Redaksi

Redaksi

Lintas Jatim merupakan salah satu portal berita di Jawa Timur yang menjadi rujukan masyarakat di Jawa Timur dan Indonesia. Informasi ter-Update serta penyajian yang mudah dipahami oleh semua kalangan.

Website URL: http://www.lintasjatim.com Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Lintasjatim.com, Surabaya - Waka Polri, Komjen Syafruddin memberikan komentar terkait isu yang terjadi di Jawa Barat maupun Jawa Timur belakangan ini.

Dari berbagai isu yang berkembang tersebut menurut Waka Polri dari 13 peristiwa yang terjadi di Jawa Barat, fakta kejadiannya hanya dua peristiwa, yang lain hoax.

Dan seperti halnya di Jawa Timur, tepatnya di Tuban, Lamongan dan Kediri, pelaku penyerangan juga teridentifikasi mengalami gangguan jiwa alias gila. "Polisi tidak cukup pada pelaku yang diduga gila, namun harus mencari siapa dalangnya. Siapa yang menyuruh, harus dicari secara tuntas," ujar Wakapolri, Rabu (21/2/2018).

Lebih lanjut Waka Polri menambahkan isu seperti ini mudah sekali dikelola, karena kemajuan ilmu dan tekhnologi yang berkembang cepat.

Untuk itu Wakapolri memohon pada alim ulama Jawa Timur untuk memberikan dukungan Polda Jatim.

"Pada alim ulama di Jawa Timur, saya titipkan Polda Jatim pada para kyai dan alim ulama di sini, tanpa ada dukungan dan doa dari ulama dan kyai Polri tidak ada apa-apanya. Karena Polri mempunyai keterbatasan dan harus melayani seluruh rakyat Indonesia.Kalau di Jawa Timur, ada 43 Juta jiwa," ujar Wakapolri.

Menurut Wakapolri, Polisi di Jawa Timur ini juga diayomi oleh kyai, begitu ada masalah para kyai turun sehingga ringan tugas polisi.

Seperti dikabarkan sebelumnya, ada tiga kasus penyerangan terhadap 3 Pesantren di Jawa Timur. Diantaranya, KH Hakam Mubarok, pengasuh Pondok Pesantren Karangasem, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, tiba-tiba diserang orang tak dikenal,  Minggu (18/2/2018).

Meski tak sampai terluka parah, putra KH Abdurrahman Syamsuri ini sampai jatuh tersungkur karena ulah pelakunya. Bagi penghuni lingkungan setempat, sosok pelaku benar-benar asing karena tak pernah tampak di sana.

Menurut saksi, orang asing ini tiba-tiba muncul dan duduk di pendopo Ponpes Karangasem dengan membawa makanan. Keberadaan pelaku yang sedang duduk-duduk sembari mengemil makanan yang dibawanya itu diketahui oleh Mubarok.

Pengasuh Ponpes Karangasem yang pernah menjabat sebagai Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lamongan ini kemudian menghampiri pelaku. Mubarok meminta agar pelaku pindah dan tidak duduk di Pendopo Ponpes.

"Maksud pak Kyai, diminta pindah agar pendopo tidak dikotori dengan makanan pelaku," kata salah satu saksi.

Setelah berhasil diamankan, orang gila tersebut diserahkan ke Polres Lamongan yang selanjutnya dibawa ke Polda Jatim untuk menjalani pemeriksaan kejiwaan.

Teror selanjutnya menimpa dua pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, KH Zainuddin Jazuli dan KH Nurul Huda Jazuli yang disatroni oleh orang tak dikenal dengan membawa pisau sambil berteriak tidak sopan.

Sebagaimana diberitakan Jawapos.com, Muhammad Abid Umar Faruq selaku cucu dari KH Zainuddin Jazuli yang kebetulan berada di lokasi. Mengatakan, orang tak dikenal tersebut datang dengan pakain kurang sopan dengan tujuan sowan kepada sejumlah pengasuh. Dengan berbagai pertimbangan termasuk keamanan para kiai, orang tersebut disarankan datang di lain waktu.

"Setelah diberitahu, orang itu jalan sambil meninggalkan area pondok sambil dibuntuti oleh keamanan. Salah satu teman keamanan itu melihat ada pisau," kata Gus Abid, Senin, (19/2) malam.

Berkat kesigapan petugas keamanan pondok, orang yang diyakini berpura-pura gila itu berhasil diamankan sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. petugas keamanan pondok pun langsung melakukan koordinasi dengan aparat kepolisian.

Gus Abid mengaku, hingga saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan oleh aparat kepolisian. Ia pun enggan berspekulasi motif yang dilakukan oleh orang tak dikenal tersebut.

Sekedar diketahui, peristiwa teror terkait keagamaan kerap terjadi akhir-akhir ini, khususnya kasus penganiayaan terhadap ulama, penyerangan tempat ibadah di beberapa daerah oleh orang tak dikenal. Sebelumnya, teror serupa juga terjadi terjadi di Tuban.

Lintasjatim.com, Surabaya - Aksi demo ratusan mahasiswa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di gedung DPRD Surabaya yang menolak revisi Undang-Undang nomor 17 tahun 2014, tentang UU MPR, DPR, DPD dan DPRD, (D3), berlangsung ricuh. Ratusan mahasiswa PMII terlibat bentrok dengan aparat kepolisian yang mengamankan jalannya aksi demo. 

Kerusuhan ini dipicu ketika mahasiswa memaksa masuk ke gedung dewan untuk meminta Ketua DPRD Surabaya, Armudji, menandatangani surat pernyataan penolakan pengesahan revisi UU nomor 17 tahun 2014 tentang UU MD3.

Aksi terobos yang hendak dilakukan oleh ratusan mahasiswa ini dihadang aparat kepolisian yang melakukan pengamanan. Aksi saling dorong, hingga bentrokan pun terjadi antara aparat kepolisian dengan mahasiswa yang berusaha masuk ke dalam gedung dewan. 

Sejumlah mahasiswa yang dianggap memprovokasi suasana pun diamankan oleh polisi. Melihat kawannya diamankan, aksi ratusan mahasiswa pun makin memanas dengan memblokir Jalan Raya Yos Sudarso yang berada di depan gedung dewan. Aksi blokir jalan dilakukan dengan aksi tidur di jalan, sebelum akhirnya berhasil dibubarkan polisi. 

Sebelum terjadi kerusuhan, aksi dari mahasiswa ini sempat ditemui oleh Ketua DPRD Surabaya, Armuji. Menanggapi aksi mahasiswa ini, politisi dari PDI Perjuangan ini sepakat dengan upaya menempuh jalur konstitusi dari elemen mahasiswa untuk menganulir revisi UU nomor 17 tahun 2014 tentang UU MD3. 

"Artinya apa yang dibahas oleh DPR RI yang digulirkan oleh beberapa elemen masyarakat komponen mahasiswa sudah di meja Mahkamah Konstitusi. Oleh karena itulah, kami mendukung langkah konstitusi yang dilakukan mahasiswa, di antaranya untuk bisa menganulir UU MD3," tutur Armudji. 

Dalam aksinya, mahasiswa menuntut beberapa poin, yakni meminta pemerintah menganulir UU nomor 17 tahun 2014, karena dianggap memberikan angin segar bagi DPR untuk bertindak sewenang-wenang, termasuk adanya hak imunitas DPR yang disebut dalam pasal 224 ayat 1 UU MD3. . 

"PMII Menuntut Revisi UU no 17 tahun 2014 ada 4 poin yang kita tuntut. Tuntutan kami menolak keras revisi UU no 17 tahun 2014, tentang MD3 meminta presiden mengeluarkan perpu badan legislatif," kata Fahrurrozi, Ketua Umum PMII Cabang Surabaya.

Akibat kerusuhan dalam aksi demo ini, sempat terjadi kemacetan kurang lebih 1 jam di Jalan Yos Sudarso Surabaya. Setelah dilakukan perundingan dengan pihak kepolisian, ratusan mahasiswa akhirnya membubarkan diri.

Lintasjatim.com, Surabaya - Naluri calon gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai bapak tak bisa berbohong saat berhadapan dengan balita. Ketika rombongan perjalanan yang dia tumpangi melintasi sebuah posyandu di Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan, Gus Ipul spontan turun.

"Saya tertarik melihat anak-anak kecil yang lucu-lucu dan sehat-sehat ini," kata keponakan Gus Dur tersebut. 

Wakil gubernur Jatim dua periode itu lantas menyapa salah seorang ibu kemudian menggendong anak yang tidur di pangkuannya. "Anaknya nggak bangun. Berarti bagus saya menggendongnya," ujar Gus Ipul sambil tersenyum. 

Gus Ipul mengatakan, Bangkalan termasuk salah satu kabupaten di Pulau Madura yang memiliki angka kematian ibu dan anak (AKI/AKB) yang rendah. Data dari Kementerian Kesehatan pada 2015 lalu menunjukkan bahwa AKI kabupaten di ujung barat Pulau Madura itu tak sampai 80 kematian dalam 100.000 kelahiran. Jauh di bawah rata-rata angka provinsi Jatim sebesar 89,60 kematian per 100.000 kelahiran.

Untuk angka riil di lapangan, jumlah kematian Ibu di Kabupaten Bangkalan pada tahun 2015 terdapat 13 kasus. Sedangkan angka kematian bayi sebanyak 16 kasus. Padahal, pada 2013 dan 2014 angka kematian bayi di Bangkalan di atas 100. Namun, di tahun 2015 bisa langsung drop hanya 16 kasus. "Ini yang menarik dan membahagiakan dari Bangkalan," jelas Gus Ipul. 

Sepanjang masa jabatannya selama dua periode bersama Pakde Karwo, Gus Ipul berhasil menurunkan angka kematian bayi. Dari 32,93 kematian per 1.000 kelahiran pada 2007 jadi 23,60 kematian per 1.000 kelahiran pada 2015. "Masih ada yang harus diselesaikan. Tapi, tren-nya terus menurun. Tren ini yang akan kita jaga sampai benar-benar nol kematian bayi," tegasnya. 

Tak hanya itu, angka bayi gizi buruk juga turun. Bahkan sudah di bawah 1 persen. Jika pada 2014 balita gizi buruk mencapai 2 persen, kini tinggal 0,8 persen. "Targetnya, tak ada lagi bayi gizi buruk!" tukasnya. 

Gus Ipul mengatakan, capaian-capaian itu berhasil, salah satunya karena peran kader posyandu. Karena itu, dia berkomitmen untuk menambah insentif buat mereka apabila terpilih nanti. Selama ini, para kader posyandu sejatinya mendapat honor dari kabupaten, tapi jumlahnya masih kecil. 

"Peran mereka akan ditingkatkan tapi kompensasinya juga kita tambah. Provinsi akan ikut memberikan insentif untuk para kader posyandu," katanya. 

Ibu hamil memang akan menjadi salah satu fokus Gus Ipul dan calon wakil gubernurnya, Puti Guntur Soekarno. Akan ada program Rawat Ibu Hamil, di mana penyebab kematian pada ibu hamil seperti preklampsia dan lain sebagainya akan ditekan. 

"Kalau sudah lahir, nanti bisa didekati juga dengan program PKH Super, di mana para bayi dari masyarakat miskin akan kita berikan pemenuhan gizi," pungkasnya.

Lintasjatim.com, Kediri - Cucu Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah, Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri KH Zainuddin Djazuli, Gus Abid Umar menjelaskan soal kabar teror dan ancaman penyerangan terhadap kiai dan masayyih di pondok. 

"Yang beredar di whatsapp grup itu, kita perlu klarifikasi bahwasanya itu tidak benar. Apalagi saya tadi sempet baca juga ada yang masalah PKI (Partai Komunis Indonesia) dan yang lain sebagainya itu semua saya nyatakan tidak benar," kata Gus Abid Umar yang juga menjabat sebagai Sekretaris PW GP Ansor Jatim ketika ditemui di Markas Polresta Kediri, Selasa (20/2/2018) dini hari.

Dia mengakui, menerima broadcas di grup whatsapp terkait pengancaman dan teror tersebut. Dimana dalam pesan grup itu ada beberapa santri dibantu anggota Polsek Mojo mengamankan seorang pria mencurigakan.

"Memang sempat ada teror ke salah satu keluarga di Pondok Pesantren Ploso, tapi sampai sekarang kita masih mendalami. Bahkan yang dibilang ada tiga tersangka dan satu tersangka sudah ketemu itu juga tidak bisa dipastikan," papar Gus Abid.

Gus Abid menambahkan, pihak pondok bersama kepolisian memang mengamankan seorang yang mencurigakan. Namun orang tersebut bukanlah yang disangkakakan. Dengan kata lain, tiga orang yang disangkakan belum ada.

"Jadi tiga orang yang disangkakan memang belum ada. Ada satu orang diamankan, kini masih dalam pendalaman pihak kepolisian. Kami menyerahkan semuanya ke pihak kepolisian," ucapnya.

Gus Abid mengimbau semuanya untuk tetap waspada. Namun untuk meredam kepanikan, pihaknya menyampaikan apabila berita peneroran dan sebagainya tidaklah benar. "Saya harapkan bijaklah dalam mensharing berita yang belum jelas kebenarannya," pintanya.

Kapolresta Kediri, AKBP Anthon Haryadi mengaku masih menyelidiki. "Saya minta semua pihak tenang. Kita masih lakukan penyelidikan dan pendalaman. Jadi tolong jangan mudah terpengaruh dengan berita-berita yang sudah tersebar. Insyaallah Kota Kediri masih kondusif," ujar AKBP Anthon.

Polresta Kediri selalu berjaga. Pihak keamanan ponpes juga berjaga. Antara ponpes dan kepolisian terus berkomunikasi. Pihaknya berpesan supaya tidak terprovokasi oleh berita-berita yang belum tentu kebenarannya.

"Yang pasti memang ada yang kita amankan sekarang satu orang, tapi masih kita dalami. Masih kita bidik latar belakangnya dan sebagainya. Untuk identitas satu orang yang kita amankan, belum bisa saya sampaikan. Itu masih proses penyelidikan dan pendalaman," tutupnya. 

Source : beritajatim.com

 

Setelah lelah menasehati anaknya agar tidak terus-terusan bermain game, seorang ibu asal Jepang menerapkan metode unik "kontrol orangtua" padanya.

Meski smartphone atau gadget lain biasanya sudah dilengkapi fitur pengawasan orangtua, tapi anak-anak sekarang yang lihai teknologi bisa dengan mudah membobolnya.

Namun, pengguna Twitter @sasamipicata langsung syok saat ibunya benar-benar mengunci game console dan smartphone-nya.

Untuk mencegah @sasamipicata mengisi daya gadgetnya, sang ibu mengunci charger gadget tersebut pada gembok.

Menurut Soranews24, anak laki-laki dengan frustasinya membagikan foto itu ke Twitter.

Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengisi daya gadgetnya karena kunci gembok pasti dipegang sang ibu.

Tapi tak hanya itu, ibu @sasamipicata juga melakukan hal yang sama pada charger iPhone-nya.

Cuitannya telah di-RT ribuan kali oleh pengguna Twitter, kebanyakan dari mereka pun menyampaikan simpatinya.

"Seperti kekerasan emosional," ungkap salah satu netizen.

Beberapa pengguna Twitter lain juga khawatir orang tua mereka mungkin akan meniru cara ibu @sasamipicata.

"Aku harus lebih waspada sekarang."

"Mungkin aku akan beli charger cadangan, untuk berjaga-jaga."

 

Tribunnews.com

Lintasjatim.com, Wonogiri - Usaha seorang gadis cantik lulusan SMP asal Desa Conto, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, berjualan jamu gendong di Bogor menjadi viral di dunia maya.

Pratiwi Safarina (16), gadis manis asal bumi gaplek itu memilih berjualan jamu gendong keliling di Bogor karena orangtuanya tak memiliki biaya untuk menyekolahkannya ke SMA.

"Setelah saya lulus SMP, saya ikut orangtua dan kakak saya di Bogor jual jamu gendong keliling di Jonggol, Bogor," ujar Pratiwi saat dihubungi Kompas.com, Rabu (14/2/2018).

Pratiwi mengungkapkan, meski masih berusia belia, dia tidak malu berjualan jamu gendong keliling. Baginya, berjualan jamu gendong menjadi salah satu mencari rezeki yang berkah dan halal.

"Saya tidak malu berjualan jamu gendong keliling. Kan saya tidak mencuri," ungkap Pratiwi.

Menurut Pratiwi, dia pertama kali berjualan jamu gendong sejak enam bulan lalu. Saat pertama berjualan, ia merasa waswas. Namun, kondisi itu tak berlangsung lama.

Pada awal berjualan, kata Pratiwi, saudaranya mengikutinya selama tiga hari. Selanjutnya, ia berjualan sendiri jamu gendong keliling wilayah Jonggol, Bogor.

"Saya berangkat siang karena pagi masih jaga anak kakak saya. Berangkat naik angkutan umum, turun di sekolah, lalu jalan keliling berjualan jamu gendong," ujar Pratiwi.

Dia mengaku tertarik berjualan jamu gendong setelah melihat rekan-rekanya mendapatkan penghasilan dari hasil berjualan jamu. Ia pun meracik jamu tradisional, mulai dari beras kencur hingga kunir, sendiri alias tanpa bantuan orangtuanya.

"Setelah setahun tinggal di Bogor, saya melihat teman-teman berjualan jamu kok enak. Saya juga ingin memiliki pengalaman bekerja sendiri sebelum nanti menikah.

Setelah enam bulan berjualan, gadis kelahiran Wonogiri, 2 Mei 2001, ini kini sudah mendapatkan banyak langganan. Caranya berjualan yang sopan dan supel menjadikan banyak orang membeli jamu gendongnya.

"Terkadang jamu gendong jualan saya sampai habis. Satu hari bisa dapatkan Rp 100.000," kata Pratiwi.

Berjualan jamu gendong tak hanya mendapatkan sukanya saja, acap kali ia harus menghadapi pembelinya yang usil. Namun, kondisi itu tak membuatnya takut berjualan.

"Hanya digoda-goda saja. Tidak sampai ke fisik," ucap Pratiwi.

Saat ditanya alasan tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan ke SMA, Pratiwi mengaku orangtuanya tak memiliki biaya sekolah. Sebab, penghasilan bapaknya sebagai penjual mainan dan ibunya penjual jamu gendong hanya pas-pasan.

Untuk menggapai cita-citanya, Pratiwi tak akan berhenti berjualan jamu gendong. Putri kedua pasangan Mariman (42) dan Marni (37) itu ingin membuka usaha kios bersama pria idamannya di kampung halaman bila modal sudah terkumpul.

Sejak viral satu pekan terakhir, foto Pratiwi berjualan jamu gendong mendapatkan ribuan tanda suka dari netizen (warganet). Tak hanya itu, ribuan komentar juga datang dari warganet setelah foto gadis asal Wonogiri itu diunggah di medsos.

Komentar bermunculan, ada yang mendukung Pratiwi berjualan jamu hingga mengagumi kecantikannya.

"Subhanalloh cantik banget tukang jamunya. Saya juga tukang jamu," ujar akun Darni Ani dalam komentarnya di grup Kabar Wonogiri.

Source : kompas.com

Lintasjatim.com, Surabaya - Menenteng jaket dan helm dari area parkir ke supermarket atau restoran kerap membuat perasaan tak nyaman. Namun meningggalkan perlengkapan tersebut di sepeda motor tanpa pengamanan berarti memberi kesempatan tangan usil mengambi alih perlengkapan bersepeda motor  Anda. Berikut ini cara menjaga jaket dan helm Anda  dengan kunci sederhana buatan sendiri seperti yang dikutip dalam motorcyclistonline.com. Hanya butuh waktu 10 menit untuk membuatnya.

Langkah 1

Bahan dan alat yang dibutuhkan meliputi: 2 meter kabel baja berlapis vinil diameter 1/16 inci, aluminium ferrules 1/16 inci sebagai klem dan kunci gembok kecil. Semua bahan itu bisa dibeli di toko sarana pertukangan. Tingkat keamanan bisa ditambah dengan cara memperbesar ukuran kabel dan ukuran kunci gembok.

Langkah 2

Kupas lapisan vinil yang terdapat di ujung kabel baja. Panjang pengupasan 5 inci. Selain kabel baja berlapis vinil, Anda bisa menggunakan sling baja bekas rem atau kopling. Tapi kabel telanjang seperti itu berisiko melukai cat motor. Di samping itu, kabel telanjang tidak terlihat menyolok sehingga tidak sekeren kabel berlapis vinil yang berwarna-warni. Proses pengupasan lapisan vinil dilakukan dengan bantuan tang, atau bisa pula dengan pisau cutter.

Langkah 3

Masukkan ujung kabel baja yang sudah dikupas ke dalam lubang aluminium ferrules. Bentuk lengkungan dengan kabel baja itu lalu ujungnya  dimasukkan kembali ke dalam aluminium ferrules. Pastikan ujung kabel tidak keluar dari aluminium  ferrules. Sebab ujung kabel bisa terurai menjadi serat-serat baja kecil dan berpotensi melukai tangan Anda  atau menggores cat  motor.

Langkah 4

Pres klem aluminium ferrules sehingga kawat baja bisa terkunci erat. Jika Anda tidak memiliki catok, proses pengepresan bisa menggunakan tang.

Langkah 5

Ulangi proses tersebut untuk ujung kawat yang lain. Jika sudah selesai, berarti kabel pengaman itu siap digunakan.Lilitkan kabel itu di bagian lengan jaket, serta bagian dagu helm, kaitkan dengan bagian setang atau garpu motor Bro Sist, kemudian kunci kedua ujungnya dengan gembok. Nah, sekarang Anda bisa lebih tenang berbelanja atau sekadar nongkrong di restoran.

Source : jawapos.com

 

Lintasjatim.com, Jakarta - Agar percaya diri, tidak jenuh, merasa kuat dan tegar jadi faktorbanyak artis tersandung narkoba. BNN mengusulkan treatment khusus untuk mereka yang sedang menggunakan bahkan kecanduan.

Sebagaimana diberitakan oleh Jawapos.com, Roger Danuarta tak ingat persis sudah berapa kali dimintai bantuan teman yang ingin bebas dari jerat narkoba. Sebab, aktor yang populer lewat sinetron Siapa Takut Jatuh Cinta itu dianggap berhasil melepaskan diri dari barang haram tersebut "Ibaratnya, saya sodorin kaca pembesar untuk menariknya ke luar," ujar Roger kepada Jawa Pos.

Roger tersandung kasus narkoba pada 2014. Pria kelahiran 20 Mei 1982 tersebut harus menjalani rehabilitasi selama 7 bulan hingga Februari 2015. 

Tentu masa-masa yang tak mudah. Tapi, Roger bukan satu-satunya figur dengan latar belakang dunia hiburan yang mengalami itu. 

Termasuk Dhawiya Zaida, putri pedangdut Elvy Sukaesih yang dicokok pada Jumat malam lalu (16/2), ada 16 selebritas yang berurusan dengan polisi karena narkoba sejak 2017. Sementara itu, secara keseluruhan, Polda Metro Jaya mencatat ada kenaikan kasus narkoba pada 2016-2017. Pada 2016, ada 5.563 kasus, sedangkan pada 2017 ada 6.096 perkara.

Tentu saja jumlah pelaku narkoba dari nonartis lebih besar. Tapi, besarnya eksposur yang bisa mengancam karir dan sumber pendapatan utama seharusnya membuat para pesohor mengambil pelajaran dari rekan-rekan mereka yang terjerembap.

Namun, yang terjadi tidak demikian. Tahun ini baru seumur jagung, sudah empat artis ditangkap. Penangkapan tiga yang ter­akhir, Fachri Albar, Roro Fitria, dan Dhawiya, bahkan hanya berselang hari.

Pertanyaannya tentu, mengapa para selebritas rentan terhadap penyalahgunaan narkoba? Tekanan pekerjaan? Atau pengaruh lingkungan?

Menurut Roger tidak bisa dipukul rata. Yang pasti, kurangnya pemahaman terhadap bahaya narkoba menjadi salah satu fak­tor pemicu. 

Namun, berdasar catatan Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombespol Argo Yuwono, kebanyakan artis yang tersandung narkoba biasanya menyebutkan alasan stamina. "Namun, bagaimanapun, itu tidak dibenarkan. Ada juga yang beralasan untuk kenyamanan," tuturnya.

Sementara itu, kriminolog Prof Bambang Widodo Umar melihat, fenomena banyaknya artis yang terjerat narkoba cenderung dipicu masalah psikologis. Yakni, supaya percaya diri, menghilangkan kejenuhan, serta merasa kuat dan tegar. 

Yang lebih berbahaya tentu jika artis yang terjerat narkoba sudah berubah status. Dari pemakai menjadi pengedar. 

Indikasi itu sempat ditanyakan kepada polisi dalam kasus Dhawiya. Sebab, saat penggerebekan, polisi menyita timbangan dan puluhan plastik klip berukuran sekitar 5 x 3 cm. 

Tapi, Kasubdit I Ditresnarkoba AKBP Jean Calvijn Simanjutak menyatakan, pihaknya belum mengarah ke sana. "Yang penting, kami fokus dulu mengejar siapa yang memasok mereka ini. Sabar, biar penyidik bekerja dulu." 

Kepala Bagian Humas BNN Kombes Sulistiandriatmoko menyebutkan, masih banyak artis yang punya anggapan hukum yang keliru mengenai narkoba. Kalaupun tertangkap, hanya direhabilitasi. Kalaupun dibui, tidak terlalu lama.

Anggapan itu jelas keliru. Pria yang akrab dipanggil Sulis itu menjelaskan, bisa saja hukuman lebih dari anggapan mereka. 

Sulis juga menganggap, opsi rehabilitasi kurang cocok diterapkan terhadap kalangan selebritas. Perlu ada treatment khusus. "Treatment itu dapat berupa kerja sosial atau sanksi sosial lainnya," terangnya

Di samping itu, upaya pencegahan dan penindakan tidak boleh kendur. Sebab, kata Sulis, jaringan bandar dan pengedar narkotika sudah masuk ke berbagai lapisan komunitas artis.

Source : jawapos.com

Lintasjatim.com, Surabaya - Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Provinsi Jawa Timur, menggelar acara deklarasi kampanye damai Pemilu Kepala Daerah, Gubernur dan Wakil Gubernur gubernur Jatim, Minggu (18/2/2018). 

Pendukung pasangan calon nomor urut satu Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak sangat antusias mendukung suksesnya deklarasi damai ini.

Kubu Khofifah-Emil Dardak mengawali deklarasi damai ini dengan menyapa warga Surabaya di Jalan Diponegoro (depan KBS). 

Selain Partai pengusung dan pendukung, relawan maupun simpatisan, nampak terlihat penyanyi dangdut asal Banyuwangi jebolan ajang  pencarian bakat salah satu televisi swasta Danang ikut mengantarkan paslon ini menuju Giant Maspion Square lokasi deklarasi.  

Emil Dardak tak menyangka antusias pendukungnya sangat luar biasa mengantarkan dirinya bersama calon Gubernurnya Kofifah Indar Parawansa menuju halaman Maspion Square.

Dituturkan olehnya, "ini sangat luar biasa, saya dibuat terharu untuk kedua kalinya. Setelah luar biasa mengantarkan kami mendaftarkan diri ke KPUD,  kali ini terjadi hal yang sama," ungkapnya.

Bupati non aktif Kabupaten Trenggalek ini menghimbau kepada para relawan dan pendukungnya untuk ikut menjaga kedamaian dalam Pilkada ini, jangan mudah marah dan cepat terprofokasi demi terciptanya Provinsi Jawa Timur yang aman dan sejahtera, tegasnya.

Dalam deklarasi ini pasangan nomor urut satu Khofifah-Emil datang lebih awal.

Lintasjatim.com, Blitar - Kisah pilu seorang nenek dialami oleh Surip, wanita asal Desa Wonodadi, Rt 01/ Rw 01, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, yang memilih tinggal di rumah tak layak huni, lantaran tak ingin membebani anaknya.

Kisah nenek Surip dibagikan oleh pemilik akun Instagram @Andi_kuswoyo, Jumat (16/2) lalu. Dalam unggahannya, tampak Surip sedang duduk di atas tempat tidurnya, yang terbuat dari bambu dan terlihat juga ia yang sedang memasak nasi menggunakan tungku dan kayu bakar.

Saat dikonfirmasi kumparan (kumparan.com), Sabtu (17/2), Andi mengatakan, unggahannya itu ia kutip dari temannya yang bernama Arif Witanto.

kumparan kemudian menghubungi Arif, ia mengatakan telah mengunjungi Nenek Surip pada Selasa (13/2) lalu, bersama kawan komunitas sosialnya. Meski memiliki seorang anak, nenek berusia sekitar di atas 60 tahun itu tetap memilih tinggal sendirian di rumahnya.

"Dia punya anak satu, tapi tidak serumah. Anaknya beda desa dan kondisinya juga bukan orang kaya. Kadang nengokin Nenek Surip, sambil patungan uang buat nebus beras rastra. Kalau anaknya ada uang, berasnya ditebusin, begitu kata Nenek Surip," kata Arif Witanto saat dihubungi kumparan, Sabtu (17/2).

Tempat tinggal Nenek Surip jauh dari kata layak, ia tidur hanya beralaskan tikar dengan atap yang berlubang. Serta tak ada dinding yang melindunginya dari dinginnya hujan dan panasnya terik matahari. Hanya plastik dan kain yang dipasang mengelilingi rumah, seolah menjadi dinding dengan harapan angin tidak bisa menerobos masuk.

Kelangsungan hidup Nenek Surip sangat bergantung dari pemberian tetangga. Ia sudah tak mampu lagi bekerja, lantaran usia yang senja membuatnya sering jatuh sakit. Arif juga mengungkapkan belum adanya bantuan dari pemerintah setempat untuk melakukan pembedahan rumah Nenek Surip.

"Kalau beras rastra dan Kartu Indonesia Sehat (KIS) sudah punya, tapi untuk bedah rumah belum ada," ujar pria asal Kediri itu.

Mengetahui kondisi tersebut, Arif dan komunitas sosialnya memutuskan untuk memberikan bantuan sembako dan uang tunai kepada Nenek Surip.

"Pertama sembako dan uang tunai, untuk bedah rumah masih dirundingkan," tutupnya.

Source : kumparan.com

Lintas Jatim merupakan portal berita yang menyajikan berbagai informasi aktual seputar peristiwa atau kegiatan yang ada di Jawa Timur.

Siapa calon Gubernur Jatim Favoritmu?
  • Votes: (0%)
  • Votes: (0%)
Total Votes:
First Vote:
Last Vote:
4495590
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
All days
2870
5757
43043
4319697
183488
4495590
Your IP: 54.90.119.59
2018-02-25 11:28