekat kawasan Rajabali keluar dan menyaksikan bentrokan hingga terlibat di dalamnya.

Bentrokan antara kedua kelompok tersebut semakin memanas. Puncaknya, kurang lebih pada pukul 09.20 WIB, kedua kelompok saling melempar batu, sehingga membahayakan para pengendara kendaraan bermotor yang melintas.

"Pada saat saling lempar batu itu, dilerai oleh pihak kepolisian dan seketika bisa berhenti," ujar Sutiaji.

Atas kejadian tersebut, Sutiaji atas nama Pemerintah Kota Malang menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Sutiaji juga telah bertemu dengan warga yang terlibat bentrokan dengan mahasiswa asal Papua tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, Sutiaji menegaskan kepada warga bahwa semua warga negara Indonesia memiliki hak untuk menyampaikan pendapat. Dalam menyampaikan pendapat, sesungguhnya bisa dilaksanakan tanpa ada gangguan selama mentaati aturan yang berlaku.

Pemerintah Kota Malang juga menegaskan bahwa hingga saat ini tidak pernah ada kebijakan yang dikeluarkan untuk memulangkan para mahasiswa asal Papua yang tengah belajar di Kota Malang, pasca terjadinya bentrokan.

source: jatim.antaranews.com

Lintas Jatim merupakan portal berita yang menyajikan berbagai informasi aktual seputar peristiwa atau kegiatan yang ada di Jawa Timur.

11423570
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
4239
12124
57187
11175715
322129
465560
11423570
Your IP: 3.227.3.146
2019-11-21 09:43