"SEMUA GARA-GARA AMERIKA"

13 Dec 2018
674 times

Oleh

Achmad Murtafi Haris (Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya)

Dalam perbincangan tentang kondisi umat Islam di dunia yang terpuruk di banyak bidang, orang sering menyebut Barat dan khususnya Amerika ada di balik itu semua. Ketika konflik terjadi di banyak negara Arab seperti di Mesir, orang juga tidak segan-segan mengatakan bahwa jatuhnya Mursi adalah skenario Amerika. Mereka pun mengabaikan sangsi ekonomi Amerika dan Eropa terhadap pemerintah sementara Mesir bentukan militer yang menjatuhkan Mursi.  Demikian pula dengan konflik di Suriah yang oleh Duta Besar Suriah Bassam Alkhatib baru-baru ini di UIN Surabaya dikatakan bahwa ini adalah ulah Amerika yang membuat semua jadi porak poranda.

Di antara tokoh pemikir Indonesia banyak di antara mereka juga kerap menyebut Amerika di balik krisis yang terjadi di dunia Islam. Sebut saja Amin Rais, Hasyim Muzadi dan Gus Dur yang pluralis sekalipun, kerap menyebut Barat di balik konflik Timur Tengah. Pandangan semacam ini yang “mengkambing-hitamkan” pihak lain terkait masalah sendiri sering disebut sebagai pandangan yang didasarkan pada  teori konspirasi. Teori ini meyakini bahwa ada agenda terselubung di balik dari suatu kejadian. Artinya bahwa segala sesuatu terjadi bukan tanpa skenario, tetapi selalu dengan skenario yang dibuat oleh agen tertentu untuk kepentingan tertentu. Dalam istilah lain kejadian ini terjadi by design bukan by accident atau sesuatu terjadi lantaran ada yang mendisain bukan semata karena kecelakaan.

KH Hasyim Muzadi dalam pembahasan tentang kondisi sosial-politik umat Islam sering menggunakan teori konspirasi. Seperti tatkala melihat realitas kemenangan partai yang tidak jelas basis sejarahnya namun memperoleh suara yang signifikan, mantan ketua PBNU itu menyatakan bahwa ada sesuatu di balik kemenangan partai yang baru muncul dan langsung menang itu. Sementara  partai yang punya akar rumput dan akar sejarah justru dapat suara yang tidak signifikan, bagi beliau hal ini tidak rasional dan mesti by design.

Teori konspirasi memang kerap digunakan untuk menjawab sesuatu yang tidak terungkap secara nyata pelaku di balik sebuah tragedi atau sebuah keganjilan. Karena tidak mudah mengungkap dalangnya, maka orang kemudian melakukan perkiraan-perkiraan yang itu sah-sah saja. Sebab secara ilmiyah kesimpulan yang benar selalu berawal dari perkiraan. Ada tragedi besar di Amerika di mana pelakunya hingga kini tidak  terungkap. Tragedi tersebut adalah pembunuhan Abraham Lincoln dan John F. Kennedy. Sekaliber Amerika dengan sense sekuriti yang tinggi, ternyata tidak mampu mengungkap siapa pembunuh dari presiden mereka. Kegagalan mengungkap kasus terbesar dalam sejarah ini kemudian menimbulkan berbagai pendapat yang berdasar pada teori konspirasi.

Mencoba menelisik lebih jauh tentang teori konspirasi, maka di sana ada beberapa macam konspirasi: global, regional dan lokal. Konspirasi global adalah konspirasi yang menggunakan jaringan internasional. Di mana dalang di balik kejadian memeliki agen-agen yang tersebar di beberapa negara yang suatu saat digunakan untuk kepentingan tertentu. Seperti berdirinya negara Israel adalah konspirasi internasional yang melibatkan agen Yahudi di mana pun. Konspirasi regional adalah yang terjadi di tingkat nasional seperti yang terjadi dalam rangka penjatuhan pimpinan negara atau penggalangan kekuatan untuk tujuan ambisi politik kelompok tertentu. Sedangkan konspirasi lokal adalah yang digunakan untuk kepentingan event sesaat.

Ada beberapasisi positif dan negatif dari kecenderungan penggunaan teori konspirasi dalam menganalisa krisis khususnya yang terjadi di dunia Islam. Sisi positifnya adalah hal ini mengacu pada realitas bahwa banyak manusia tidak tulus dalam perbuatannya. Mereka yang tidak tulus selalu menyimpan tujuan tertentu di balik yang nampak. Apalagi untuk kepentingan orang banyak seringkali ketulusan itu sulit diterima. Sebagai contoh: berebut itu tidak baik; tapi kalau berebut untuk kepentingan nasional, itu baik; berkelahi itu dilarang, tapi kalau untuk membela negara itu lain lagi. Dari sini maka kadang tindakan yang tidak boleh menjadi boleh kalau untuk kepentingan orang banyak, apalagi dalam konteks persaingan antar bangsa dan negara. Adanya lembaga intelijen negara menunjukkan, bahwa semua negara memiliki konspirasi untuk memata-matai negara lain. Dari sini maka penggunaan teori konspirasi bernilai positif agar kita hati-hati dan tidak terjebak pada skenario orang lain apalagi lawan.

Adapun sisi negatifnya adalah, bahwa hal itu akan menjadikan ummat Islam lalai terhadap kekurangan dirinya. Orang juga menjadi tidak pernah mengakui kesalahan dirinya karena sibuk menyalahkan orang lain yang itu belum pasti dia penyebabnya. Pada tataran tertentu, di mana penggunaan teori konspirasi berlebihan, maka hal itu akan menimbulkan masalah ketidakpercayaan yang tinggi antara satu dengan yang lain. Padahal dalam pergaulan pada tingkatan apa pun dibutuhkan kepercayaan satu sama lain.

Krisis multi dimensional yang menerpa umat Islam di dunia memang tidaklah mudah bisa diatasi. Tapi jikalau dibandingkan dengan kita mengkambinghitamkan George Shoros seumpama (yang mengakibatkan krisis moneter di Indonesia), maka hal itu tidak akan merubah situasi menjadi lebih baik. Kalau memang George Shoros itu musuh, maka sangat wajar kalau dia mau merusak lawannya. Apalagi kalau lawannya memang lawan yang lemah. Jadi yang menjadi permasalahan sebetulnya bukan pada lawan tapi pada diri sendiri yang mudah diserang. Dengan demikian penggunaan teori konspirasi justru membuat ummat Islam tidak instropeksi diri. Padahal semua yang terjadi adalah tanggung jawab masing-masing. Dan bahwa semua musibah terjadi lantaran ulah tanganmu sendiri (fabima kasabat aidikum). Dari sini maka ummat Islam harus lebih mengedepankan evaluasi dan penguatan diri dari pada mencari dalang dari pihak lain.

Kalau memang benar dalang di balik krisis Timur Tengah yang berkepanjangan adalah Amerika, maka betapa ‘bodohnya’ ummat Islam mau diadu dan diatur oleh skenario mereka. Atau jangan-jangan karena umat Islam sendiri yang mudah bertikai sehingga tanpa skenario luar pun, mereka tetap bertikai. Perlu diketahui bahwa kepentingan Barat secara umum adalah kepentingan materi. Mereka tidak melihat warna baju seseorang tetapi yang dilihat adalah seberapa banyak uang yang dibawa oleh orang itu? Dari sini sebenarnya masalah perbedaan latarbelakang agama dan ideologi, bukanlah sesuatu yang penting bagi mereka. Buktinya Arab Saudi yang konservatif saja menjadi sekutu terdekat Amerika di kawasan. Apalagi orang Barat secara umum tidak percaya agama; berbeda dengan orang Islam yang rata-rata lebih taat beragama dibandingkan mereka. Maka melihat Barat dengan kacamata konflik peradabannya Samuel Huntington adalah tidak tepat. Yang tepat adalah bahwa kepentingan ekonomilah yang menjadi medan pertarungan global saat ini.

Siapa yang menguasai perdagangan dan industri dialah yang menang. Cina telah membuktikan hal itu; tinggal ummat Islam bagaimana? Apa masih akan berperang terus? Ya perang aja biar pabrik senjata yang untung! Berarti Barat donk yang sengaja menciptakan perang?! Ya kamunya yang jangan berperang biar senjatanya gak laku, kok yang jualan yang disalahin!

Rate this item
(0 votes)

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Lintas Jatim merupakan portal berita yang menyajikan berbagai informasi aktual seputar peristiwa atau kegiatan yang ada di Jawa Timur.

10523401
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
2644
9102
11746
10318759
403131
525745
10523401
Your IP: 34.237.76.91
2019-09-23 10:11