IPNU dan Tantangan Beragama Generasi Milenial, Refleksi Hari Lahir IPNU ke-66

27 Feb 2020
113 times

Oleh:

Imam Fadlli
(Alumni IPNU & Anggota DPRD Kab. Lamongan Fraksi Gerindra)

Hari ini, 24 Februari 2020, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) genap berusia 66 tahun, suatu usia yang sudah sangat matang bagi organisasi yang berbasis pelajar, santri dan mahasiswa Nahdlatul Ulama ini. Diusia ke-66 ini berarti IPNU telah melampaui berbagai zamannya, dari zaman orde baru, orde lama, sampai orde reformasi.

Dalam perjalan panjangnya, IPNU tidak pernah absen memberikan kontribusi untuk pengembangan sumberdaya manusia pelajar di Indonesia, program-program di semua tingkatan dari Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Cabang, Pimpinan Anak Cabang, Pimpinan Ranting hingga Pimpinan Komisariat diarahkan sesuai dengan tujuan IPNU yakni terbentuknya pelajar bangsa yang bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, berakhlak mulia dan berwawasan kebangsaan serta bertanggungjawab atas tegak dan terlaksananya ajaran islam menurut faham Ahlussunnah  wal jamaah yang beradasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Sesuai dengan mandat dan tujuannya, IPNU yang beranggotakan pelajar dengan rentang usia 12 sampai 27 tahun punya tugas yang berat karena pada usia tersebut merupakan usia yang sangat penting dalam tahapan pembentukan karakter seseorang. Pada usia 13 tahun ke atas adalah tahapann membentuk sikap bermasyarakat. Tahapan ini melatih kesiapan bergaul di masyarakat berbekal pada pengalaman sebelumnya. Bila mampu dilaksanakan dengan baik, maka pada usia yang selanjutnya hanya diperlukan penyempurnaan dan pengembangan secukupnya. (Miya Nur Andina dalam Chacha.blog: 2013

Pendek kata, anggota IPNU merupakan generasi millenial, dalam catatan para pakar demografi, Generasi Millenial adalah mereka yang lahir pada rentang tahun 1980 hingga tahun 2000. Artinya bisa dikatakan bahwa Generasi Millenial ialah generasi muda yang saat berusia 15-40 tahun. Di Indonesia, proporsi generasi millenial sekitar 34,45 persen, lebih dari sepertiga jumlah penduduk negeri ini.

Dari kajian beberapa peneliti, generasi millenial cenderung unik dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Keunikannya terletak pada penggunaan teknologi dan budaya. Karenanya, millenial seakan tidak bisa lepas dari internet, hiburan (entertainment), serta traveling. Millenial yang sangat kreatif dan percaya diri, lebih suka bekerja keras dalam bidang usaha yang digeluti, untuk kemudian dinikmati dengan perjalanan panjang dan pengalaman.

Dalam kecenderungam beragama juga demkian, millenial lebih suka belajar agama dari internet dari pada berguru kepada ustadz atau guru di madrasah dan pondok pesantren. selama ini kalangan generasi muda lebih ’nyaman’ mencari pembelajaraan keagamaan melalui media daring dan model pendidikan di luar kelas. Bahkan, sebagian kalangan muda lebih mengidolakan atau mempercayai soal keagamaan yang dilontarkan dari seorang ustaz “artis” saat melakukan tausiyah.

Hasil survei Alvara Research Center yang dipublikasikan pada Oktober 2018 mengungkap sebanyak 40,9 persen responden generasi milenial muslim Indonesia berorientasi nasionalis-religius. Sedangkan yang berorientasi nasionalis sebesar 35,8 persen. Sementara milenial muslim yang berorientasi religius berjumlah 23,3 persen.

Alvara juga sebelumnya menyurvei milenial muslim Indonesia pada Juli 2018. Hasilnya, melalui analisis K-Mean Clustering dan Discriminant, mereka mengungkap orientasi milenial muslim Indonesia ke dalam tiga pola: nasionalis, nasionalis-religius, serta religius.

"Nasionalis" adalah muslim yang menganggap tidak boleh ada ada ideologi selain Pancasila di Indonesia. Mereka juga berpandangan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan syariat Islam dan dalam bermasyarakat harus memperhatikan norma dan adat yang berlaku. Kemudian mereka yang tergolong "nasionalis-religius oriented" memandang agama dan negara bisa saling melengkapi. Menurut mereka, Islam adalah agama yang cinta damai dan inklusif, namun penerapan perda syariah di Indonesia juga perlu didukung.

Sementara itu  para muslim yang "religius" memiliki kecenderungan untuk mendirikan negara Islam di Indonesia. Mereka berpandangan seharusnya seorang pemimpin dari berbagai tingkatan harus dari kalangan islam. Bahkan, mereka menolerir penggunaan kekerasan dalam menegakkan amar makruf nahi mungkar.

Dari survei tersebut, ada 23,3 persen yang mempunyai orientasi dan kecendurangan kepada negara berdasarkan agama masih tergolong sangat tinggi, sehingga inilah tugas IPNU, bersama seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama agar generasi millenial tidak menjadi generasi yang “kagetan” dan “gumunan” dalam beragama. Lebih lagi generasi millenial tidak menjadi generasi yang berada di “garis keras” dalam memahami serta berperilaku keagaaman dalam kehifupan sehari-hari baik dalam bermasyarakat maupun berbangsa dan bermegara.

Kegaiatan-kegiatan keagamaan di sekolah-sekolah dan kampus harus menjadi kawah candradimuka penyemaian bibit-bibit unggul bangsa dengan mengorientasikan semangat islam moderat, toleran, rahmatan lil alamin, dan semangat Hubbul Wathon Minal Iman.

Kader-kader IPNU yang “kebanyakan” berasal dari madrasah dan pesantrren juga harus masuk ke sekolah-sekolah negeri untuk menjadi mentor bagi kegiatan-kegiatan rohis di sekolah-sekolah. Tentunya dengan kemasan yang menarik dan tidak kaku. Dengan modal sumberdaya manusia millenial yang banyak dari jebolan pesantren, IPNU bisa menjadi garda depan dalam gerakan millenial moderat yang nasionalis dan religius.

Jadi bukan kemudian secara struktur di sekolah-sekolah negeri itu harus ada Komisariat sekolahnya, tapi bagaimana agar nilai-nilai yang di syi’arkan IPNU selama ini bisa diterima oleh mereka melalui kegiatan-kegiatan keagamaan, pengembangan skil, dan lain sebagianya.

Semoga diusia ke 66 ini, IPNU semakin jaya, dan bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara. Amin...

Rate this item
(1 Vote)

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Lintas Jatim merupakan portal berita yang menyajikan berbagai informasi aktual seputar peristiwa atau kegiatan yang ada di Jawa Timur.

14063339
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
4991
18511
23502
13810953
655919
666086
14063339
Your IP: 3.235.75.196
2020-03-30 06:33