Publikasi Internasional dan Kanalisasi Non English Profecient

02 Jul 2019
201 times

Oleh

Achmad Murtafi Haris*

Suatu ketika di UIN Sunan Ampel Surabaya diadakan kegiatan peningkatan kapasitas dosen dalam penulisan paper di jurnal internasional terindeks Scopus. Dipaparkan oleh narasumber pilihan diksi-diksi bahasa Inggris yang lebih tepat dan strong dalam penulisan paper. Seperti untuk mengatakan “melakukan research” jangan diterjemahkan “doing research”,  tapi gunakan “conducting research”. Kata ‘doing’ kurang berbobot untuk academic writing. Banyak lagi yang disampaikan yang intinya terkait bagaimana paper yang ditulis qualified untuk dimuat di jurnal internasional.

Tentang jurnal internasional, syarat awal untuk dimiliki adalah kemampuan berbahasa Inggris dengan baik. Tanpanya, nonsense.

Materi academic writing Mensyaratkan tingkat kemampuan bahasa Inggris tertentu.  Idealnya, ia bagi mereka yang telah mencapai  skor Toefl ITP di atas 500. Di bawah itu, sulit rasanya pembelajaran efektif. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 92 Tahun 2014 tentang Syarat Menjadi Profesor (dan yang telah profesor) yang mewajibkan  menulis di jurnal terindeks Scopus menjadi dipertanyakan pula efektifitasnya.

Ia bahkan mengakibatkan  moralitas akademik tergadai. Penelitian yang seharusnya merupakan passion dalam membuktikan, menerangkan (yang tampak) dan mengungkap (yang tidak tampak/metafisika), kata Abid Aljabiri, menjadi kegiatan yang  penuh lika-liku di luar inti kerja penelitian.  Padahal, Francis Bacon (w. 1626), bapak empirisme, karena saking semangatnya meneliti ketahanan daging ayam dari kebusukan jika berada di tempat dingin, dia sampai sakit dan akhirnya  meninggal.  

Tuntutan publikasi internasional justru memunculkan banyak biro jasa  dengan biaya yang tidak murah, mulai dari 18jt hingga 60jt. Parahnya lagi, setelah dicek, ternyata paper published di jurnal predator alias abal-abal. Hanya karena ia berdomisili di luar negeri ia dianggap internasional. Aturan publikasi paper di jurnal terindeks Scopus pun justru tidak hanya meninggalkan riak tapi limbah besar bagi dunia keilmuan Indonesia.

Dalam perbincangan dengan rekan Warek III Universitas Kristen Indonesia Maluku, Steve Gaspersz, terlontar ide agar kewajiban publikasi internasional tidak dikenakan kepada mereka yang tidak pernah mengenyam pendidikan di Barat atau yang  kuliahnya berbahasa Inggris. Mereka yang murni alumni dalam negeri atau Timur Tengah, dibebaskan dari kewajiban tersebut. Untuk mereka dibuatkan aturan yang berbeda yang mendorong berkembangnya potensi peneliti lokal dengan penekanan aspek genuine, significance dan prominence. Bukankah teramat banyak obyek lokal yang terpendam dalam manuskrip, artifak dan budaya kita yang perlu diangkat dalam penelitian. Bukankah aspek lokalitas ketimuran (local wisdom) adalah sesuatu yang seksi di mata Barat.

Indonesia dengan 742 bahasa/dialek, 478 suku, luas 5,19 juta kilometernya, posisi antara dua benua dan dua samudra, jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dan kekayaan alam melimpah, adalah obyek yang tidak habis untuk diteliti. Kekayaan sejarah yang konon  Firaun (2000SM) telah datang ke Nusantara untuk  mengambil kapur barus sebagai bahan kimia  pengawet mummi, adalah obyek sejarah yang menarik ditelusuri. Juga tentang peran ulama Nusantara sebagai Imam besar (bukan sekadar ustadz biasa apalagi sekedar mutawwif)  di Masjidil Haram sebelum kekuasaan Dinasti Sa’ud dan Wahabisme, adalah obyek penelitian yang mahal dalam kajian sejarah intelektual Islam global.

Deputi Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpustakaan Nasional, Ofy Sofiana mengatakan, bahwa pihaknya akan mendigitalisasi 11.000 manuskrip kuno Indonesia. Proses input yang memakan waktu sudah dimulai. Di bidang keagamaan pun terdapat ribuan manuskrip kuno. Pertanyaannya, akankah hal itu berkorelasi positif bagi gairah penelitian Indonesia yang sekarang berada di peringkat keempat di Asean?

Kewajiban publikasi internasional dirasa telah jauh  mengalihkan esensi yang sebenarnya dari kerja penelitian. Kalau memang alat bahasa tidak dimiliki, janganlah dipaksa untuk mencapai reputasi internasional. Dukunglah mereka menjadi peneliti lokal yang produktif, kreatif dengan temuan yang luar biasa yang mampu menginspirasi dunia.  Bukan sebaliknya, sibuk mengurus satu paper yang untuk mendengar kabar ditolak saja menunggu tahunan. Kreatifitas pun mandeg lantaran tersita oleh tuntutan yang jauh.

Mengapa tidak dibuat alternatif aturan yang mampu  mendorong penelitian seperti yang dilakukan oleh Agus Sunyoto dalam menggali jejak sejarah Islam awal di Indonesia, khususunya Wali Songo. Seperti halnya Tuanku Rao yang rajin mengoleksi manuskrip kuno yang salah satunya berasal dari naskah Cina kuno yang tersimpan di Kelenteng Sam Po Kong Semarang.  Yang mana dari situ terungkap sejarah Laksamana Cheng Ho dan kaitannya dengan kedatangan Sunan Ampel ke Nusantara dari Campa pada awal abad kelima belas.

Ilmuan Indonesia di awal kemerdekaan telah menghasilkan karya dalam bentuk monografi yang telah  diterjemahkan dalam bahasa asing oleh ilmuwan Barat. Seperti yang dilakukan oleh Benedict Anderson dan Cornell University yang banyak mengenalkan karya-karya intelektual Indonesia ke luar negeri, seperti karya Ir. Soekarno, Pramoedya Ananta Toer dan Mochtar Lubis. Sebuah karya lokal yang genuine yang fenomenal (meski tidak berbahasa Inggris) yang patut ditiru oleh generasi masa kini. Sebuah model kerja ilmiah yang patut ditiru dan didukung pengembangannya dalam  aturan terkait tridarma perguruan tinggi. Agar dunia akademis tidak terjebak pada standarisasi global yang justru menghilangkan potensi besar  peneliti Indonesia meski tidak cakap berbahasa Inggris atau non english proficient.

 

*Dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

 

Rate this item
(1 Vote)

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Lintas Jatim merupakan portal berita yang menyajikan berbagai informasi aktual seputar peristiwa atau kegiatan yang ada di Jawa Timur.

9459671
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
11561
17901
47503
9214071
402050
465032
9459671
Your IP: 54.81.69.220
2019-07-23 16:40